... Baca selengkapnyaSebagai ibu rumah tangga dengan 3 anak gadis, rumahku tuh bisa dibilang nggak pernah sepi. Dari luar mungkin kelihatannya seperti keluarga kecil yang manis, foto berlima sambil senyum ceria dan pose lucu, tapi di balik itu ada banyak cerita yang kadang bikin capek, kadang bikin ketawa nggak berhenti.
Soal pembalut misalnya, ini sudah jadi “ritual bulanan” yang nggak bisa ditawar. Dulu aku belanja pembalut paling 1–2 bungkus, sekarang harus mikir stok untuk 4 perempuan sekaligus. Aku sampai punya rak kecil khusus di kamar mandi yang isinya cuma pembalut berbagai ukuran. Ada yang untuk si sulung yang suka aktivitas padat, si tengah yang kulitnya agak sensitif, sampai si bungsu yang masih belajar mengenali siklusnya sendiri. Awalnya sempat kewalahan, tapi lama-lama jadi terbiasa, bahkan suka nyetok saat diskon di minimarket biar lebih hemat.
Lucunya, tiap kali salah satu dari mereka datang bulan, suasana rumah bisa berubah. Ada yang jadi lebih manis dan manja, ada yang jadi sedikit baper, dan ada juga yang malah makin cerewet. Aku sebagai ibu dituntut untuk lebih sabar, siap jadi tempat curhat dan pelukan kapan saja. Kadang kami bercanda, "rumah ini isinya gadis manis penyewa rumah hati ibu," karena tiap hari mereka seperti "menyewa" energi dan perasaanku dengan cerita-cerita mereka.
Malam hari biasanya jadi waktu paling hangat. Kami sering kumpul di ruang keluarga, nonton drama bareng atau sekadar ngobrol sambil ngemil. Di momen-momen seperti itu kerasa banget kebersamaan kami sebagai keluarga kecil beranggotakan lima orang. Ayahnya ikut nimbrung, kadang jadi satu-satunya laki-laki yang dikerubungi empat cewek di rumah. Dia suka bercanda kalau dirinya hanyalah "tamu spesial" di rumah yang isinya para gadis.
Tantangan lain adalah soal privasi. Tiga anak gadis berarti tiga karakter yang berbeda. Ada yang suka kamar rapi, ada yang kamarnya selalu penuh baju dan buku berserakan. Tugas mencuci, setrika, sampai beres-beres kamar sering jadi drama kecil. Tapi dari situ aku belajar untuk nggak terlalu perfeksionis. Yang penting mereka belajar bertanggung jawab dan saling menghargai.
Sebagai IRT, aku juga kadang merasa lelah, apalagi kalau semuanya lagi ada masalah bareng-bareng, entah soal sekolah, pertemanan, atau mood yang turun gara-gara PMS. Tapi setiap lihat mereka tertawa, saling menggoda saat foto bareng, atau spontan peluk aku dari belakang sambil bilang "makasih ya, Bu", rasanya semua repot dan lelah itu terbayar.
Buat ibu-ibu lain yang juga punya beberapa anak perempuan, mungkin kalian juga merasakan hal yang mirip. Rumah memang jadi lebih ramai, lebih ribet urusan kecil-kecil, tapi juga lebih hangat. Gadis-gadis manis ini seakan jadi "penyewa rumah" di hati kita, yang bikin kita belajar sabar, kuat, dan penuh kasih setiap hari.