ga tau kenapa suasananya jadi lebih rame, lebih efort, lebih meriah dan ga tau kenapa juga..
aku yang nonis ini malah hampir tiap hari nongol di tukang takjil depan rumah,Serius deh baru mau jam buka, aku udah standby duluan☺️Sampai ibu-ibu yang jualan udah hafal banget sama wajahku. Wah, udah datang lagi nih kata si bu😆
Endingnya?
Malah jadi kenal, ngobrol tiap sore, ketawa bareng.
Yang awalnya cuma beli kolak & gorengan,jadi nambah silaturahmi juga🤍 tapi satu hal yang selalu aku pegang
Aku pasti dahulukan yang puasa dulu. Kalo rame? aku mundur dulu. biar yang nahan lapar & haus seharian bisa dapet duluan. kerena menurutku ini bukan ikut-ikutan tren bukan soal war atau rebutan. tapi lebih ke menghargai & meramaikan aja. Ramadhan itu indah.
dan kalo bisa jadi momen kebersamaan lintas agama dengan tetap saling hormat kenapa nggak ya kan?
Jadi kalau nanti tren “war takjil nonis” muncul lagi…
aku sih kemungkinan tetap ada di barisan tapi versi yang sopan & tahu diri ya😁🤭
... Baca selengkapnyaMengikuti tren "war takjil" nonis saat Ramadhan benar-benar memberikan pengalaman baru dan menyenangkan. Dari pengalaman pribadi, saya merasakan kehangatan dan kekompakan saat berburu takjil bersama teman-teman maupun keluarga. Namun yang paling penting adalah selalu menjaga sikap sopan dan mengutamakan mereka yang berpuasa, agar suasana tetap nyaman dan penuh rasa hormat.
Menjelang waktu buka puasa, suasana di sekitar penjual takjil biasanya semakin hidup dengan banyak orang yang berdatangan. Ini bukan sekadar soal siapa cepat dapat, tapi bagaimana kita bisa saling berbagi kebahagiaan dalam momen berbuka. Saya pun sering sekali bertemu dengan penjual takjil yang ramah dan mulai mengenal wajah pelanggan tetap, sehingga menambah rasa kekeluargaan.
Selain membeli takjil, saya juga suka berdiskusi dan bercanda dengan para penjual dan pengunjung lain. Interaksi ini membuka peluang untuk saling mengenal antar komunitas, termasuk lintas agama. Ramadhan memang indah karena mampu menjadi momen kebersamaan dan toleransi, yang melampaui perbedaan.
Untuk yang tidak ingin ikut "war takjil" di luar, memasak takjil sendiri juga menjadi alternatif seru. Bisa belajar resep baru seperti kolak pisang, es cendol, atau gorengan favorit yang pastinya lebih hemat dan sehat. Kegiatan ini juga mempererat ikatan keluarga karena saling membantu di dapur bersama.
Saya percaya, tren "war takjil" nonis bukan hanya soal rebutan makanan, tapi lebih pada meramaikan dan menghargai tradisi Ramadhan. Asalkan dilakukan dengan rasa hormat dan sopan, tren ini akan terus menjadi bagian dari pengalaman manis menyambut waktu berbuka.
Kalau kamu, tim jajan takjil atau tim masak sendiri? Yuk, share pengalamanmu di kolom komentar, karena kebersamaan saat Ramadhan itu adalah hal paling berharga!
AQ non muslim tapi juga suka war takjil. G tau rasanya feel-nya beda aja GT kita hunting makanan pas bulan puasa sama pas hari biasa.Tapi y sama sperti kakaknya y.aq tetep tau diri dan mendahulukan yg puasa.Karna ini kan bulan nya mereka dan mereka nahan lapar dan haus.Tapi jujurly AQ lebih seneng lagi saat AQ bisa berbagi takjil d jalanan k orang2 yg kurang mampu.Pernab bbrp x d ajak temen q yg muslim untuk ikut berbagi dan membagikan.Sumpah rasanya seneng dan terharu bgt.
gapapa kaa itung itung berbagii wkwkwk