Pernah gak sih Kakak ngerasa gemas banget sama diri sendiri? Kayak... kita tuh sebenernya udah tau mana yang bener dan salah. Tau kalo nunda kerjaan bikin tugas numpuk, tau kalo
ngedumel pas capek itu gak baik, dan tau kalo malam-malam itu waktunya rehat, bukan malah overthinking. Tapi anehnya, kok tetep dilakuin ya? 😭
Jujur, aku juga sering banget kejebak di fase ini. Dulu aku pikir aku cuma kurang disiplin aja. Tapi setelah aku cari tau, ternyata konflik batin ini wajar banget. Namanya Akrasia, alias kondisi saat kita bertindak melawan apa yang sebenernya kita tau itu baik. Kalo dalam Islam, inilah yang disebut Mujahadatun Nafs—perjuangan terberat karena musuhnya adalah diri kita sendiri.
Tapi tenang aja Kak, kita gak sendirian kok. Psikolog Kristin Neff nemuin fakta menarik kalo orang yang paling berkembang itu bukan yang gak pernah gagal, tapi yang return faster. Artinya, seberapa cepat kita langsung sadar, minta maaf, tobat, dan balik lagi ke jalur yang bener setelah sempat 'khilaf'. Allah SWT pun gak nuntut kita langsung jadi sempurna, tapi melihat proses kita yang selalu mau kembali tiap kali tersandung.
Jadi, gak perlu terlalu keras dan menghakimi diri sendiri ya, Kak. Kita semua lagi sama-sama belajar dan berproses kok. 🤍
Ngomong-ngomong, kebiasaan kecil apa sih Kak yang belakangan ini lagi paling sering bikin Kakak gemas sama diri sendiri? Ngobrol santai di kolom komentar yuk👇🏼
... Baca selengkapnyaMenghadapi kebiasaan mengulang kesalahan walau sudah tahu dampaknya memang membuat frustrasi, tapi sebenarnya ini adalah pengalaman yang sangat umum dialami banyak orang. Dari pengalaman saya pribadi, perubahan tidak terjadi begitu saja setelah menyadari kesalahan, tapi butuh proses yang berulang dan penuh kesabaran.
Akrasia bukan hanya soal kurang disiplin atau malas, tapi terkadang otak kita terjebak antara keinginan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Misalnya, kita tahu menunda pekerjaan membuat tugas menumpuk dan menimbulkan stres, namun godaan untuk bersantai atau bermain ponsel terasa jauh lebih kuat saat itu juga.
Dalam hidup sehari-hari, saya mencoba menerapkan konsep "return faster" yang dibahas psikolog Kristin Neff, yakni segera menyadari kesalahan, mengintrospeksi diri, dan berusaha kembali ke jalur yang benar tanpa terlalu menghakimi diri sendiri. Karena dalam Islam pun, perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadatun nafs) adalah perjuangan berat tapi wajar.
Praktik yang saya lakukan meliputi membuat daftar prioritas yang nyata, menetapkan waktu istirahat yang cukup agar pikiran tidak overthinking saat malam, dan rutin melakukan evaluasi harian. Jika sempat tergelincir, saya tidak memendam rasa bersalah, tapi langsung mengingatkan diri untuk berubah.
Hal lain yang membantu adalah berbagi perjalanan ini dengan teman atau komunitas, seperti kolom komentar di artikel ini, karena saling dukung dan bertukar pengalaman membuat proses perbaikan menjadi lebih ringan dan bermakna.
Intinya, memahami Akrasia dan mengatasi kebiasaan buruk bukan tentang menjadi sempurna tapi tentang kesiapan untuk terus berproses kembali ke jalan yang benar setiap kali tersandung.
betul banget bunda ga perlu keras dan menghakimi diri sendiri kita sama-sama belajar dan berproses