Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
BAB 1 "Indri, sini ibu mau bicara!" Siska memanggilnya dengan nada tinggi dari ru ang tamu. Indri baru saja selesai menata bunga di samping foto ayahnya. "Ada apa bu?" tanya Indri mendekati ibu tirinya, sementara Nina dan Dina membereskan sisa tahlilan 7 hari ayah mereka. "Kamu tahu aya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 2 “D a s a r perempuan k e r a s kepala tidak tahu diri!” Langkah Putri terhenti sesaat. “Sudah m a n d u l, cuma j u a l an cilok keliling, sekarang masih berani pasang har ga di ri di depan Ibu?!” Putri menge palkan tangan, tetapi tetap memilih berjalan menuju k a m a r. “Kamu
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 10 POV Surya Aku menghela n a p a s, mencoba mengatur emosi agar tak memuncak. Aku tak ingin liburanku kali ini dinodai dengan k e m a r a h a n akibat perbuatan Farhan, anakku. Aku menutup telepon setelah mengatakan kalimat yang membuat ia terdiam seribu bahasa: "Minta saja sama kelu
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 2 Amarah Ana yang tadinya mulai mereda, seketika tersu lut kembali. Ia lupa bahwa ia masih berada di lingkungan r u m a h sa kit. "Diam kamu! D a s a r laki-laki tidak bera dab! Dengar ... mulai detik ini kami tidak akan memberikan kabar apa pun lagi kepada keluarga kalian, karena Rima su
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 8 Hujan makin deras hingga malam, membuat kegiatan diundur besok. Di dalam tenda khusus, Luna menda dak terbangun sambil berte riak "T o l o n g!", disusul Nadia yang tersadar dan bingung hingga menduga mereka berada di dunia lain. Bu Sella, dokter kampus, menenangkan dan memeriksa kea
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Jam baru menunjukkan p u k u l setengah empat pagi ketika Wulan sudah berdiri di dapur. Ba dannya pe gal dan tang annya yang me le puh karena setrika terasa pe rih. Namun alarm ponselnya tidak kenal ampun. Bangun. Masak. Siapkan sarapan. Itu tugasmu. Ia menumis bawang untuk nasi goreng favorit
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab l "Bu ...," Rima memanggil ibunya dengan suara parau. Tanpa mera ba, ia mencari sang ibu dengan penglihatan yang tidak aktif lagi. Namun, mata batinnya jauh lebih t a j a m; ia mampu m e n c i u m kehadiran ibunya dan merasakan luka mereka. "Sabar, S a y a n g. Rendi pasti datang," Salmah me
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 9 Pov Farhan "Gimana, Bang? Apa kata Bapak?" Tanya Fahmi. "Kok diam saja sih, Mas? Jawab dong! Bapak kamu bilang apa?" Winda mende sakku. "Ehm... iya, itu... kayaknya ada salah paham antara Bapak dan pihak travel-nya. Bapak waktu itu bilang cuma mau batalin tiket pesawatnya, tapi p
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

part 1 “Arga benar-benar bingung, Bu.” Langkah Putri langsung terhenti di depan pintu. Itu suara suaminya. “Kenapa kamu bingung?” tanya Bu Rina. Putri yang baru pulang berju alan cilok mendekati ru ang tamu. Ia mengi ntip dari celah pintu dan mendapati Arga duduk bersama seorang pere
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 7 "Lo yakin mau samperin ke sana, Lun?" ragu Nadia. "Iyalah, buruan!" Luna mena rik tangan sahabatnya. Mereka melangkah keluar area kemah secara diam-diam. "Seenggaknya kita kasih tahu Kak Adrian atau Kak Yuda deh," pinta Nadia sembari menghentikan langkah. "Kelamaan, Nat. Suaranya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 8 B a n dar Udara Charles de Gaulle, Paris... Pesawat bergun cang pelan saat mendarat di bandara internasional di Kota Paris. Aku melirik jam di pergelangan tanganku; sekarang p u k u l 20.00 waktu Jakarta. Saat berjalan menuju bagasi, aku menghidupkan ponselku. Beberapa saat kemud
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 4 Wulan membuka ma ta. Dengan sisa tena ga, ia berdiri. Membuka kulkas. Sayuran tinggal sedikit, telur dua, serta tahu dan tempe. Ia memasak dengan gerakan lam bat. Tangan yang mele puh terasa pe rih, tapi ia tidak berhe nti. Menu siang itu sederhana: sayur bening, tahu, tempe, dan sambal
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Sedan hitam itu perlahan memasuki pelataran gedung megah PT Maju Pangan Indonesia. Jam digital menunjukkan p u k u l sepuluh lewat lima belas menit. Dessy mena tap gedung tinggi di hadapannya. Bertahun-tahun ia meninggalkan kekua saan ini demi hidup sederhana bersama pria yang dulu dianggapnya cin
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

BAB 5 "Jika satu helai rambutnya ja tuh karena kela laianku, aku sendiri yang akan mengantarkan kepa laku ke hadapan Anda. Tapi selama aku masih memakai lencana ini, jangan harap siapa pun bisa menyen tuh istriku!" Suara Dirga mengge legar di ru ang tamu kediaman Komandan Batalyon (Danyon). Ain
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 6 Hari H kemping kampus biru tiba. Pagi ini maba berkumpul di lapangan, panitia bersiap sejak semalam, termasuk Luna dan Nadia. "Lo nggak lupa bawa jaket kan, Na?" tanya Nadia sambil memeriksa barang. "Nggak udah gue siapin di tas. Lo bawel banget, kempingnya cuma 3 hari 2 malam, kan?" j
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 3 Wulan me nelan lu dah. Tangannya le cet karena setrik. Kaki pegal karena berdiri sejak jam 4 pagi. Tapi ia hanya berkata, "Baik, Ibu." Ia berjalan menuju tangga. Setiap langkah terasa berat. Di pertengahan tangga, ia berhenti. Apakah ini yang dinamakan per nikah an? Apakah ini ya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 9 P u k u l sembilan tepat. Aula utama PT Maju Pangan Indonesia mendadak hening. Seluruh direksi, manajer, dan staf pilihan duduk rapi dengan wajah tegang. Semua ma ta tertuju ke pintu utama. Hari ini Haris yakin hidupnya akan berubah. Hari ini aku akan bertemu Pewaris Utama Grup P
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 2 Aku kembali ke r u m a h dengan t u b u h lung lai dan tatapan kosong. Aku menatap layar ponsel, centang biru ganda di pesan yang kukirimkan pada Fahmi. Pesan yang berisi tiket pesawat PP untuk delapan orang, bukti pemesanan ho tel, serta tiket masuk tempat wisata selama di Singapura.
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

BAB 3 Anda tidak ti dur?" tanya Aini pelan dari balik se li mut. "Ti durmu adalah tugasku malam ini. Aku tidak akan membiarkan bayangan masa lalumu masuk ke ka mar ini lewat mimpi sekalipun," jawab Dirga tanpa menoleh. Keheningan malam di barak terasa begitu magis. Namun, di dalam hati kec
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 2 Ia tidak men4ngis. Air m4tanya habis saat lamaran dulu, saat tahu bahwa pernikahannya bukan karena cinta, tapi karena tran s4k si. Yang tersisa hanya kebekuan di da da. Jam 4 pagi, alarm di ponselnya berbunyi. Wulan bangun dengan bad4n peg4l. Ia belum t i d u r nyenyak. Dia berj4lan
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Lihat lainnya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒
0Mengikuti
413Pengikut
129Suka dan simpan

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

Postingan untuk yang suka membaca tulisan KBM. Bisa jasprom juga ya.