Ketika Ayah & Ibu ada, tapi tiada di mata anak
Yuk, ayah bunda sadari lagi peran kita sebagai orangtua
Waktu aku baru jadi orangtua, aku kira yang penting itu cari uang, kasih makanan bagus, gizi bagus, dan fasilitas seperti TV dan handphone dengan program yang katanya edukatif. Ternyata, semua itu memang penting, tapi nggak cukup kalau ayah dan ibu hanya ada secara fisik, tapi tiada di hati dan mata anak. Sekarang, anak-anak lebih cepat baligh. Dari beberapa kajian yang aku ikuti, katanya salah satunya karena pola makan, gizi, dan stimulasi dari tontonan dan gadget yang bikin produksi testosteron dan hormon lainnya lebih cepat. Anak laki-laki maupun perempuan bisa baligh di usia sekitar 9 tahun. Artinya, peran ayah dan ibu harus makin siaga sejak dini. Buat ayah, tugasnya bukan cuma jadi "mesin uang" di rumah. Ayah itu harus menyiapkan anaknya baligh, terutama anak laki-lakinya. Bukan cuma ngasih nasihat sekali dua kali, tapi benar-benar mendampingi: ngobrol soal mimpi basah, perubahan tubuh, cara mengelola nafsu, sampai adab bergaul dengan lawan jenis. Banyak anak laki-laki bingung saat pertama kali mimpi basah, karena nggak pernah diajak bicara. Mereka akhirnya cari jawaban di internet yang belum tentu aman. Buat ibu, kedekatan emosional dengan anak juga krusial. Ibu seringkali jadi tempat curhat, tapi kalau sibuk terus dengan dunia maya, anak bisa merasa punya "ibu palsu": ada di rumah, tapi perhatian terpecah. Padahal di usia pra-baligh dan baligh, anak perempuan butuh figur ibu yang hangat, mau mendengar, dan mau menjelaskan perubahan tubuh dan perasaan yang mereka alami. Aku sering mikir tentang istilah "berjuta-juta ayah-ayah palsu" dan "ibu-ibu palsu" yang sebenarnya ada, tapi seperti tiada di dunia nyata karena tenggelam di dunia maya. Gambar orang tua ayah dan ibu yang ideal di kepala anak bukan cuma ayah-ibu yang duduk di samping mereka, tapi yang mau menatap mata, mendengar cerita, dan nggak hanya sibuk dengan gadget sendiri. Sekarang, aku coba sadar penuh: ketika bersama anak, aku usahakan taruh handphone, kurangi TV, dan lebih banyak ngobrol. Kadang cuma tanya hal sederhana, "Hari ini kamu senang nggak?" atau "Ada yang bikin kamu sedih?" Dari situ pelan-pelan terasa, anak jadi lebih dekat dan berani cerita. Ternyata, hadir sepenuh hati jauh lebih berharga daripada sekadar hadir secara fisik. Menurutku, kita semua bisa pelan-pelan "grow as a parent". Bukan berarti harus langsung sempurna, tapi mulai dari langkah kecil: luangkan waktu khusus tanpa gadget, peluk anak lebih sering, dan jangan menertawakan atau meremehkan cerita mereka. Dengan begitu, ayah dan ibu bukan hanya jadi gambar orang tua yang dilihat dari jauh, tapi sosok nyata yang selalu dirasakan dekat oleh anak.
































