"Saya yang akan keluar, kamu tetaplah di sini sampai masa Iddah kamu selesai," kata Faaz.
"Haruskah seperti itu Mas, saya ikhlas kok menjalani masa Iddah di tempat lain, lagian saya takut...," ucapku menggantung.
"Jangan membantah, ini permintaan terakhirku Maryam, izinkan saya tetap melihat kamu, mengawasi dan memperhatikan kamu selama masa Iddah ini," kata Faaz memohon.
"Mas, boleh izin beli keperluan saya sebentar, persiapan selama menjalani masa Iddah," kataku sangat lirih.
Aku terpaksa meminta izin, padahal niat hati sengaja meminta Faaz menyiapkan itu semua, karena jujur aku tidak memiliki ua ng sebanyak itu. A T M yang ada di dompetku atas nama Faaz, tidak mungkin tetap memilikinya saat kami bukan lagi suami istri dan saat itu, statusku adalah mantan istri walau belum menit.
"Boleh, sangat boleh, tapi saya antar ya," sahutnya.
Aku diam, bingung mau bilang apa, padahal aku yakin sisa u ang di dompetku tidak banyak, sementara Faaz tidak peka dengan ucapanku barusan.
"Mas!"
Aku tercekat, bingung kalimat apa yang sekiranya bisa kukatakan padanya.
"Saya berangkat sendiri aja," kataku.
Aku mengusap, akhirnya bisa mengeluarkan kalimat singkat itu.
"Minimarketnya lumayan jauh Ay."
Faaz menatapku lekat, tatapan yang dulu selalu membuatku mabuk, terjebak dengan kasih dan sayangnya. Ah, mendengar dia memanggilku Ay, saja hatiku mendadak lemah, meleleh seumpama es batu tersiram air hangat, seketika suasana hatiku menjadi hangat, padahal aku tahu kata talak baru saja pria itu lafazkan untukku.
"Tapi Mas, kita...,"
"Kamu boleh duduk di belakang," kata Faaz cepat.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
"Nggak ada apa-apa Mas," jawabku cepat.
"Kamu dari tadi menunduk, ada apa?" tanyanya lagi.
"Bukan apa-apa, saya hanya sedikit mengantuk, lelah."
Aku kembali menatap keluar jendela, takut jika ekspresi khawatir itu terlihat olehnya. Kami bukan siapa-siapa sekarang, tidak mungkin aku bermanja, meluapkan segala resah di hati.
Kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, tidak seperti pasangan suami istri yang lain, yang memang punya hubungan kekerabatan, atau rekan bisnis.
Aku hanya wanita malang, yatim piatu yang diangkat derajatnya oleh Faaz, pria itu pernah memberiku kehidupan yang layak, walau itu belum seberapa menurut beberapa orang, karena kami memutuskan tinggal di ru mah kontrakan yang sederhana.
Meski hari itu, aku harus menelan ludahku, bahkan hingga dua tahun terikat tali pernikahan dengan anaknya, ibu Shanum tidak pernah suka padaku.
"Sejak kapan nyari istri di panti asuhan, Ibu malu punya menantu dari panti asuhan," kata ibu Shanum kala itu.
Kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya, setelah pesta mewah di salah satu hotel bintang lima di kota Jakarta selesai.
"Bu!"
Faaz menyentuh lengan sang ibu, memberi isyarat bahwa tidak seharusnya dia bicara demikian, ada aku yang mendengar apa yang dia katakan. Namun, kala itu aku menggeleng, meminta Faaz agar tidak membelaku di hadapan sang ibu.
"Ay, kita sudah sampai," kata Faaz.
Aku tersentak dari lamunanku, ternyata perceraian kami membuka luka lama, aku menyesal, baru menyadarinya saat itu.
"Eh, maaf Mas."
Aku membuka pintu mobil, melangkah ragu, karena tahu sisa rupiah dalam dompetku tidak seberapa.
