Baca sampai akhir ya ✨
Jujur, dulu aku termasuk yang sering banget ngomong, "ya sudahlah, harta nggak dibawa mati" tiap kali capek kerja atau lihat orang lain lebih sukses. Rasanya kalimat itu bikin hati adem, seolah-olah pasrah itu terlihat bijak. Tapi makin ke sini, aku justru merasa kalimat itu sering disalahgunakan. Kalau dipikir pelan-pelan, yang bikin kalimat "harta tidak dibawa mati" itu bahaya adalah ketika kita pakai sebagai tameng kemalasan. Padahal hidup ini tetap butuh uang untuk banyak hal yang justru bernilai ibadah. Orang tua sakit butuh berobat, dan itu nggak cukup dengan doa aja, tetap perlu biaya. Anak pengin sekolah bagus, pengin ngaji, ikut kursus biar punya masa depan cerah, semua butuh uang. Aku pernah ada di fase di mana orang tua sakit, dan di situ kerasa banget rasanya nggak punya pegangan. Di situ aku baru paham, ucapan "yang penting hati baik" nggak cukup kalau kita nggak berusaha keras. Bekerja, cari rezeki halal, itu juga bentuk tanggung jawab dan kasih sayang ke keluarga. Bahkan untuk hal yang kelihatannya sederhana seperti sedekah dan amal jariyah, tetap butuh uang atau harta. Kita mau bantu saudara yang kesusahan, mau patungan bangun masjid, mau kirim makanan ke tetangga, semuanya pakai harta. Jadi aneh kalau kita bilang harta nggak penting sama sekali. Dan yang paling bikin aku mikir adalah bagian setelah kita mati. Kuburan yang layak, biaya pemakaman, tahlilan, bantu keluarga yang ditinggal supaya hidupnya nggak terlalu berat, semua masih berkaitan sama uang. Di titik ini aku sadar, yang sebenarnya salah bukan kalimat "harta nggak dibawa mati", tapi cara kita memaknainya. Menurutku sekarang, kalimat yang lebih pas itu: "Harta memang nggak dibawa mati, tapi manfaatnya bisa ikut sampai setelah kita mati." Kalau selama hidup kita bekerja keras, jadi kaya dengan cara yang baik, lalu pakai harta itu buat bahagiakan keluarga, bantu orang lain, dan buat amal jariyah, justru itu yang akan jadi bekal. Jadi, berhenti pakai alasan "harta nggak dibawa mati" cuma buat membenarkan rasa malas. Bukan berarti kita harus jadi budak uang, tapi kita juga nggak boleh anti sama uang. Yang penting hati tetap terikat sama Allah, bukan sama harta, tapi tangan kita tetap giat bekerja. Biar nanti kalau waktunya kita mati, kita pergi dengan tenang, dan keluarga yang ditinggalkan juga nggak terlalu kesusahan. Sekarang setiap kali capek kerja, aku ingat lagi: sebelum mati, kita masih butuh uang; setelah mati pun, keluarga kita masih butuh bekal. Bekerjalah keras, jadi kaya dengan cara yang baik, supaya hidup bermanfaat dan matimu dikenang karena kebaikan, bukan karena menyusahkan.































Lihat komentar lainnya