Dulu aku punya mimpi besar banget pengen kerja di posisi yang aku impikan.
Aku semangat banget belajar, ngelamar kerja di mana-mana, sampai akhirnya… diterima di tempat yang aku mau. Rasanya kayak “akhirnya mimpiku jadi nyata”
Setiap hari aku berangkat kerja dengan rasa bangga.
Tapi waktu terus berjalan, hidup juga berubah.
Aku jadi ibu, dan tiba-tiba hal yang dulu aku kira puncak kebahagiaan, berubah arah.
Dan akhirnya setelah jadi ibu, aku coba buka usaha percetakan rumahan cuma modal nekat dan ilmu pas-pasan make canva yang aku dapatkan ilmu nya dari tempat kerja pada tahun 2018, perlahan bisnis ku mulai dikenal dan dapet beberapa pesanan dan sampai sekarang aku masih dengan bisnis percetakan rumahan ini, namun meskipun kerja dirumah tetap harus profesional ya biar dapet kesan yang baik dari pelanggan.
Sekarang aku di rumah bukan Memilih untuk hadir di masa kecil anak-anakku.
Memilih untuk tetap berdaya dengan cara yang berbeda.
Kadang kangen masa kerja dulu, tapi setiap lihat senyum kecil di rumah, aku tahu… aku udah di tempat yang tepat
Mimpi itu nggak hilang cuma berganti bentuk.
Dan aku masih tetap perempuan yang punya semangat yang sama, cuma sekarang jalannya lewat rumah.
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali kepikiran buka usaha percetakan rumahan, jujur aku bingung mulai dari mana. Yang aku punya cuma laptop pas-pasan, printer standar, ilmu Canva dari kantor, dan tekad buat tetap produktif meski di rumah. Buat yang lagi kepo soal percetakan rumahan atau usaha percetakan rumahan, aku coba share lebih detail step yang aku lewati.
Awal banget, aku mulai dari produk yang simpel dan modalnya kecil: gantungan kunci foto dan stiker. Kenapa? Karena bahan-bahannya gampang dicari dan permintaannya lumayan stabil. Dari situ baru pelan-pelan merambah ke undangan pernikahan, tag ulang tahun, label, kartu ucapan, sampai paket hampers dengan kotak hadiah yang lebih rapi.
Soal modal, aku nggak langsung beli mesin mahal. Pertama-tama aku pakai printer yang sudah ada di rumah, kertas foto, dan sedikit stok gantungan akrilik. Setelah beberapa kali order masuk dan omzet mulai kelihatan (kayak yang di foto sampai tembus belasan juta rupiah), baru aku berani upgrade alat sedikit-sedikit. Intinya, jangan kejebak mindset harus modal besar dulu baru jalan.
Untuk desain, Canva tuh penyelamat banget. Aku sering pakai template lalu aku modifikasi sesuai selera pelanggan. Misalnya untuk undangan pernikahan, aku kirim beberapa contoh desain ke pelanggan, lalu mereka pilih mana yang cocok. Dari situ baru aku edit nama, tanggal, dan detail acaranya. Cara ini bikin proses lebih cepat dan kelihatan profesional, padahal ilmunya hasil nyicil belajar dari tahun-tahun sebelumnya.
Masalah lain di usaha percetakan rumahan adalah manajemen waktu. Di satu sisi aku harus jadi ibu yang hadir buat anak, di sisi lain tumpukan kotak kardus pesanan sudah siap dikirim dan harus dipacking sebelum kurir datang. Trik yang aku pakai: bagi waktu per blok. Pagi fokus ke anak dan rumah, siang sampai sore kerjain desain dan cetak, malam biasanya buat packing dan siapin pesanan. Kadang capek, tapi ada rasa puas luar biasa waktu lihat paket-paket rapi dengan pita biru siap dikirim.
Biarpun kerja dari rumah, aku belajar untuk tetap profesional. Mulai dari balas chat pelanggan dengan sopan, kasih katalog produk yang jelas, sampai update status pesanan. Hal-hal kecil ini ternyata bikin pelanggan balik lagi dan rekomendasiin ke temannya. Dari mulut ke mulut, usaha percetakan rumahan ini pelan-pelan dikenal orang.
Buat kamu yang lagi mikir mau mulai usaha percetakan rumahan juga, menurutku nggak harus langsung perfect. Mulai saja dari apa yang kamu bisa, misalnya fokus ke satu jenis produk dulu seperti stiker atau tag ulang tahun. Nanti seiring jalan, kamu bakal nemu ritme, pelanggan tetap, bahkan mungkin titik di mana kamu sadar: "Ternyata bisa ya, kerja dari rumah tapi tetap berdaya dan menghasilkan."
masyaAllah kak kereeen bangeeet