MENJADI BAIK atau MENJADI BIJAKSANA

"Menjadi baik itu penting tapi menjadi bijaksana jauh lebih penting lagi."

Contohnya gini;

kamu kan baik.. terus ada orang minjem Uang sama kamu.. terus berhubung kamu orangnya baik pasti pinjemin dong.

Nah, yang repot itu ketika dia belum bayar hutangnya terus dia pinjem lagi dan kamu ngasih pinjeman lagi.

ini namanya kebaikanmu itu kurang tepat.. karena dimanfaatkan dengan orang yang gak tepat.

beda cerita kalau kamu orangnya bijaksana..

disaat ada orang minjem Uang padamu terus ternyata dia gak amanah alias susah bayar hutangnya.. disaat dia pinjem lagi, ya gak bakalan di kasih lah.

dari pada dia nanti meninggoynya dalam keadaan punya hutang kan ribet jadinya..

yang ada dia jadi menggantung kehidupannya bahkan dalam kematiannya pun dalam keadaan luntang lantung di alam barzakh sana..hihi

apakah dalam islam menjunjung tinggi namanya kebijaksaan?!.. "iya pastinya"

apa buktinya??!!..

di Islam itu menganjurkan hidup dalam kewaro-an ( Kehati-hatian )..

Tanda orang bijaksana pasti dalam hidupnya senantiasa hati-hati dalam melangkah maupun berbuat sesuatu.. Jadi, akibatnya kebaikannya tidak akan disalurkan ke arah yang gak tepat..

"INILAH KEBIJAKSANAAN"

#TentangKehidupan

#JujurAja

#QuotesLemon8

#reminderislamic

2025/11/6 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenjadi bijaksana bukan hanya soal berbuat baik, melainkan juga tentang mempertimbangkan manfaat dan mudharat dari setiap tindakan yang akan kita lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kebaikan kita disalahgunakan jika kita tidak berhati-hati dalam memilih kepada siapa kita memberikan bantuan. Misalnya, ketika seseorang meminjam uang dari kita, menjadi baik berarti kita memberi pinjaman secara tulus tanpa ragu. Namun, kebijaksanaan mengajarkan kita untuk menilai apakah orang tersebut mampu dan amanah dalam mengembalikan pinjaman. Jika tidak, memberi pinjaman kembali hanya akan memperburuk keadaan dan membuat kita serta orang tersebut dalam situasi yang sulit. Dalam perspektif Islam, kebijaksanaan sangat dihargai dan dianjurkan. Islam mengajarkan hidup dengan kewaspadaan dan kehati-hatian (kewaro-an) dalam setiap langkah dan keputusan. Ini merupakan aspek penting dari hidup bijaksana yang melindungi kita dari kerugian dan membantu kebaikan kita sampai pada orang yang tepat. Lebih jauh, menjadi bijaksana berarti kita memahami konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita, termasuk bagaimana hal itu dapat berpengaruh dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Misalnya, seseorang yang menanggung hutang terus menerus tanpa kemampuan membayarnya akan menghadapi beban tidak hanya di dunia tetapi juga akan menggantungkan keberlangsungan rohnya di alam barzakh. Oleh karena itu, kebijaksanaan juga meliputi mencegah hal-hal yang dapat membawa mudharat, bahkan di masa depan sekalipun. Penting untuk terus berlatih kebijaksanaan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan sosial hingga pengelolaan keuangan. Kunci utama adalah selalu menyaring setiap keputusan dengan mempertimbangkan baik dan buruknya dampak yang mungkin muncul. Ini akan menghindarkan kita dari menjadi orang yang baik tapi mudah dimanfaatkan, dan justru menjadikan kita pribadi yang dihargai karena kebijaksanaan dan tanggung jawab. Singkatnya, menjadi bijaksana merupakan kombinasi antara berbuat baik dan hati-hati dalam memilih tindakan serta sasaran kebaikan kita. Ini adalah nilai penting yang harus kita tanamkan dalam diri agar hidup kita tidak hanya penuh kasih sayang namun juga penuh kebijaksanaan yang membawa manfaat sejati sesuai ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan.