Part 02
"Bagaimana Arkan?"
Sudah hancur tak terbentuk lagi hatiku saat ini, di saat papa mengabaikan protesku. Tatapanku beralih kepada pria yang kini masih diam dalam posisinya, ku lihat dia melirikku sekilas. Aku menggeleng memberinya kode untuk menolak rencana konyol ini.
"Saya siap, tapi dengan satu syarat." Jawab pria bernama Arkan itu masih dengan wajah tanpa ekspresi.
"Hallah, orang rendahan aja segala pakai syarat," cetus kak Letta dengan tatapan mencibir, yang diangguki anggukan oleh mama.
"Itu kalau bapak setuju," sambung mas Arkan.
"Apa syaratnya?" tanya papa.
Aku pun turut penasaran dengan syarat yang dia ajukan.
"Saya tidak akan mengalah jika nantinya enggan melepaskan putri bapak, sebab pantang bagi saya membagi apa yang sudah saya miliki. Ini hanya semisal saya enggan saja."
"Hahaahaaaa,"
Tawa pecah dari mulut mama dan kak Letta, begitu juga mas Raka yang tersenyum miring. Sedangkan aku malah merasa ngeri dengannya, dia terlihat misterius dan dingin, bagaimana bisa aku hidup dengannya?
"Harusnya tuh ngaca, kamu itu hanya seorang sopir! Tidak tahu diri banget ngancam kami." Ejek mama masih dengan tawanya yang berderai.
"Bener tuh, sopir aja banyak tingkah. Tapi seharusnya kalian emang cocok sih, si pria yang hanya sopir dan wanita karyawan biasa. Sama-sama rendahan hahahaaa," kak Letta ikut nyambung.
"Hemm, saingan kamu tuh aku, jadi ya... enggan atau tidaknya kamu nanti, itu tidak berpengaruh untuk kami. Jadi jangan ajukan syarat yang terdengar tak masuk akal itu!" cibir mas Raka.
Aku memandang mas Arkan dengan prihatin, kasihan dia jadi bahan bulian di sini.
"Jadi bagaimana Pak?" tanyanya seolah cibiran orang-orang di sekitarnya tak membawa pengaruh apapun.
"Oke, kita nikahkan sekarang juga," jawab papa terdengar mantap.
Kalian pasti tahu rasanya jadi aku kan? Mereka semena-mena mengambil keputusan, menikahkanku lalu menyuruhku bercerai. Aku hanya seperti boneka yang di beri rasa sakit. Nyawa pun seakan tak ada artinya di sini.
Jangankan untuk membantah, membuka suara pun tak akan pernah di dengarkan. Seluruh anggota tubuhku seolah sudah di setel otomatis untuk menurut semua perkataan mereka.
Aku menikah yang ke dua kalinya, dengan pakaian seadanya. Papa seolah telah mempersiapkan semua, termasuk penghulu yang sudah siap begitu saja.
Hatiku sudah tak sakit, bahkan sudah tak merasakan apa-apa.
Bibirku kelu terkunci rapat tak sanggup berbicara.
Hanya telinga saja yang masih berfungsi untuk mendengar.
Mendengar tawa mereka, mendengar candaan antara kakakku dan mantan suamiku. Mendegar mama dan papa dengan segala rencananya.
Dan terakhir aku mendengar ijab kabul, "Saya terima nikah dan kawinnya Safiya Hazena binti Haris Hazen dengan mas kawin sebuah cincin dibayar tunai."
"Sah,"
Duniaku gelap, aku tenggelam dengan rasa sakitku sendiri.
**************
Entah berapa lama, bahkan aku berharap tuhan sudah tak memberiku kesempatan untuk hidup lagi. Namun ternyata semua tak sesuai keinginan saat kelopak mata terbuka begitu saja.
Aku berusaha menyesuaikan silau cahaya yang masuk ke dalam retina. Seseorang menarik korden menghalau sinar matahari. Dia mendekat dan menyerahkan sebotol air bening ke arahku.
Aku masih diam dengan waspada, dia mas Arkan sopir pribadi papa. Bahkan aku baru sadar jika terasa begitu asing dengan tempat ini. Aku beringsut mundur, mau bagaimana pun, dia adalah orang asing.
"Aku tak mungkin menyakiti istriku sendiri."
Bisa dibaca sampai tamat di aplikasi kbmapp hanya 31 bab
Karya : Lathifa Rachma
Judul : PESONA SANG MUHALLIL


































