PART 2
Alisya menarik nap4s panjang. “Oma… Alisya setuju. Lebih baik kita segerakan saja pernikahannya. Oma harus segera berangkat.” Suaranya lirih, tapi penuh keteguhan.
“Iya, sayang. Oma lega sekali.” Senyumnya begitu hangat. “Besok kalian mulai persiapan ya, fitting kebaya dulu.”
“Fitting? Besok? Duh, tugas kantor belum kelar “Alisya mend3 s4h dalam hati.
Seolah bisa membaca pikirannya, Arka menyeruput kopinya lalu berkata santai, “Oke, Oma. Besok aku dan Alisya cek pakaian.”
Lalu ia melirik Alisya sambil menyering4i penuh makna. Ia tahu Alisya pasti p4n!k karena deadline kantor belum selesai.
“Oke, kalian cuma perlu urus pakaian dan mas k4w!n. Yang lain Oma dan Mami Alena yang atur,” ucap Oma tenang.
“Baik, Oma,” jawab mereka kompak meski dengan hati yang sangat tidak kompak.
***
“Lo keterl4lu4n, Ka. Jangan nyik s4 Alisya terus,” tegur Daffa.
Arka hanya terkekeh. “Ini belum seberapa. Dia tuh udah sering banget bikin ulah.”
“Pokoknya jangan sampai Alisya gue kenapa-kenapa.” Daffa bangkit mening galkan ruangan.
Arka terdiam. Kata-kata Daffa tadi menggantung di kepalanya. “Alisya gue? Sejak kapan daffa sedekat itu sama si res3k itu?”
Tak lama, Daffa mendatangi ruang kerja Alisya yang masih tenggelam dalam tablet dan tumpukan berkas.
Tok tok.
Pintu diketuk. Alisya mendongak dan langsung tersenyum.
“Pak Daffa? Sudah balik dari luar negeri?” sapanya ramah.
Daffa tersenyum. “Kamu pasti capek banget, ya, Sya. Mata kamu... nggak bisa bohong. Dih vkum Arka lagi, ya?”
Alisya menarik nap4s panjang lalu tersenyum tipis. “Begitulah, Pak... Saya yakin Bapak sudah dengar ceritanya dari Pak Arka, kan?”
Daffa tertawa pelan. “Iya, dia langsung curhat. Tapi tenang, saya udah suruh Bagas bantuin kamu. Kirim aja semua file dan instruksinya ke dia. Saya pastiin Arka nggak tahu.”
*
Waktu berlalu cepat. Kini, Alisya dan Arka berdiri di sebuah butik pengantin ternama, rekomendasi langsung dari Oma Dyah.
Rasanya seperti mimpi buruk disiarkan dalam HD.
“Ini setelan terbaik kami, Pak. Mau dicoba sekarang?” tanya salah satu staf butik dengan nada menggo d4. Matanya berbinar melihat Arka.
Arka berdiri tegap di depan cermin besar. Beberapa staf wanita lain mencuri pandang, menahan d3 s4han kecil. Ketampanan pria itu memang bikin g4duh.
Namun, Arka hanya mengangkat tangan, memberi isyarat penolakan, lalu menoleh ke belakang.
Alisya paham. Ia melangkah maju. “Biar saya aja, Mbak,” katanya pada staf dengan senyum sopan.
Lalu, ia mulai memakaikan jas itu ke tu bvh Arka. Sosok Arka dengan ketampanan, tu bvh yang tinggi dan atletis, tampak memukau dengan setelan apa pun.
Selama ini, Arka memang tidak suka disentvh sembarangan. Ia cenderung menghindari wartawan, kamera, bahkan orang baru. Tapi entah kenapa, jika Alisya yang mengurusnya, ia tak keberatan. Itulah alasan kenapa ia enggan mencari sekretaris baru meski berkali-kali berganti tak ada yang cocok. Alisya, meski sering bikin emosi, justru paling paham maunya.
“Sempurna,” gumam Arka sambil memandangi bayangannya di kaca. “Pakaian lima ribu pun, kalau saya yang pakai, kelihatan kayak lima puluh juta.”
Staf tertawa kagum.
Tapi Alisya? Ia mendengus. “Nggak ada pakaian lima ribu, Pak,” balasnya datar. “Narsis banget sih, ya Allah...”
