“Kenapa nggak pakai selimut kalau kedinginan?” suara Arga terdengar setengah jengkel, setengah khawatir.

Nadira men gg1git b1 bir. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria ini. “Aku... baik-baik saja.”

Arga mendecak pelan. Keras kepala.

Tanpa memperpanjang perdebatan, ia bangkit dan mengambil selimut dari r4 nj4 ng. Namun, begitu ia menutupkan selimut itu ke tu buh Nadira, ia menyadari sesuatu.

Ga dis itu tetap menggigil, tub uhnya masih terasa panas.

Arga menarik napas panjang. “Kayaknya demam kamu cukup tinggi.”

“Aku bisa tidur di sini...” ucap Nadira, suaranya lemah.

Namun, Arga tidak berniat mendengarkan.

Dengan gerakan mantap, ia meraih t ubuh Nadira dan mengangkatnya dalam gen d0 ngan.

Nadira terkejut. “Arga, turunkan aku!”

Arga tidak peduli. Ia membawa Nadira ke r4 nj 4ng dengan mudah, seolah g adis itu tidak lebih berat dari sehelai kain.

“Kamu demam, Nadira. Nggak perlu pura-pura kuat.”

Nadira ingin membantah, tapi kepalanya terasa berat. Ia bahkan tidak bisa menahan tu buhnya sendiri saat Arga mendudukkannya di r4 nj4 ng.

Pria itu berj0n gkok di depannya, menatapnya dengan ekspresi serius. “Tidur di sofa cuma bikin kamu tambah sa kit. Sekarang, tidurlah di tempat yang benar.”

Nadira men d3 sah pelan, terlalu lelah untuk berdebat.

Arga menarik selimut lebih tinggi, memastikan tub uh istrinya tetap hangat.

Namun, ia masih belum puas.

Ia bangkit, mengambil handuk kecil, lalu berjalan ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan handuk yang telah dibasahi air hangat.

“Arga, apa yang?”

Tanpa menjawab, ia dengan lembut menempelkan handuk itu ke dahi Nadira.

Gadis itu terdiam. Sentuhan kain hangat di kulitnya terasa menenangkan dan entah kenapa, tindakan Arga kali ini terasa berbeda.

Lebih perhatian.

Lebih... mengkhawatirkan dirinya.

Jantung Nadira berdetak lebih cepat, bukan karena demam, tapi karena sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Arga tetap diam, fokus mengganti kompres di dahinya. Lalu, tiba-tiba, pria itu melakukan sesuatu yang membuat Nadira hampir berhenti bernapas.

Arga bergerak naik ke r4 nj4 ng, menyandarkan punggungnya ke headboard, lalu menarik tu buh Nadira ke arahnya.

Dita rik.

Ke dalam pelu kannya.

Nadira tersentak. “A-Arga! Apa yang kau?”

“Kamu kedinginan, kan?” suaranya rendah, tenang, tapi ada nada memerintah di dalamnya.

Nadira membeku.

Arga meletakkan satu tangannya di punggungnya, memberikan kehangatan yang stabil.

“Arga, ini...”

“Diam.”

Suara itu tidak terdengar taj 4m, tapi cukup untuk membuat Nadira terdiam.

Jarak mereka terlalu dekat.

Nadira bisa merasakan kehangatan tubuh Arga menembus piyamanya. Nafas pria itu terasa di puncak kepalanya, membuat kepalanya semakin panas, bukan hanya karena demam.

“Aku cuma memastikan kamu nggak makin s akit,” bisik Arga.

Iya, tapi kenapa cara ini bikin jantungku hampir copot?! batin Nadira.

Nadira menutup matanya rapat-rapat, mencoba mengabaikan debaran di da danya. Ia terlalu lelah untuk berdebat dan terlalu lemah untuk melepaskan diri.

Dan sebelum ia menyadarinya, kantuk mulai menyerangnya.

Pelan tapi pasti, tu buh Nadira mulai rileks dalam kehangatan yang diberikan Arga.

Di saat yang sama, senyum tipis muncul di sudut bibir pria itu.

Perlahan, Nadira... Aku akan menghapus garis yang kamu buat itu, batin Arga.

***

Ikuti ceritanya di k b m app, SUDAH TAMAT

judul: Menikahi Pria Misterius

penulis: windra yuniarsih

username windrayu

#windrayu

#menikahipriamisterius

#part5

2025/9/21 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam cerita "Menikahi Pria Misterius", hubungan antara Nadira dan Arga menunjukkan dinamika unik dalam pernikahan yang awalnya hanya di atas kertas. Momen saat Nadira sakit dan Arga menunjukkan perhatian yang tulus menjadi titik balik emosional yang penting. Seringkali, pasangan yang baru menikah menghadapi tantangan komunikasi dan pengertian satu sama lain. Arga yang keras kepala namun peduli menggambarkan bagaimana cinta dapat tumbuh melalui tindakan kecil penuh perhatian, seperti mengganti selimut dan memberikan kompres hangat ketika pasangan demam. Hal-hal sederhana ini menjadi simbol kehangatan dan perlindungan dalam rumah tangga. Selain itu, cerita ini juga menampilkan bagaimana menghadapi perbedaan sikap antara pasangan. Nadira yang berusaha terlihat kuat sebenarnya membutuhkan dukungan, sedangkan Arga dengan caranya yang tegas ingin memastikan istrinya sehat dan nyaman. Ini mencerminkan pentingnya empati dan kepekaan dalam hubungan suami istri. Cerita "Menikahi Pria Misterius" juga mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan hanya sekadar status, tetapi proses panjang membangun kepercayaan dan cinta yang tulus. Mulai dari hari pertama malam pernikahan, seperti yang disinggung dalam OCR, Arga menginginkan Nadira untuk benar-benar menjalani peran sebagai istri bukan cuma formalitas, sebuah refleksi dari komitmen batin yang serius. Untuk pembaca yang sedang menjalani hubungan atau menikah, kisah ini bisa menjadi inspirasi bagaimana memperhatikan pasangan dengan sungguh-sungguh bisa merubah suasana hati dan mempererat ikatan emosional. Tanya jawab yang tenang dan tindakan penuh cinta, meskipun sederhana, menunjukkan bahwa cinta dalam pernikahan perlu dibuktikan setiap hari. Pada akhirnya, cerita ini memperlihatkan bahwa di balik setiap tindakan dan dialog, ada rasa kasih yang tumbuh perlahan, menyembuhkan luka dan menghapus garis-garis keraguan yang mungkin ada. Nadira dan Arga menjadi contoh bagaimana pasangan bisa saling menjaga dan menguatkan, bahkan dalam kondisi susah sekalipun.