Apapun alasannya, sholat harus tetap dilaksanakan✅
Jujur, dulu aku termasuk orang yang sering banget menyepelekan sholat fardu. Alasannya selalu sama: capek, ngantuk, lagi nggak mood, merasa belum baik, dan seribu alasan lainnya. Tapi makin ke sini, aku sadar bahwa kita salat fardu bertujuan untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menggugurkan kewajiban. Sholat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya itu sebenarnya jadi penanda ritme hidup kita sehari-hari. Misalnya Subuh, di saat mata masih berat dan badan pengin tetap rebahan, kalau kita tetap bangun dan melakukan sholat, itu bukan hal kecil. Itu latihan disiplin dan bukti bahwa kita berusaha taat walaupun terasa berat. Dari pengalamanku, hari yang diawali dengan Subuh tepat waktu biasanya terasa lebih terarah dan hati lebih tenang. Dhuhur dan Ashar sering datang di tengah kesibukan. Kadang kita lagi kerja, sekolah, atau di perjalanan. Di titik itu, kita salat fardu bertujuan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, mengingat bahwa ada tujuan akhir yang lebih penting dari sekadar target harian. Aku pernah berada di fase overthinking parah soal masa depan, tapi setiap berhenti untuk sholat Dhuhur dan Ashar, pikiran serasa di-reset. Masalah memang belum selesai, tapi dada terasa sedikit lebih lapang. Maghrib dan Isya biasanya jadi penutup aktivitas. Di dua waktu ini aku paling sering merasa berat: kadang sudah terlalu lelah atau sibuk main hp. Tapi saat memaksa diri untuk sholat, justru di situ kerasa banget Allah inginkan kebaikan untukmu. Rasa gelisah yang kebawa dari siang pelan-pelan turun. Sholat fardu seperti pengingat lembut bahwa kamu nggak sendirian, ada tempatmu bercerita dan berserah. Kalau direnungkan, kita salat fardu bertujuan untuk mendidik hati agar tetap dekat dengan Allah meski keadaan hidup naik-turun. Sholat itu jadi kesempatan lima kali sehari untuk evaluasi diri: sudah sejauh apa kita lalai, sekuat apa kita bertahan, dan seberapa jujur kita dalam meminta pertolongan. Bukan tentang seberapa panjang doa atau seberapa khusyuk menurut standar orang lain, tapi seberapa sungguh-sungguh kita mencoba. Yang paling menyentuh buatku adalah sadar bahwa tak semua orang diberi nikmat untuk terus mendekat. Ada yang hatinya sudah terlalu keras, ada yang tak lagi merasa bersalah saat meninggalkan sholat. Jadi kalau sekarang kamu masih punya rasa bersalah setiap kali telat atau meninggalkan sholat, sebenarnya itu tanda kasih sayang. Artinya Allah masih menjaga hati kamu. Pelan-pelan saja. Kalau masih sering ketiduran, mulai dari niat kuat untuk bangun Subuh. Kalau masih sering menunda, biasakan langsung ambil wudhu begitu masuk waktu. Kita salat fardu bertujuan untuk membentuk diri jadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih sadar bahwa hidup ini bukan cuma tentang dunia. Di balik rasa berat dan ngantuk itu, ada pintu-pintu kebaikan yang pelan-pelan Allah buka buat kita.


























benerrr... suka ngantukk klo nunggu isya.. 😄