Spoiler Bab

Di Panggung Seminar

Lampu sorot menyoroti panggung. Moderator memperkenalkan, “Inilah Ibu Dian Zuhra, pengusaha muda yang sukses merintis usaha fashion muslimah dari rumah.” Tepuk tangan meriah mengiringi langkah Dian ke podium.

Tangannya sedikit gem etar, tapi matanya teguh. Ia mulai bercerita tentang perjalanan dari seorang guru honorer, istri, ibu, hingga akhirnya membuka jalan bisnis dengan segala keterbatasan.

“Semua ini berawal dari kebutuhan sederhana. Saya ingin membantu ekonomi keluarga, tanpa mening galkan peran saya sebagai ibu. Saya percaya, perempuan bisa tetap mendidik an ak dengan baik, sekaligus memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.”

Kalimatnya mengalir, penuh keyakinan. Para peserta, kebanyakan ibu muda, tampak mengangguk dengan mata berbinar. Ada yang meneteskan air mata, ada pula yang mencatat setiap kalimat dengan serius.

Dian menutup dengan sebuah pernyataan:

“Kalau ada yang bilang seorang istri tak boleh bermimpi besar, saya ingin buktikan bahwa mimpi perempuan bukan untuk menyaingi, tapi untuk melengkapi. Karena keluarga yang kokoh lahir dari pasangan yang saling dukung, bukan saling jatuhkan.”

Tepuk tangan kembali menggema. Dian tersenyum, meski di hatinya terselip pe rih: kata-kata itu sesungguhnya ditujukan untuk seseorang yang tak hadir di kursi penonton—Ryan.

Dian membuka jendela k4 m4r. Angin malam Jakarta menyelinap masuk. Ia berdiri menatap lampu kota, lalu menelpon Daffa lewat video call.

Wajah 4 n4k kecil itu langsung memenuhi layar. “Bunda...!” teriak Daffa riang, sambil melom pat di atas sofa ru mah.

Air mata Dian seketika jatuh. “Sayangku... Bunda kangen sekali.”

“Daffa sama Ayah baca dongeng. Bunda kapan pulang?” suara polos itu membuat d4 d4 Dian sesak.

“Besok lusa, Nak. Tunggu ya. Jangan na kal, harus sayang Ayah...” ucap Dian sambil tersenyum meski bib irnya berg etar.

Daffa mengangguk, lalu menoleh ke samping. “Ayah... sini, Ayah. Ada Bunda.”

Ryan muncul di layar, duduk agak jauh. Raut wajahnya canggung, seolah tak tahu harus berkata apa. Tangannya mengusap pelan kepala Daffa.

“Halo,” ucapnya singkat, tanpa senyum.

Dian menelan ludah. “Assalamu’alaikum, Yank.”

“Wa’alaikumussalam.” Hanya itu.

Beberapa detik hening. Yang terdengar hanya suara kipas angin di ru mah mereka, dan dengung lalu lintas Jakarta di balik jendela kam ar hotel Dian.

“Apa kabar?” tanya Dian, mencoba membuka percakapan.

“Baik.” Jawaban Ryan pendek, datar.

Dian menunduk sebentar, lalu kembali tersenyum pada Daffa. “Nak, jangan suka ti dur larut, ya. Bunda titip salam sama Ayah juga.”

Daffa mengangguk polos. “Iya, Bunda.”

Ryan terlihat hendak bicara, bibirnya terbuka, tapi akhirnya ia hanya mengangguk tipis.

Dian menahan rasa getir di d4 d4. “Ya sudah, Yank... terima kasih sudah jaga Daffa.”

Ryan menjawab pelan, nyaris tak terdengar, “Iya.”

Video call berakhir dengan wajah ceria Daffa melambai. Begitu layar ponsel gelap, Dian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak sore ia tahan akhirnya pecah.

“Ya Allah, kuatkan aku... untuk jadi ibu yang tetap hadir, meski jarak memisahkan.”

Malam itu, dua hati—di dua kota berbeda—masih saling terikat, tapi dibatasi jarak, gengsi, dan kesalahpahaman.

Dian di Jakarta, menata mimpinya.

Ryan di Palembang, terjebak dalam egonya.

Pertanyaannya: apakah mereka masih punya jalan untuk bertemu di satu titik, dengan langkah yang sama?

---

BERSAMBUNG!

Judul: Aku,Istrimu!

Penulis:RumputLiar

Lanjut baca di KBM Aplikasi yuk!💚🌟

Terima kasih!🙏🏻

#NovelIndonesia

#NovelRumtang

#CeritaViral

#akuistrimu #rumputliar

2025/10/4 Diedit ke