Hai guyss balik lagi sama postingan aku tentang #Seandainya hari inii.
Kalian yang masih belum nikah, semua generasii atau Gen-Z juga ada ngga sih yang kepikiran kayak aku, kalau ngga pengen ada resepsi pas nikahan? Pengennya cuma ngundang saudara aja makan-makan terus kelar ngga musti lama lama berdiri dan senyum maniss di pelaminan?
Aku dan temen-temenku punya pendapat sama, kalau pengen banget nikahan sesimple inii sekaligus hemat biaya jugaa, karena aku tau abis nikah juga masih tetep butuh uang. Tapi banyak yang bilang kalau orang tuanya ngga setuju, alias tetep masih pengen ada resepsi, termasuk orang tuaku juga🥹.
Orang tua kalian gimana guys? Apakah sama? Musti ada resepsi juga? 😆. Siapa yang pengen nikah simple juga nih?
... Baca selengkapnyaSejujurnya, makin gede aku makin ngerasa kalau resepsi itu bukan hal wajib banget. Yang penting kan rukun nikahnya sah dulu: ada calon pengantin laki-laki dan perempuan, wali, dua orang saksi, ijab kabul, dan mahar. Itu inti pernikahan menurut agama. Resepsi cuma pelengkap biar orang-orang tahu kita udah sah jadi suami istri.
Makanya aku kepikiran, kenapa nggak fokus di akad aja? Misal, acaranya di rumah atau di masjid kecil, pakai meja akad yang simpel tapi rapi. Cukup meja kayu, taplak putih, bunga kecil, dan kursi untuk pengantin, wali, serta saksi. Setelah itu, lanjut makan-makan bareng keluarga dan beberapa teman dekat. Budget bisa dialihin untuk kebutuhan setelah nikah: sewa rumah, perabotan, atau tabungan.
Aku pernah ngobrol sama teman yang beneran nikah tanpa resepsi gede. Dia cuma akad di KUA, lalu syukuran kecil di rumah. Katanya, yang bikin haru justru momen ijab kabulnya, bukan berdiri di pelaminan berjam-jam. Orang tua awalnya ragu, tapi setelah dijelasin soal biaya dan niat buat hidup mandiri setelah nikah, akhirnya mereka setuju di tengah-tengah: akad dibuat sedikit lebih rapi, undang keluarga besar, tapi tanpa pelaminan megah.
Kalau orang tua masih keukeuh pengen resepsi, mungkin bisa diajak kompromi. Misalnya, resepsi mini di halaman rumah, pakai dekor sederhana, kursi secukupnya, tanpa band besar dan tanpa adat yang terlalu panjang. Intinya, tetap ada momen silaturahmi dan "pamitan" secara resmi ke keluarga besar, tapi nggak sampai bikin keuangan jebol.
Menurutku, nikah sederhana tanpa resepsi gede bukan berarti nggak menghargai tamu atau orang tua. Justru kita lebih fokus ke makna ibadahnya dan kesiapan setelah akad. Asal rukun nikah terpenuhi dan semua pihak sudah saling ridha, bentuk acaranya bisa banget disesuaikan sama kondisi dan nilai yang kita pegang. Yang penting komunikasi pelan-pelan sama orang tua, jelasin alasan pengen nikah simple, dan siap cari jalan tengah bareng-bareng.
Mari kita normalisasi nikah tanpa resepsi kak🥰 selain hemat budget uang nya bisa ditabung buat kebutuhan setelah nikah🥰