Kau boleh ambil suamiku, tapi tidak dengan anakku. Awas saja kalau berani! Aku pastikan hidupmu tak kan tenang.
MEMBO DOHI GUN DIK SUAMIKU
BAB 7
Sheilaluktri
Ru mah besar peninggalan keluarga Reinaldi malam itu tampak seperti lautan cahaya. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan kilau ke setiap sudut ruangan, sementara wangi mawar dan melati menyusup dari rangkaian bunga di sepanjang koridor. Para tamu berdatangan dengan busana terbaik mereka, membawa doa dan senyum, menyaksikan aqiqah untuk bayi pasangan Romeo dan Aqeela, Rei Sutama.
Musik biola mengalun memenuhi udara. Seorang ustaz telah memimpin doa dan pembacaan nama, lalu sejenak para tamu menikmati hidangan kambing guling, tumpeng, sup, dan manisan. Rei, mungil dan damai, berada dalam pengawasan dua baby sitter professional dan tiga ART khusus untuk ba yi kecil itu.
“Selamat, Nyonya,” ucap seorang tamu perempuan, menangkupkan kedua tangan. “Namanya bagus sekali. Semoga jadi a nak saleh.”
“Terima kasih. Mohon doanya,” jawab Aqeela, suaranya lembut dan sopan.
Romeo mencondongkan tu buh, menaruh tangan di punggung istrinya, gerak kecil kepemilikan yang di mata orang tampak mesra. “Kau cantik malam ini,” katanya dengan gumam rendah.
Aqeela menoleh, memberi angguk sopan. “Terima kasih.”
Langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah pintu utama. Seolah ada yang menepuk udara, percakapan-percakapan kecil bermuara pada satu titik. Beberapa kepala menoleh, perhatian tertarik pada perempuan yang baru saja masuk. Cassy berdiri diujung pintu masuk, dengan gaya anggunnya berhasil menarik perhatian para tamu.
Sejurus kemudian, Romeo menegang tanpa sadar perubahan kecil yang hanya sempat ditangkap mata Aqeela.
Cassy menoleh pada Romeo sebentar, lalu melangkah ke arah pusat ruangan di mana Rei tertidur tenang. Dia tersenyum melihat ba yi yang dia anggap b ayinya tertidur pulas disana. Di dalam hati Cassy tak sanggup menahan rasa ingin menggen dong dan menci um b ayi lucu itu.
“Hai, Cassy. Kamu datang. Kamu cantik sekali malam ini,” tegur Aqeela yang memang dari tadi berada di samping tempat tidur Rei, namun tak disadari oleh Cassy.
“Hai Qeel. Aku bahagia atas kebahagiaan yang sedang menyelimutimu saat ini. Tapi sayang, aku masih berduka atas keh ilangan ana kku. Sebagai ibu aku sangat merindukannya.”
“Ah, ya. Aku sudah dengar. Aku turut berduka atas kemalangan yang kamu terima. Tapi tentunya itu tidak terlalu mempengaruhimu. Kamu tetap hadir sempurna malam ini.”
Satu ruangan terdiam. Aqeela dan Cassy terkenal kompak. Semua tau mereka sepupu yang saling menyayangi. Tapi kata-kata Aqeela barusan seperti mempertegas bahwa ada sesuatu yang berubah saat ini. Aqeela terlihat sangat sarkas dan tidak ramah seperti biasa.
“Aqeela, bolehkah aku menimang ba yi kecil itu.” Cassy mengul urkan tangan, berhenti setapak dari tepian selimut Rei. “Kumohon.”
“Tidak.” Sangat jelas dan tegas.
“Aqeela … aku mohon. Hanya beberapa detik. Aku hanya ingin mengob ati rasa rinduku.”
“Tidak,” ulang Aqeela, kali ini dengan tepi yang lebih dingin. “A nakku bukan obat untuk lu kamu.”
Romeo menoleh cepat, sadar akan tatapan yang menem pel dari berbagai sudut. “Sayang,” katanya, menjaga nada tetap rendah, “Ini pesta Rei. Kita jangan memperkeruh suasana. Beri dia sebentar saja.” Ia melirik Cassy, lalu kembali pada Aqeela. “Tolong.”
Beberapa tamu mengangguk sendiri, seakan membenarkan Romeo. Du ka, bagi kebanyakan orang, selalu tampak lebih suci dari ma rah.
“Hahaha … Cassy, aku turut berduka cita atas hilangnya a nakku. Harusnya kamu bisa lebih berusaha atau lebih punya tekat untuk mempertahankannya. Maka an ak kamu tidak akan hilang semudah itu. Sama seperti bapaknya, hilang tanpa jejak.”
Cassy terkejut sampai matanya melotot menatap Aqeela. Dia tidak menyangka sepupunya ini mempunyai taring yang saat ini sedang ia tancapkan di ulu hatinya.
***
Baca cerita begini paling enak di K B M lho.
Judul : MEMB ODOHI GUN DIK SUAMIKU
Penulis: sheilaluktri




















