3/25 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang menjalani kehidupan rumah tangga, saya pernah merasakan momen Lebaran yang penuh suka dan duka. Salah satu hal yang sering terjadi, terutama pada istri, adalah kebiasaan 'merepet', alias banyak bicara yang terkadang membuat suasana jadi ramai atau bahkan sedikit membuat lelah pendengar. Namun, setelah saya renungkan, memang sudah kodratnya banyak istri yang ekspresif dan suka berbagi cerita. Di rumah saya, saat Lebaran tiba, kami biasanya berkumpul dengan keluarga besar. Suasana riuh, tumpukan cerita dari berbagai anggota keluarga, terutama istri yang sudah sejak lama dikenal suka banyak cakap, memang tidak bisa dihindari. Kadang-kadang saya juga merasa perlu sabar dan menerima karena itu salah satu cara mereka mengekspresikan diri dan menjaga kehangatan keluarga. Dari pengalaman saya, memahami dan memberi ruang kepada pasangan untuk cerita adalah kunci. Jika istri mulai merepet, saya mencoba mendengarkan dengan sabar, bahkan kadang ikut terlibat dalam ceritanya. Daripada merasa kesal, saya anggap itu sebagai bagian dari komunikasi dan kebersamaan. Kalau memang kata-kata yang keluar terasa berlebihan, saya ingatkan dengan lembut agar porsinya diatur supaya semua mendapatkan giliran bicara. Selain itu, Maaf lahir batin menjadi momen yang tepat untuk saling mengikhlaskan segala kekurangan, termasuk kebiasaan merepet yang mungkin mengganggu. Dengan sikap saling memafkan dan pengertian, suasana Lebaran jadi lebih harmonis dan penuh cinta. Jadi, jangan merasa kesal jika istri Anda suka berbicara banyak di rumah, terutama saat Lebaran. Cobalah untuk memaklumi dan menikmati momen kebersamaan tersebut. Bukankah saat Lebaran kita diajarkan untuk lebih sabar dan saling memaafkan? Itu yang terpenting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.