perjalanan ku puasa intermittent fasting
Awal mula berat bangetttt #MyJourney
Saya juga pernah merasakan seperti apa yang dialami banyak pemula saat memulai puasa intermittent fasting (IF), yaitu berat dan penuh tantangan. Pada awalnya, menahan lapar dan mengubah pola makan terasa sangat sulit, terutama saat momen-momen ingin makan makanan favorit, seperti bakso yang menggoda selera. Namun, setelah melalui proses adaptasi sekitar 90 hari, saya mulai merasakan manfaatnya baik secara fisik maupun mental. Berpuasa dengan metode IF tidak hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang mencintai diri sendiri dan membangun kedisiplinan. Saya menemukan bahwa dengan puasa ini, saya jadi lebih peka terhadap kebutuhan tubuh dan mulai lebih menjaga pola makan. Selain menurunkan berat badan secara perlahan dan sehat, saya juga merasa lebih energik dan fokus dalam aktivitas sehari-hari. Selama perjalanan ini, saya menyadari pentingnya dukungan dan motivasi, baik dari komunitas online maupun melalui buku-buku pengalaman turun berat badan yang memberi inspirasi. Salah satu hal yang menguatkan adalah memahami bahwa ini adalah proses jatuh bangun yang normal. Ketika mengalami kegagalan atau godaan konsumsi makanan yang tidak direncanakan, jangan putus asa. Bangkit dan terus berkomitmen adalah kunci utama. Selain itu, saya juga belajar cara memilih waktu makan yang tepat dan memperhatikan jenis makanan saat berbuka dan sahur sehingga mendukung tujuan kesehatan dan puasa saya. Mengatur asupan gizi yang seimbang membuat tubuh tetap kuat dan tidak mudah lemas. Bagi yang tertarik mulai menjalani puasa IF, saya sarankan untuk memulai secara perlahan dan mencari informasi serta dukungan dari orang-orang yang berpengalaman. Ingat, perjalanan ini bukan hanya tentang diet, tetapi juga tentang mencintai dan menghargai diri sendiri. Semoga kisah ini membantu teman-teman yang sedang berjuang atau ingin memulai puasa intermittent fasting.



















