Dulu aku ga pernah kepikiran buat belajar bikin video; aku pikir jadi dokter gigi aja cukup. Lalu saat Abby lahir, karena aku takut Abby dibully, aku mulai belajar bikin video, untuk memperkenalkan anak special needs juga sama gemesnya.
Turns out life was taking a sharp turn last year; dan sekarang, dari sisa-sisa diriku yg udah hancur itu, Tuhan pakai dan bentuk kembali jadi sebuah bejana. Masih jauh dari kata baik, masih mencari arah, tapi selama Tuhan ingin pakai, disana aku akan berjalan :)
Selamanya, Ia Tuhan yg baik.
Sebagai seorang ibu, pengalaman belajar membuat video ternyata bukan hanya soal teknis, tapi juga sebuah proses penyembuhan dan penerimaan yang mendalam. Aku sendiri pernah merasakan ketakutan yang sama seperti yang dirasakan EllenOey—takut anak special needs akan mengalami bullying atau tidak diterima masyarakat. Dari pengalaman pribadi, belajar mengedit video menjadi sebuah cara ampuh untuk mengekspresikan cinta dan kebanggaan terhadap anak. Proses ini mengajarkan aku banyak hal, mulai dari bersabar, memahami nilai setiap momen kecil, hingga berani menunjukkan keindahan dalam perbedaan. Melihat hasil video yang sederhana namun penuh makna membuka mata banyak orang akan keunikan dan keistimewaan anak-anak special needs. Yang paling penting, perjalanan ini juga menjadi sarana untuk belajar melepaskan dan menggenggam sekaligus — sebuah dualitas emosi yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang tua dalam situasi serupa. Seperti kata dalam tulisan yang ter-ocr, "Belajar untuk menggenggam erat dan belajar untuk melepaskan." Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga dan membentuk daya resilien luar biasa. Tak jarang, proses ini menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu punya rencana baik dan memberikan kekuatan meski di saat-saat paling sulit dalam hidup. Dari sisa-sisa diri yang hancur, terbentuklah sebuah bejana yang siap dipakai untuk tujuan yang lebih berarti. Itulah yang aku rasakan ketika menekuni sebuah karya kreatif personal yang bermakna. Membagikan kisah melalui video juga membuka ruang untuk lebih banyak orang memahami dan menerima anak special needs dengan penuh cinta dan empati. Dengan cara ini, kita tidak hanya memperjuangkan anak kita saja, tapi juga mengedukasi masyarakat agar lebih inklusif dan suportif. Jadi, bagi siapa saja yang sedang bergulat dengan rasa takut, ketidakpastian, dan sedang mencari cara untuk mengekspresikan diri atau anak-anaknya, jangan ragu untuk mencoba belajar sesuatu yang baru — seperti membuat video. Pengalaman ini bisa menjadi sumber kebahagiaan, harapan, dan inspirasi tiada henti dalam kehidupan.




