hari ini aku mau sharing tentang streotype masyarakat yang melekat pada introvert.
Ternyata gak semua pandangan negatif tentang introvert itu benar ya. Karena faktanya baik extrovert atau introvert itu hanya berbeda di bagaimana cara mereka mengisi energi nya saja 😃
gimana lemonade? disini ada yg introvert? jangan dengerin stigma negatif orang-orang yang bikin kamu untuk minder dan berkembang ya ! Kalian juga pantas berusaha memperbaiki diri dan berkembang! 🫶🏻
... Baca selengkapnyaSelain introvert dan ekstrovert, sekarang makin sering dengar istilah ambivert. Dulu aku juga bingung banget, ambivert adalah apa sih? Awalnya kukira cuma label baru biar terdengar keren, tapi setelah baca-baca dan coba refleksi diri, ternyata cukup relate juga.
Secara sederhana, ambivert adalah orang yang punya ciri-ciri introvert sekaligus ekstrovert, dan bisa berubah sesuai situasi. Misalnya, kamu bisa super rame dan cerewet kalau lagi kumpul sama inner circle, tapi di acara besar yang banyak orang asing kamu lebih pilih diem, observasi, atau cepat capek secara sosial. Atau kamu nyaman menghabiskan waktu sendiri, tapi kalau terlalu lama sendirian juga jadi ngerasa kesepian dan butuh ngobrol sama orang.
Dari pengalamanku, ciri-ciri orang yang cenderung ambivert itu biasanya:
- Punya kebutuhan me time, tapi juga menikmati hangout dalam batas tertentu.
- Di beberapa situasi bisa kelihatan percaya diri dan aktif, di situasi lain tiba-tiba jadi pendiam.
- Senang ngobrol deep talk berdua atau kelompok kecil, tapi kurang suka keramaian yang ramai banget dan bising.
- Setelah sosialisasi lama, tetap butuh waktu untuk recharge, tapi nggak sampai sekaget introvert yang bisa benar-benar kehabisan energi.
Ini beda dengan introvert yang umumnya merasa lebih nyaman dan tenang saat sendiri atau dengan orang-orang terdekat saja. Introvert biasanya cepat lelah kalau harus bersosialisasi terus-terusan, apalagi sama orang baru. Sementara ekstrovert justru sebaliknya; mereka makin semangat kalau ketemu banyak orang, ikut acara, dan terlibat banyak aktivitas sosial.
Yang sering bikin bingung, banyak orang salah paham dan mengira kalau ambivert adalah introvert yang dipaksa jadi ekstrovert, padahal nggak gitu juga. Menurutku, ambivert justru fleksibel: mereka bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi tetap punya batasan energi yang harus dijaga. Jadi kalau kamu merasa "kok aku kadang introvert banget, kadang ekstrovert banget ya?", bisa jadi kamu cenderung ambivert.
Aku sendiri sempat lama ngerasa ada yang salah, karena di sekolah aku bisa aktif presentasi dan public speaking, tapi habis itu rasanya capek dan pengin cepat pulang, duduk sendiri, scroll sosmed atau baca buku. Setelah paham tentang introvert, ekstrovert, dan ambivert, jadi lebih menerima diri sendiri. Ternyata wajar banget kalau kepribadian itu nggak hitam-putih.
Pesanku, entah kamu introvert, ekstrovert, atau ambivert, semuanya sah dan normal. Yang penting kamu tahu bagaimana cara mengisi energi, apa batasanmu, dan gimana cara menjaga kesehatan mentalmu di tengah ekspektasi sosial yang kadang nggak realistis. Jangan terlalu terpaku sama label, pakai pengetahuan ini untuk lebih sayang dan ngerti sama diri sendiri. Kalau kamu merasa ambivert, boleh banget share pengalamanmu di kolom komentar nanti: kapan kamu merasa paling introvert, dan kapan kamu merasa paling ekstrovert?