Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
Bab 4 ​Kamis sore. Aku sedang duduk di meja makan, mencoba fokus pada draf novelku, ketika Jefri pulang p u k u l empat sore dengan wajah yang luar biasa ce rah. ​Tak lama, suara tawa centil terdengar. Jefri masuk bersama Dita Octarina yang memakai terusan soft pink ketat, menonjolkan perutny
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Hampir tujuh tahun…. Hampir tujuh tahun lamanya aku mengabdikan diri di warung Ibu mertua. Aku mengor bankan masa kecil Arka_ putraku yang selalu aku ajak bekerja. Bahkan tidak jarang waktu mainku dengan dia tersita. Tidak itu saja, aku juga mengorb akan kesenanganku. Bahkan aku mengo rbankan wa
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 3 ​"Duh, Mbak Nanda, kalau lihat Saqueena itu ya, pinternya minta ampun. Kemarin dia dapet bintang empat di sekolah," ujar Risa sambil menyodorkan po to ngan apel padaku. Matanya berbinar, tapi ada nada pamer yang kental di sana. "Mas Jefri itu s a y a n g banget sama Saqueena. Tiap minggu p
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 2 ​Mas Jefri masuk ke k a m a r dengan wajah yang masih dipasang sesedih mungkin. Dia mengusap kepalaku, m e n c i u m keningku, persis seperti suami idaman di film-film religi. ​"Sabar ya, S a y a n g. Mas s a y a n g banget sama kamu," bisiknya pelan. ​Kalau saja aku tidak mendengar
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

“Rahma… Ibu tahu selama ini kamu sudah banyak membantu dan berjuang ma ti- ma tian untuk membesarkan warung Ibu. Tanpa kamu, mungkin warung soto ini tidak akan sebesar sekarang,” ucap Ibu mertuaku yang mend adak mengadakan rapat besar di r umah. Semua anggota keluarga di panggil, tak terkecuali aku
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

"Mas, aduh ... Mas Jefri, pe rutku sa kit sekali," ujar Nanda sambil menangis. Tangannya mere mas sprei, keringat dingin membanjiri keningnya. "Ya, Dek, Astaghfirullah, d a r a h dek, jangan-jangan kamu keguguran lagi." Mas Jefri segera menggendongku. Wajahnya kelihatan pa nik sekali. Di dalam m
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 3 Euforia keberadaan mobil Hon da Brio putih di halaman r u m a h kami belum surut. Sejak kemarin, tetangga seperti Bu Tari dan Jeng Lastri sengaja bolak-balik menyapu teras hanya untuk m e n c u r i pandang ke arah halaman r u m a h kakek. Rasanya kesuksesan finansial ini benar-benar menjad
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

BAB 2 Aroma kuah soto ayam yang baru mendidih memenuhi dapur, sedikit mengurangi sisa se sak di da da ku sejak kemarin sore. Sambil me mo tong daun seledri, mataku sesekali melirik ke arah luar jendela. Di seberang jalan, r u m a h berlantai dua milik Bu Tari sudah tampak ramai. Wanita itu sedan
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 1 “Tiga belas tahun itu bukan waktu yang sebentar, Jeng Aini. Masa ra him kamu masih saja sepi?” Aku mere mas ujung gamis di bawah meja arisan. Kalimat Bu Tari barusan meluncur begitu mulus. Di sekeliling kami, ibu-ibu komplek mendadak hening. Sebagian menatapku kasihan, sebagian lagi m e
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

LUKA 9 “Dasar pel*k*r mu rahan!” “Anya!” bentaknya. “Apa yang kamu lakukan?!” Namun putrinya sudah terlalu terba kar ama rah. “Aku cuma bilang fakta, Ma!” suara Anya bergetar keras. “Perempuan itu ti dur sama suami orang sampai ha mil!” Aula langsung sunyi. Detik berikutnya… bi
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 7 "Mas, kita harus bicara. Serius," ucap Nadia tegas, berdiri di depan meja TV dan langsung mema tikan sakelar listrik konsol game milik Ari. Seketika layar monitor menjadi hitam pekat. Ari tersentak, melepas headphone-nya dengan wajah merah padam karena kesal. "Apa-apaan sih, Nad?! Aku l
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

