Dari Perut Bumi ke Pintu Langit: Kisah Mesjid...
Dari Perut Bumi ke Pintu Langit: Kisah Mesjid Paling Dalam di Dunia
Kemarin kita cerita yang hangat—bahkan nyaris mendidih—tentang Musda Golkar. Politik, seperti kopi kalau tanpa gula, bisa bikin dahi berkerut dan napas pendek. Maka hari ini, kita turunkan tensi. Kita geser obrolan ke sesuatu yang lebih menyejukkan jiwa.
Ambil dulu kopi Sipiroknya. Seruput pelan. Kita mulai cerita.
Namanya Masjid Baabul Munawwar. Bukan masjid di pinggir jalan lintas, bukan pula yang gampang dicari di Google Maps. Masjid ini adanya jauh di perut bumi. Bukan kiasan. Betul-betul di bawah tanah, di kedalaman sekitar 1.700 sampai 1.760 meter, di area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Timika, Papua.
Bayangkan ini dulu: kita sering malas ke masjid karena hujan gerimis atau sandal entah ke mana. Di sana, orang mau salat harus pakai helm, sepatu safety, dan rompi. Belum salat, sudah merasa kecil sebagai manusia.
Masjid Baabul Munawwar dibangun untuk satu tujuan sederhana tapi mulia: agar pekerja tambang Muslim tetap bisa menunaikan ibadah tanpa harus naik ke permukaan di tengah shift kerja yang panjang dan melelahkan. Pembangunannya dimulai sekitar 2014, mulai digunakan 2015, dan resmi diresmikan Juni 2016.
Lokasinya berada di Deep Mill Level Zone (DMLZ)—zona tambang bawah tanah yang ekstrem. Untuk sampai ke sana, para pekerja harus turun lewat lift khusus atau kendaraan tambang. Perjalanannya bukan hitungan menit seperti naik eskalator mal, tapi puluhan menit menuju perut bumi.
Karena berada di bawah tanah, masjid ini jelas tak punya kubah, apalagi menara. Dindingnya adalah batuan alami tambang. Lampu-lampu menggantung jadi pengganti cahaya matahari. Udara sepenuhnya bergantung pada sistem ventilasi canggih. Di sinilah ironi sekaligus keindahannya: di tempat yang paling keras, paling gelap, dan paling teknis, justru ada ruang untuk sujud.
Kapasitas masjid ini sekitar 250 jamaah. Cukup untuk pekerja tambang yang ingin berhenti sejenak—bukan cuma dari kerja fisik, tapi dari hiruk pikuk dunia. Kadang, di sela salat, masih terdengar samar suara alat berat. Tapi di situlah kekhusyukan diuji. Dan mungkin, justru di situ doa terasa lebih jujur.
Yang lebih menyejukkan lagi, Masjid Baabul Munawwar berdiri berdampingan dengan Gereja Oikumene Soteria, di kedalaman yang sama. Muslim dan Nasrani punya ruang ibadah masing-masing, berdampingan, tanpa ribut soal perbedaan. Pada 2017, keduanya mendapat piagam dari MURI sebagai rumah ibadah terdalam di Indonesia—bahkan dunia.
Di atas tanah, kita sering ribut soal toleransi. Di bawah tanah, toleransi itu bekerja diam-diam.
Aktivitas ibadah tetap berjalan normal: salat lima waktu berjamaah, Tarawih saat Ramadan, buka puasa bersama, hingga kajian keagamaan. Waktu salat tidak ditentukan oleh matahari—karena mataharinya memang tak kelihatan—melainkan mengacu pada waktu resmi di Timika.
Masjid ini bukan tempat wisata. Tidak bisa dikunjungi umum. Ini masjid fungsional, lahir dari kebutuhan nyata, untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan ekstrem. Bahkan Presiden Joko Widodo pernah mengunjunginya pada 2022 dan memuji simbol toleransi serta kerja keras di sana.
Nama Baabul Munawwar sendiri berarti pintu cahaya. Dan memang begitulah adanya. Di tempat sedalam itu, cahaya bukan sekadar lampu, tapi harapan.
Akhirnya kita sadar: iman tak pernah bertanya soal lokasi. Ia bisa hidup di puncak gunung, di tengah kota, bahkan di perut bumi.
Di tempat paling dalam saja orang masih sujud.
Masa kita yang di permukaan masih sibuk ribut?
Seruput lagi kopinya, Lae.
Hidup ini, kadang memang perlu diturunkan ke dasar—supaya kita ingat arah pulang ke cahaya.
📸 Foto hanya Ai
#Prabowo Subianto #bencana #kopisipirok #Freeport #papua
@sorotan @semua orang


























Jo smangat