Obat antialergi memang tidak boleh dikonsumsi jangka panjang, alerginya harus di cek dan ditest supaya bisa segera diobati dan sembuh
Banyak yang tanya di kolom komentar: “Dok, obat CTM generik itu sebenarnya obat apa sih? Aman nggak kalau diminum terus-terusan buat gatal?” Jadi aku coba rangkum pengalaman dan penjelasan singkatku biar lebih kebayang. CTM (chlorphenamine maleate) termasuk obat antialergi generasi lama. Biasanya dipakai untuk mengatasi gatal-gatal di kulit, biduran, alergi dingin, sampai hidung meler karena alergi. Obat ini memang cukup manjur dan murah, tapi efek sampingnya lumayan terasa: ngantuk berat, mulut kering, kadang bikin tenggorokan dan bibir terasa kering juga. Selain CTM, ada juga cetirizine dan loratadine yang sering diresepkan untuk alergi. Banyak orang yang bilang, “Apakah cetirizine sama dengan CTM?” Fungsinya mirip, sama-sama untuk alergi, tapi generasi obatnya beda. Cetirizine dan loratadine biasanya efek kantuknya lebih ringan dibanding CTM, tapi tetap bisa menyebabkan mulut kering (xerostomia), terutama kalau diminum rutin jangka panjang. Kenapa bisa mulut kering? Di rongga mulut kita ada beberapa kelenjar ludah seperti parotid gland, submandibular gland, dan sublingual gland yang tugasnya produksi air liur. Air liur ini dialirkan melalui saluran kecil (duct) ke gigi, gusi, dan seluruh rongga mulut supaya mulut selalu basah secara alami. Obat anti alergi seperti CTM, cetirizine, dan loratadine punya efek antikolinergik residual yang menurunkan stimulus parasimpatis ke kelenjar saliva. Akhirnya produksi air liur berkurang dan mulut jadi kering. Kalau mulut kering terjadi terus-menerus karena obat antialergi dikonsumsi jangka panjang dan tanpa indikasi yang jelas, akibatnya bukan cuma nggak nyaman. Saliva yang sedikit bikin kemampuan mulut untuk menetralisir asam jadi menurun, sehingga gigi lebih mudah berlubang, bau mulut muncul, dan gusi bisa gampang bermasalah. Buat kamu yang sering minum obat tablet gatal-gatal pada kulit, seperti CTM generik, dextamine obat gatal, atau obat alergi lain (misalnya merek-merek seperti alleron, alerhis, prohistin, prosix cetirizine, lerzin cetirizine hydrochloride, indal CTN, sampai obat kombinasi seperti hufadexta-m yang kadang dipakai saat radang tenggorokan yang disertai reaksi alergi), tetap hati-hati. Baca aturan pakai, jangan diminum jangka panjang tanpa kontrol dokter, dan perhatikan kalau mulai muncul keluhan mulut kering. Kalau kamu ibu menyusui dan bertanya, “Cetirizine aman untuk ibu menyusui nggak?” sebaiknya konsultasikan langsung ke dokter atau dokter anak, karena kondisi tiap orang beda. Begitu juga obat lain seperti aciclovir (misalnya virless aciclovir), itu sebenarnya obat antivirus, bukan obat alergi, jadi penggunaannya harus sesuai resep dan indikasi. Intinya, kalau alergi kamu kambuh terus sampai butuh obat setiap hari, jangan hanya mengandalkan obat antialergi. Lebih baik cek penyebab alerginya, lakukan tes alergi bila perlu, dan diskusikan terapi jangka panjang yang lebih aman. Sambil itu, jaga kesehatan gigi dan mulut: cukup minum air, rutin sikat gigi, dan cek ke dokter gigi kalau mulai sering merasa mulut kering atau gigi gampang berlubang setelah minum obat alergi.




































