“Aku nggak melakukan apa pun yang kamu pikirkan. Aku cuma memastikan kamu ti dur nyenyak dan nggak menggig il semalaman,” lanjutnya. “Dan kalau kamu bisa bangun dengan wajah semerah itu, berarti kamu sudah baikan.”
“Kita harus membuat batas yang jelas.”
Arga menoleh dengan satu alis terangkat. “Batas?”
“Ya. Seperti yang aku bilang kemarin, kau jangan mengharapkan lebih dari pernikahan ini. Bukankah kamu bilang setuju?” tanya Nadira, suaranya tegas. “Aku tidak mau ada sen tu han f isik di antara kita. Pernikahan ini hanya formalitas, Arga. Aku tidak ingin membuat kesalahpahaman.”
Alih-alih terlihat terpengaruh, Arga justru tersenyum tipis.
“Ya, aku setuju. Aku tidak akan mengharapkan lebih. Aku hanya mengharapkan sebuah pernikahan. Kau sadar kan dalam sebuah pernikahan, kita ini sudah sah menjadi suami istri?” katanya santai. “Dan suami istri itu halal, Nadira. Kalau aku menyee n tuhmu, itu bukan dosa.”
Nadira mengep alkan tangannya di atas selimut, merasa wajahnya kembali mema nas.
“Tapi pernikahan ini bukan atas dasar cinta!” balasnya cepat. “Ini hanya perjanjian. Jadi, aku ingin semuanya tetap profesional.”
Arga menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum ia bera njak dari posisi ti durnya. Dengan gerakan santai, ia mencon dongkan tu buh ke depan, mendekati Nadira.
Jantung Nadira langsung berdetak kencang.
Arga tidak menye ntuhnya, tapi kedekatan mereka sudah cukup membuat tub uhnya menegang.
Lalu pria itu membuka mulutnya dan kata-kata yang keluar benar-benar membuat Nadira kehilangan keseimbangan.
“Menurutmu, kenapa aku ingin menik ahimu?”
Nadira mengerjap. “Apa?”
“Apa kau benar-benar percaya kalau aku hanya ingin membantumu mengem bangkan perusahaan warisan ayahmu dengan status sebagai suamimu?”
Nadira terdiam. Ia ingin mengatakan ya, tapi ekspresi Arga yang begitu yakin membuatnya tidak bisa langsung menjawab.
Arga sedikit memiringkan kepalanya, matanya tetap mengunci Nadira seakan membaca setiap pikirannya.
“Asal kamu tahu,” suaranya merendah, nadanya sedikit lebih dalam, “aku menginginkanmu. Jadi, kau harus profesional saat menjadi istriku.”
Jantung Nadira berhenti sejenak.
Ia mene lan lu dah, tu buhnya membeku di tempat.
“Apa... apa maksudmu?” tanyanya pelan, hampir berbisik.
Arga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sebelum perlahan mundur, kembali bersandar santai pada sandaran tempat tidur.
“Sudah hampir subuh. Kalau kau masih merasa demam, istirahatlah, tapi kalau sudah baikan, setelah sholat dan mandi, kita turun untuk sarapan,” ucapnya seolah percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi.
Nadira masih terpaku.
Ia belum benar-benar bisa mencerna apa yang baru saja dikatakan pria itu.
Arga menginginkannya? Harus profesional saat menjadi istrinya? Pikiran Nadira semakin kusut.
“Asal kau tahu Nadira. Aku menikahimu bukan sebagai partner bisnis, bukan juga sebagai istri kontrak, tapi, sebagai wa nitaku,” ujar Arga menutup obrolan.
Detik itu juga, Nadira merasa terperangkap.
Nadira menelan lu dah. Da danya terasa sesak, bukan karena demam, tapi karena kehadiran pria di hadapannya yang kini terasa lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Sebagai wanitaku…
Kata-kata itu mengendap di benaknya, berputar tanpa henti.
Arga tersenyum kecil, jelas menik ma ti ekspresi paniknya. “Kenapa kau terlihat begitu takut?” bisiknya.
“Aku tidak takut,” sangkal Nadira cepat, meskipun suaranya bergetar. “Lucu sekali, usiaku jauh di atasmu. Mana mungkin aku takut sama bocah.”
Arga mengangkat alis. “Oh ya? Sekadar mengingatkan bocah di hadapanmu ini sudah berusi a dua puluh lima tahun, Ra.”
Tiba-tiba, tangannya terangkat. Nadira menahan napas, pikirannya langsung kacau. Namun, bukannya menye ntuh wajahnya, Arga hanya menyelipkan anak rambut yang jatuh ke pipinya, gerakannya begitu lembut.
“Jangan khawatir, Nadira,” ucapnya, suaranya rendah dan dalam. “Aku tahu batasanku. Paling tidak untuk sekarang.”
Untuk sekarang?
judul: Menikahi Pria Misterius
penulis: windra yuniarsih
username: windrayu










