Bertahan atau Pergi???
Bab 2
"Mas, surat sidang pertama sudah datang."
Ucapku hati-hati sambil menyiapkan sarapan pagi untuknya, di meja makan. Dia yang sedang duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya bersiap sarapan dan berucap.
"D asar ke ras kep ala! Kau tak memikirkan an ak-a nak sama sekali."
Ya Allah, begitu mudahnya dia membalikkan fakta. Mengapa selama ini ia tak menjaga hubungan ini dengan baik? Kenapa hanya aku? Dan kenapa aku yang selalu merasakan tekanan batin yang bertubi-tubi. Sedangkan Dani tak peduli pada perasaanku sama sekali.
Aku hanya punya waktu pagi ini untuk menyampaikannya padamu, karena kamu selalu pulang larut malam. Aku juga ngga mau a nak-an ak mendengar percakapan kita.
"Kumohon, Mas sebaiknya tak hadir saja, saat sidang pertama nanti. Agar urusan ini cepat selesai."
"Aku akan datang! Aku pasti datang!"
Jawabnya be rat, memandangku tak suka.
Ia tak menyentuh sarapannya karena sudah kehilangan selera. Hanya meneguk dua kali, jus jeruk hangat di gelas bening berkaki, lalu berlalu pergi.
Aku masih terbengong di meja makan menatap piring yang masih penuh belum di sentuh.
Ya Rabb, apa aku harus membuka semua aib rumah tanggaku, di depan Pak Hakim...?
Empat bulan berlalu. Panggilan sidang kedua kembali kuterima. Kali ini panggilan untuk pengugat saja yaitu aku beserta 2 orang saksi.
"Mas, aku berangkat ya, Assalamualaikum." Ucapku deg-degan sambil menatap wajahnya sekilas saja. Bagaimanapun aku harus pamit saat keluar ru mah, apa lagi ini urusan sensitif.
Dia bergeming, lebih asyik dengan ponselnya.
"Mas kamu dengar?"
Dia hanya menoleh ke kiri, tepat ke lantai keramik dan tak menatapku barang sekejap aja. Kembali iya ke ponselnya dan bergumam. "Hmmm."
Aku akhirnya melangkah mantab, setelah mendapat ijin darinya.
"Sarapan dan minuman, Mas sudah siap semua di meja."
Selama ini, ia sering pergi berhari-hari, bersama supirnya. Pergi dan pulang seenaknya, tanpa memberitahuku. Dan tanpa peduli perasaan kami di ru mah. Itukah yang dinamakan qowwam -pemimpin dan pelindung- keluarga?
"Kenapa ibu mengajukan ce rai?"
Aku terdiam mematung, perasaanku sangat b erat. Mulutku terkunci berlapis-lapis, susah sekali bersuara. Rasanya energiku habis sehingga sulit bersuara.
"Pak, saya sudah lelah. Saya ingin tenang...."
Aku terdiam beberapa saat. Hatiku beku, dan lisanku terasa kelu. Aku mencoba menahan air mata yang sudah menghangat dan terasa pegal di netra mataku.
"Pak, sudah hampir sepuluh tahun ini, saya mengalami sikap suami yang membenci saya. Ia seperti superhero pada orang lain. Suami saya NPD, Pak Hakim..." Ucapku tercekat, mataku memerah dan bas ah.
Aku melemah dan tak berminat bercerita lagi. Tapi yang bertanya ini adalah Pak Hakim.
"Apakah suami ibu, melakukan KDRT?"
Aku mengangguk pelan dan tak berkomentar banyak. "Ya, Pak..."
"Apakah suami ibu, ada PIL?"
Aku menjawab lagi, "Ya, Pak..."
"Apa Ibu mendapatkan nafkah lahir dan batin?"
"Tidak, Pak Hakim."
"Apa keputusan Ibu sudah bulat? mungkin Ibu mau mempertimbangkan kembali?"
"Sudah cukup, Pak..."
"Baiklah. Tidak ada perceraian yang baik. Tapi kalau dipaksakan juga tak baik untuk Ibu dan an ak-a nak. Ibu yang merasakannya selama ini. Bersabar dan berdoalah memohon pertolongan Allah SWT."
"Ya, Pak Hakim..."
Akhirnya putusan pengadilan Agama kel uar. Aku menangis antara bahagia dan sedih. Seperti ada yang lepas dari diriku. Yang terasa ringan dan tenang.
Saat itu, aku resmi berstatus janda. Saatnya aku bisa lepas dari pernikahan toksik ini. Meski demikian, hatiku tetaplah perih. Bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian dari diriku. Ia dulu pernah sangat mencintaiku. Tapi cinta itu mening galkan pedih dan kenangan pahit.
Judul: Cinta Kedua (Treat like a Queen)
Penulis : Ratna Mestika Sinaga
Seringkali dalam hubungan, kita dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau pergi. Dari pengalaman saya, keputusan ini tidak mudah, apalagi ketika sudah ada perasaan cinta dan tanggung jawab. Namun, saat rasa sakit dan ketidakpedulian mulai menguasai, bertahan bukan lagi solusi yang sehat. Saya belajar bahwa penting untuk mendengarkan hati dan menjaga kesehatan mental. Bertahan hanya demi anak-anak atau status tanpa adanya perubahan positif bisa memperburuk keadaan. Memutuskan untuk pergi pun bukan berarti menyerah, melainkan bentuk keberanian membebaskan diri dari luka lama. Dalam proses sidang dan pembicaraan dengan pihak berwenang, saya sadar bahwa membuka aib bukan untuk menyakiti, melainkan langkah awal menuju pemulihan diri. Pengalaman menghadapi KDRT dan ketidakadilan dalam rumah tangga semakin memperkuat tekad saya untuk memilih kehidupan yang damai. Saya juga mendapatkan pelajaran penting bahwa setiap orang berhak merasakan kebahagiaan, dan tak ada salahnya memulai babak baru. Dukungan dari keluarga, teman, dan doa adalah kekuatan utama selama menjalani masa sulit ini. Jangan takut untuk mencari pertolongan dan jangan merasa sendiri dalam menghadapi persoalan rumah tangga. Pesan saya, dengarkan perasaanmu dan jangan biarkan rasa sakit menjadi beban yang tak tertahankan. Bertahan atau pergi adalah pilihan pribadi yang harus diambil dengan bijak dan penuh pertimbangan demi kehidupan yang lebih baik.

