(7)

"Demi Allah, baru kenal hari itu. Nggak tahu juga aku nama dia siapa!" kataku setengah berteri ak. Memang, iya, aku lupa nama laki-laki sok akrab ini. Sekonyong-konyong, datang menyapaku tanpa melihat situasi terlebih dahulu. Makin runyam masalahku dan Erwin.

"Loh, Mbak... Kan, saya udah kasih tahu nama saya waktu itu di bandara. Adiguna!" jawabnya dengan enteng.

Astaghfirullah, laki-laki bernama Adiguna ini si nting apa gimana, sih? Dia terlampau polos atau pura-pura bo doh? Apakah dia nggak melihat situasi gawat darurat di antara aku dan Mas Erwin?

Mas Erwin melepaskan c3ng kraman satpam, lalu berjalan keluar area kafe.

"Mas, Mas Erwin..." Aku berlari mengejarnya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang sudah pasti melabeliku, wanita yang main hati dengan dua pria. Aku juga sudah tidak peduli dengan laki-laki yang bernama Adiguna itu. Lagipula siapa suruh sok akrab. Kena bo gem, kan?

"Aduh, s4 kit banget ini lvk anya. Divisum aja kali, ya buat jaga-jaga laporan ke po lisi." katanya sebelum aku membuka pintu keluar.

"Masnya, mau lapor pol isi?" Aku berbalik, kembali ke hadapannya.

"Tergantung. Kalau Mbaknya tanggung jawab, saya nggak jadi lapor po lisi."

"Saya, kan, udah tanggung jawab."

"Masih s4 kit banget, nih. Kayaknya perlu penanganan khusus, deh." katanya sambil meringis kes4 kitan.

Lebay!

"Yaudah, kita ke klinik sekarang. Saya yang b4yar dan tanggung jawab!"

"Kalau dituker sama hal lain boleh, nggak?"

"Maksudnya?" Aku mulai menci um modus peni puan.

"Kita tukeran nomor hp dulu, deh. Entah nanti saya jadi ke klinik atau nggak, gimana saya ngabarin kamunya kalau begitu?"

Kan, benar, kan... Si teh chamomile ini memang berniat modus. Apa, iya, lu kanya terasa s4 kit banget? Aku nggak percaya dengan raut wajah kes4 kitannya.

"Saya, kan, udah bilang kalau kita ketemu empat kali, kita harus tukeran nomor hp. Bener, kan apa kata saya? Yaaah, walaupun harus pakai acara ba bak b3lur dulu."

"Lagian, Masnya salah juga. Pakai acara basa-basi sok akrab nyapa saya. Masnya nggak lihat saya lagi serius sama... " Kalimatku terhenti otomatis. Aku bingung harus memanggil Mas Erwin dengan sebutan apa. Pacar? Mantan pacar?

"Pacar?" katanya.

Aku menggeleng. "Udah nggak lagi."

"Oh, udah jadi mantan pacar, ya."

"Bukan urusan Masnya."

"Saya minta maaf, deh, karena merusak momen kalian. Yaaa, mana saya tahu kalian lagi bera nt3m."

Aku kesal bukan main.

"Gara-gara Mas, ya, saya jadi dituduh yang enggak-enggak."

"Mungkin, jalannya harus kayak gitu, Mbak Ayusha. Saya dikirim Tuhan untuk memis ahkan kalian berdua."

"Huh?"

"Loh, lagian kalau pacarnya situ beneran cinta, harusnya percaya, dong, sama Mbak kalau kita nggak ada apa-apa. Berarti, emang dia pengen put us sama situ."

Aku diam. Setengah hati meyakini bahwa yang dikatakan pria ini memang benar. Setengahnya lagi, masih ada keinginan untuk menolak kenyataan.

"Kita tukeran nomor hp dulu, deh, Mbak. Nanti saya kabarin kalau jadi ke klinik."

