#LifeBingo setelah jadi ibu rumah tangga, mindset aku bener" berubah. yang dulunya mikir harus bekerja karena Eman udah sekolah sampe kuliah masak dirumah aja. tapi pas udah ketemu bocilku mikir mikir lagi nggak pengen ngelepas waktu tumbuh bersama, sedetikpun gak mau pisah, jiwa melankolisku langsung menggebu 🥹, tapi meskipun di rumah aja IRT bisa produktif kok🤗
... Baca selengkapnyaJujur, sebagai IRT 25 tahun lulusan sarjana, aku sempat banget ngerasa sedih dan minder. Di umur segini, teman-teman banyak yang lagi sibuk bangun karier, ada yang kerja kantoran, ada yang lanjut S2. Sementara aku sehari-hari sibuk sama bocil dan urusan rumah. Kadang kepikiran, “Aku ketinggalan jauh nggak ya?”
Apalagi kalau lagi scroll medsos, lihat orang lain sharing aktivitas kerja, meeting, atau pencapaian karier, hati suka campur aduk. Bukan iri, cuma lebih ke nanya ke diri sendiri: “Aku udah bener belum sih milih jadi IRT full di rumah?” Tapi setiap lihat anak lagi ketawa, belajar hal baru, atau nempel terus sama aku, perasaan sedih itu pelan-pelan kejawab. Ada fase tumbuh kembangnya yang cuma sekali seumur hidup dan aku nggak mau kelewat.
Supaya nggak terus-terusan kebawa sedih, aku mulai cari cara biar bisa tetap produktif dari rumah. Aku coba eksplor kerja rumahan yang realistis buat IRT, misalnya:
1. Nyari kerja freelance yang fleksibel
Aku cek beberapa platform kerja online buat lihat peluang yang nggak terikat jam, kayak nulis, desain, entry data, atau admin online shop. Nggak langsung dapat sih, tapi aku pelan-pelan belajar bikin CV yang cocok buat kerja remote dan update skill yang kepakai.
2. Manfaatin hobi jadi cuan kecil-kecilan
Daripada overthinking, aku mulai perhatiin: aku tuh sukanya apa? Misalnya suka nulis, suka foto, atau suka masak. Dari situ bisa dicoba pelan-pelan, misalnya jualan makanan ke tetangga, buka PO kecil-kecilan, atau bikin konten soal keseharian IRT. Walau hasilnya belum besar, rasanya senang karena punya aktivitas di luar kerja rumah.
3. Ngatur ekspektasi dan nggak bandingin diri
Aku mulai sadar, fase hidup orang itu beda-beda. Ada yang lagi fokus kerja kantoran, ada yang fokus bangun keluarga. Jadi aku belajar berhenti membandingkan diri sama jalan hidup orang lain. Kalau lagi sedih, aku ingetin diri sendiri: keputusan milih jadi IRT itu juga bentuk tanggung jawab dan pengorbanan.
4. Diskusi terbuka sama pasangan
Biar nggak makin mumet, aku juga coba ngobrol jujur sama pasangan. Aku cerita soal perasaan takut ketinggalan karier, pengen tetap produktif, tapi juga nggak mau kehilangan momen sama anak. Dari ngobrol itu, kami bisa cari jalan tengah, misalnya kasih waktu khusus buat aku belajar skill baru atau kerjain project kecil dari rumah.
Kalau kamu juga sarjana yang sekarang jadi IRT dan lagi ngerasa sedih atau ragu sama pilihan sendiri, kamu nggak sendirian. Nggak apa-apa kok kalau sekarang fokusmu ada di rumah dan sama anak. Pelan-pelan aja, sambil nikmatin peran sebagai ibu, kita tetap bisa cari cara buat berkembang, entah lewat kerja rumahan, belajar hal baru, atau bangun usaha kecil. Yang penting, keputusan yang diambil bikin hati lebih tenang dan sesuai sama nilai yang kita pegang sebagai ibu dan sebagai diri sendiri.
salah sih ngga mungkin ka. gimana kakanya aja.tapi kalo aku justru selalu mikir.gmana caranya biar bisa punya penghasilan dan rumah suami dan anak masih terurus
coba jualan worksheet atau produk online kak , atau jualan apa di depan rumah , jadi tetep ada penghasilan