Aku mengambil dua pack mie instan yang sedang promo, sabun mandi dan shampoo. Melihat harga yang tertera lalu menjumlahnya dalam hati, harap-harap cemas, aku membawa ke kasir.
"Delapan puluh tiga ribu lima ratus rupiah Bu," kata sang kasir.
Aku membuka lipatan tanganku, dalam hati mengucap syukur yang dalam, uang dalam genggamanku lebih dari cukup, setidaknya aku tidak mempermalukan diriku, masih cukup dan bahkan masih bisa beli cilok besok.
"Ini."
Aku menyerahkan lembar lembaran terakhir yang aku punya.
"Itu saja?" tanya kasir.
Dan ah, aku sedikit tersinggung dengan ucapannya kala itu.
"Maryam!" seru seseorang.
Judul : IZINKAN AKU PERGI (Setelah Kau Talak) -
By Hasmi Asmaya Putry
#fyp #IzinkanAkupergisetelahKauTalak #hasmiasmayaputry #pantiasuhan
Cerita Maryam menggambarkan sisi lain dari masa iddah yang jarang dibicarakan secara terbuka. Masa iddah sendiri adalah masa tunggu yang wajib dijalani oleh seorang wanita setelah perceraian atau kematian suami, sebelum ia dapat menikah kembali menurut aturan agama Islam. Masa ini berfungsi sebagai periode refleksi dan penyembuhan, serta memastikan bahwa wanita tersebut belum hamil dari suaminya sebelumnya. Kisah Maryam yang harus tinggal di rumah kontrakan sederhana dan harus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan dana terbatas menunjukkan realita sosial yang sering dihadapi oleh banyak perempuan pasca perceraian. Terkadang, beban ekonomi dan tekanan sosial menjadi tantangan paling berat dibandingkan beban emosional yang sedang dialami. Maryam yang berasal dari panti asuhan, menghadapi stigma sosial dari keluarga mertua yang tidak menerima latar belakangnya, menambah berat tekanan yang harus ia hadapi. Dalam tradisi keluarga dan masyarakat tertentu, penerimaan atau penolakan terhadap menantu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, ekonomi, bahkan status asal-usul. Perasaan malu yang dinyatakan ibu Shanum dalam cerita ini menggambarkan bagaimana prasangka dan diskriminasi masih bisa membayangi keharmonisan sebuah keluarga. Kisah ini juga memperlihatkan hubungan antara Maryam dan Faaz yang berubah drastis, dari pasangan suami istri menjadi mantan yang harus menjalani proses iddah dengan nuansa penuh luka dan pengorbanan. Faaz tetap menunjukkan perhatian meski hubungan mereka telah berakhir, tapi Maryam mencoba menyembunyikan rasa sedih dan kewalahan yang ia rasakan agar tidak menambah beban keduanya. Hal ini juga mengingatkan pentingnya dukungan sosial dan pengertian dari lingkungan sekitar, terutama keluarga dan teman dekat, agar wanita yang mengalami perceraian tidak harus berjuang sendiri dalam masa iddah dan fase transisi kehidupan mereka. Pengelolaan keuangan yang ketat dan kebijaksanaan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pelajaran penting dari pengalaman Maryam, yang harus berjaga agar tidak mempermalukan diri walau kondisi belum ideal. Ini menjadi gambaran nyata bagi banyak orang bahwa masa pascaperceraian adalah masa pembelajaran ulang dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kemandirian finansial dan mental. Cerita "Izinkan Aku Pergi Setelah Kau Talak" mengajak pembaca untuk lebih memahami dan berempati pada sisi kemanusiaan yang sering tersembunyi di balik proses perceraian dan masa iddah. Perjalanan Maryam ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki kisah dan beban yang berbeda, dan dukungan emosional serta sosial sangatlah penting untuk memberikan kekuatan pada mereka yang sedang mengalami masa sulit.