Arka hanya terkekeh puas dengan dirinya sendiri.
“Mbak Alisya, kebayanya sudah siap dicoba. Silakan ke ruang ganti,” ujar staf butik lainnya.
“Baik, Mbak,” jawab Alisya.
Ia berjalan mengikuti staf. Sementara Arka duduk di sofa kecil dekat tirai, tempat calon pengantin pria biasanya menunggu momen dramatis: sang calon istri keluar mengenakan kebaya pengantin.
Ia bersandar santai, sudah menyiapkan segudang komentar m3nyeb4lkan untuk menyambut Alisya nanti.
Beberapa menit berlalu.
Lalu, staf itu kembali membuka tirai. “Mbak Alisya sudah siap, Pak.”
Namun, sesaat setelah tirai terbuka…
Arka membeku. Matanya membelalak.
“Bukan... ini bukan Alisya yang rese k itu.”
***
Bersambung...
Yuk Baca selengkapnya hanya di Kbm App
Judul : DEAR BOS, AKU ISTRIMU!
Penulis : serdaduasa
Cerita "Dear Bos, Aku Istrimu!" ini mengangkat kisah yang penuh konflik batin dan dinamika hubungan antar tokoh. Pada bagian ini, terlihat betapa persiapan pernikahan Alisya dan Arka dipercepat akibat situasi mendesak yang dihadapi keluarga, terutama dengan kondisi Oma yang harus segera berangkat. Hal ini menambah ketegangan karena Alisya harus menyelesaikan deadline kantor yang masih menumpuk, sebuah dilema yang umum dirasakan banyak calon pengantin wanita yang masih aktif bekerja. Persiapan seperti fitting kebaya dan cek pakaian bukan hanya ritual biasa, tetapi menjadi momen emosional yang memperlihatkan karakter dan hubungan antar tokoh. Alisya yang menggantikan Arka untuk mencoba jas pengantin mengungkap sisi perhatian dan kedekatan mereka, sedangkan sikap Arka yang narsis namun juga protektif terhadap Alisya memberi warna pada hubungan mereka. Kesan ketidaknyamanan dan kegelisahan pun muncul ketika Arka menyadari sosok di balik tirai bukan Alisya yang biasa ia kenal, menambah unsur misteri dan ketegangan cerita. Dalam konteks UGC dan minat pembaca, kisah yang menggabungkan unsur romansa, kesibukan kerja, dan tradisi pernikahan seperti kebaya pengantin sangat relevan dan menarik terutama untuk khalayak muda dan wanita di Indonesia. Mereka dapat merasakan tekanan dan dilema yang dialami Alisya sebagai perempuan yang harus menyeimbangkan peran profesional dan pribadi. Kata kunci yang patut diperhatikan seperti "fitting kebaya", "persiapan pernikahan cepat", "deadline kantor dan pernikahan", serta "ketampanan calon pengantin pria" akan membantu artikel ini terlihat dalam pencarian yang berkaitan dengan pengalaman pernikahan dan kehidupan profesional yang sibuk. Selain itu, bagian kecil yang hadir dari OCR "Aku bahkan terang-terangan menghina dia. Tuhan Tapi punya cara bercanda... hari hinaanku, tiga setelah aku malah jadi istrinya dan ternyata... sisi dirinya ini dia selama yang sembunyikan, jauh lebih berbahaya dari aku bayangkan" menggambarkan adanya perubahan dinamika dalam hubungan tokoh utama yang menambah kompleksitas cerita. Hal ini memberi gambaran bagaimana konflik personal yang tersembunyi dapat menjadi pusat perhatian pembaca dan mendorong mereka untuk mengikuti kelanjutan kisah ini. Dengan konten yang kaya akan konflik emosional dan budaya lokal seperti penggunaan kebaya pengantin, serta karakter yang relatable, artikel ini berpotensi besar menarik pembaca tidak hanya dari segi hiburan, tetapi juga sebagai refleksi diri. Untuk penulis lain yang ingin mengembangkan karya sejenis, fokus pada perincian emosi karakter dan latar budaya yang autentik akan sangat meningkatkan engagement dan kualitas SEO di platform seperti Google, terutama dalam topik topik niche pernikahan dan kehidupan urban Indonesia.