“Ya Allah ... astaghfirullah ....” Tub u hku melesat turun dan akhirnya terduduk di lantai dingin. Hari di mana aku dan Mas Anton berbahagia, kini dibalikkan dalam sekejap. Aku ha n cur dibuatnya. Aku ... mu rka. “Bunda.” Kinari mendekat dan mem elu kku. Ia mena ngis, berpadu dengan suarak
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

"Mbak Mahira? Saya dari Insert. Bisa minta waktu untuk wawancara soal vid eo Mbak Mahira yang sedang vi ral?" Mahira terkejut. "Maaf, untuk saat ini saya belum bisa memberikan jawaban. Saya perlu membahasnya dengan pihak ho tel." "Baik Mbak, kami tunggu konfirmasinya." Belum satu menit sam
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 3 "Bisa sebelum tagihan listrik lewat tenggat, Mas?! Kemarin sudah ada surat peringatan kedua! Aku malu kalau sampai diputus dan jadi omongan tetangga!" Suara Nadia meninggi di meja makan, menyorot suaminya dengan tatapan tajam. "Iya, aku usahakan, Nad!" nada suara Ari langsung membentak
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

LUKA 8 “Keluar dari rum ahku.” Suara Rania terdengar begitu datar hingga justru mena kutkan. Ardhana yang baru masuk ke apartemen beberapa langkah di belakangnya langsung membe ku. “Rania, dengar dulu” “Keluar.” Kali ini lebih keras. “Sebelum aku lupa bahwa kau pernah jadi orang yang pa
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Mas Adit masuk menggamit pinggang istri mudanya. Disusul ibu dan bapak mertua di belakang. Wajah mereka nampak lelah. Meski begitu, raut bahagia masih jelas terlihat di wajah pengantin baru tersebut. "Masak apa kamu, Ris?" tanya Bapak yang langsung berjalan ke dapur. "Risa gak masak, Pak. Ris
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

“Jadi untuk dekorasi pelaminan dengan tema gold and white, plus hiasan lorong dan flower wall di entrance, totalnya Rp 85 ju ta, Bu,” jelas Pak Agus. Bu Rukmini mengerutkan kening. “85 jut a? Tapi floristnya pakai bunga impor atau lokal?” “Kombinasi, Bu. Yang di flower wall pakai roses impor,
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

LU KA 7 “Buka pintunya, Aisyah!!” “Buka pintunya sekarang!” “K-Kak Rania…” PLAK! Tam paran keras mendarat di pipi Aisyah sampai tu buhnya terhuyung membentur daun pintu. “Aku menolongmu seperti adik sendiri!” suara Rania pe cah menggema. “Aku buka ru mahku untukmu! Aku kasih ma
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 1 "Dua setengah miliar, Mas?! Kamu mau bayar pakai apa? Pakai dasterku yang sudah robek-robek ini, hah?!" "Aku dijebak, Nad! Ada skandal pengadaan barang di proyek pusat," rintih Ari, suaranya parau dan bergetar panik. "Manajemen minta ganti rugi sekarang. Kalau tidak, kasus ini langsung di
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

"Untuk gu ga tan per ce ra ian dengan pembagian aset yang adil, Ibu butuh lebih dari itu." Nadira membuka halaman baru di mapnya. "Dokumen. Laporan ke ua ngan. Bukti trans fer. Apapun yang bisa membuktikan adanya kecurangan yang dibuat tanpa sepengetahuan Ibu selama masa pernikahan." "Berapa lam
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Lihat lainnya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒
0Mengikuti
403Pengikut
129Suka dan simpan

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

Postingan untuk yang suka membaca tulisan KBM. Bisa jasprom juga ya.