😢🥀
Dari Thai Rath TV melaporkan bahwa seorang siswa kelas 2 SMP menceritakan bahwa adik kelas 3 SMP yang menjadi pelaku datang bertanya kepada dirinya, “Bu Arisa di mana?”
▪️Yang saat itu dirinya berada di lantai 2, jadi menunjuk ke lantai lain bahwa berada di lantai lain. Setelah itu, pelaku berjalan mencari Bu Arisa, yang ekspresi wajah dan sikap pelaku tampak normal, tapi di telinga memakai earplug, dan memegang senjata api menempel di badan
▪️Yang saat itu dirinya mengira itu senjata mainan, tidak curiga bahwa itu senjata sungguhan. Saat mendengar suara senjata terdengar, juga mengira tidak ada yang serius, tapi melihat teman-teman berlari keluar
▪️Sementara itu, adik perempuan dari kakek menceritakan bahwa adik tersebut kecanduan game, setiap kali bertemu selalu bermain game saja, tapi orangnya baik, suka menyendiri, tidak banyak bicara. Orang tua bercerai, kadang-kadang datang menjenguk. Kakek selalu mengantar dan menjemput ke sekolah, sangat dekat dengannya
▪️Daftar korban tewas di SMA Thepsirin Nonthaburi telah dikonfirmasi jumlah 5 + 1 (pelaku) total 6 orang, terdiri dari (angka masih belum pasti)
1. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan 1 - Pak Kittiapong Somrat
2. Sekretaris kelas 1 - Nenek Saisorn Sirikitchakajorn
3. Guru BK 1 - Nenek Tiwa Wanich
4. Guru Bahasa Thailand 1 - Letnan Perempuan Nan Chanutphon Nak Phlang
5. Guru Matematika 1 - Nenek Prachaporn Khon Sila
6. D. Ch. Patchat (nama keluarga dirahasiakan) usia 14 tahun (pelaku)
▪️Sementara kakek dan nenek mengurus di rumah, kakek di dapur, nenek di kamar tidur
Sebagai seseorang yang sering membaca dan mengikuti berita internasional, saya merasa sangat terpukul ketika mengetahui tragedi penembakan yang terjadi di SMA Thepsirin Nonthaburi, Thailand. Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan mental para pelajar, terutama remaja yang tengah menghadapi berbagai tekanan sosial dan keluarga. Dalam kasus ini, pelaku yang berusia hanya 14 tahun tampak memiliki latar belakang keluarga yang tidak stabil, dengan orang tua yang bercerai dan kecenderungan kecanduan game, yang sering ditemukan pada banyak remaja masa kini. Kondisi ini mungkin memperburuk kesehatan mentalnya hingga berujung pada tindakan tragis tersebut. Saya juga menyadari bahwa penggunaan earplug oleh pelaku saat kejadian merupakan tanda bahwa ia ingin terisolasi dari lingkungan sekitar, sesuatu yang dapat menjadi indikator mental yang kurang sehat. Sebagai pendidik atau orang tua, penting untuk selalu memperhatikan perubahan sikap dan perilaku anak-anak dan remaja yang mungkin menunjukkan tanda-tanda gangguan atau stres berat. Selain itu, tragedi ini juga mengingatkan kita akan pentingnya pengamanan di lingkungan sekolah. Meski kita menginginkan sekolah menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman, kenyataannya potensi bahaya tetap harus diantisipasi dengan berbagai langkah preventif, termasuk pemeriksaan dan pengawasan yang ketat. Dari pengalaman saya membaca dan mengikuti isu serupa, dukungan psikologis dan konseling bagi siswa sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga yang bermasalah atau berisiko mengalami stres berat. Komunikasi yang baik antara guru, siswa, dan orang tua juga harus terus dijaga agar masalah yang mungkin belum tampak di permukaan bisa segera diatasi. Semoga kejadian tragis ini membuka mata banyak pihak untuk lebih peduli pada kesehatan mental anak-anak dan remaja, serta meningkatkan sistem keamanan di sekolah agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di masa depan.

