Aku menyerahkan ponselku. Kami bertuk ar nomor ponsel pada akhirnya. Sungguh takdir yang lucu. Kunamai kontaknya dengan teh chamomile.

Satu jam setelah kami berpisah, aku memblokir nomor ponselnya. Aku tidak berniat untuk bertemu lagi dengannya. Aku yakin lu k4 di bibirnya bukan masalah besar. Semoga kami tidak pernah bertemu lagi di masa mendatang.

*

Pernikahan Kak Ayudhia dan Mas Danu digelar sekitar 10 hari setelah Ayah dimak amkan. Akhirnya, Kak Ayudhia bisa merasakan kebahagiaan. Aku turut senang dengan kakakku itu. Dia menemukan tambatan hati.

"Hey, kamu! Kita ketemu lagi, kan? Kenapa nomor saya diblokir, sih?"

Aku menoleh. What the h3ll is it? Kenapa si teh chamomile ada di sini? Ada hubungan apa dia dan kakak iparku? 😱

Judul: Dia Orangnya

Penulis: gigha1989

KBM app

#diaorangnya

#kbm

#Gigha1989

2025/10/15 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita 'Dia Orangnya' mengangkat tema cinta segitiga dan ketegangan emosional yang sering dialami dalam hubungan asmara. Konflik antara Ayusha dan dua pria, Erwin dan Adiguna, menunjukkan bagaimana komunikasi dan pengertian menjadi kunci dalam menghadapi situasi rumit. Dalam kisah ini, Adiguna muncul sebagai sosok misterius yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Ayusha dengan cara yang cukup kontroversial. Sikapnya yang polos dan terkesan sok akrab justru menimbulkan dilema dan rasa tidak nyaman bagi Ayusha, apalagi ketika ia berada dalam masalah dengan Erwin yang pernah menjadi pacarnya. Kehadiran Adiguna seolah menjadi pemicu untuk membuka babak baru dalam cerita cinta yang sebelumnya sudah penuh kegamangan. Selain itu, peristiwa yang terjadi di kafe hingga akhirnya menyebabkan bentrokan dengan satpam dan anjuran untuk ke klinik juga menambah elemen ketegangan dalam cerita. Momen ini memberikan gambaran nyata bagaimana kejadian sehari-hari bisa berimbas besar pada emosional seseorang, terutama dalam hubungan yang sedang rapuh. Konsep tukar nomor telepon antara Ayusha dan Adiguna juga menjadi titik penting dalam cerita, yang memperlihatkan adanya keinginan untuk tetap terhubung meski suasana hati dan keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menjalani hubungan yang harmonis. Namun, keputusan Ayusha untuk memblokir nomor Adiguna menunjukkan konflik batin dan keputusan tegas yang sering dialami dalam situasi rumit seperti ini. Cerita ditutup dengan kebahagiaan kakak Ayusha yang menikah, memberikan kontras antara kegembiraan dan kesedihan yang dialami tokoh utama. Pertemuan tak terduga antara Ayusha dan Adiguna pada saat pernikahan menimbulkan pertanyaan lebih jauh mengenai hubungan mereka, yang mempertegas tema takdir dan kejutan dalam kehidupan. Secara keseluruhan, cerita ini mengandung unsur drama kehidupan sehari-hari dengan konflik yang sangat dekat dengan pengalaman pembaca, terutama terkait dengan cinta, pengkhianatan, dan pengambilan keputusan penting. Penggunaan bahasa yang ringan dan dialog yang natural menjadikan cerita ini mudah dipahami dan mengundang empati pembaca. Bagi yang tertarik dengan kisah bergenre romance dan drama, cerita ini bisa menjadi bahan refleksi tentang bagaimana menghadapi dilema dalam hubungan asmara dan bagaimana menerima kenyataan yang kadang pahit tentang cinta dan pengkhianatan. Cerita ini juga mengingatkan bahwa hidup penuh dengan kejutan dan peran takdir sering membawa perubahan yang tidak terduga dalam kehidupan personal.