Saat warung reot, aku yang disuruh mengelola. Tapi saat warung soto itu sudah sukses dan menjadi langganan para pejabat, eh tiba- tiba malah diberikan kepada ipar.
Lihat apa yang akan kulakukan….
WARUNG WARISAN MERTUA (11)
Aku berdiri terpaku di depan ru mah, memandangi mobil baru berwarna putih yang kini terparkir megah di halaman. Merek Pajero yang tersemat di bodinya membuatku sedikit tercekat—mobil itu tampak kokoh, mewah, dan jelas tidak murah. Rasanya baru tadi malam Ibu mengutarakan keinginannya untuk membeli mobil baru, dan hari ini mobil itu sudah hadir di depan mata.
Tak lama, suara panggilan mengagetkanku dari lamunan. Rupanya Mbak Rani melihatku berdiri di dekat pagar. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar dengan berkacak pinggang, lalu memanggilku dengan suara nyaring,
“Rahma! Sini kamu…. Ayo ikut syukuran dulu. Ibu punya mobil baru, lho….!” ucapnya dengan nada bicara berlagak sedikit seperti menyindir.
Aku melangkah dengan malas menuju arah mereka. Bukan karena iri mereka punya mobil baru dari hasil kerja kerasku, tetapi karena aku malas menghadapi Mbak Rani yang pasti akan mengucapkan hal-hal yang membuatku hilang semangat.
Saat sampai, aku berkata pelan, “Maaf, Mbak… aku harus segera ke warung untuk segera mengolah masakan. Bu Ani dan yang lain pasti sudah menyiapkan semuanya,” ucapku karena memang benar, ini jamku memasak.
Namun, mereka malah memaksa, “Halah sebentar saja. Ini cuma syukuran sederhana, kok. Ibu juga ingin Mbak Rahma ikut menyiram mobil ini dengan bunga tujuh rupa,” ujar Rina yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku, membawa baskom besar berisi air bunga.
Ibu pun menyahut, “Iya, Rahma… ikut dulu sebentar. Kamu kan bagian dari keluarga ini juga,” ucapnya mengulas senyum padaku.
Aku hanya bisa menghela napas pelan. Demi menghormati Ibu, aku pun mengangguk setuju. Tak lama kemudian, Mbak Rani mulai menyiram mobil dengan air bunga yang sudah mereka sediakan.
Tradisi menyiram kendaraan baru dengan bunga tujuh rupa memang masih dijaga oleh masyarakat di daerahku. Air bunga ini biasanya berisi campuran melati, mawar, kenanga, kantil, dan bunga harum lainnya. Meski terlihat sederhana, ritual ini memiliki makna simbolis dan spiritual yang cukup dalam.
“Tentu dong, bu. Habis ini Ibu mau minta apa lagi? Tas, baju, sepatu? Ayo kita beli sambil jalan- jalan dengan mobil baru.” Lagi- lagi Mbak Rani melirik ke arahku. “Tentang saja, Bu. Sekarang ibu jangan pusing- pusing memikirkan tentang ua ng lagi. Pokoknya semua keinginan Ibu akan selalu terpenuhi mulai sekarang. Ibu hanya harus hidup dan bahagia saja.”
“Iya, bu… ayo kita shopping menggunakan mobil baru, lalu perawatan ke salon. Aku sudah lama tidak meni pedi, kukuku sudah pucat semua.”
“Ayo… apa ‘sih yang tidak untuk putri- putri Ibu.” Ibu menjawab dengan antusias.
“Hmmmm… kayaknya kalau harus ke salon mbak nggak bisa, deh. Kakak kan harus nunggu warung dan pegang kasir.” Mbak Rani terlihat sekali kalau dia lebih ingin memegang kendali daripada Rina. Sementara Rina, saat ini belum terlalu semangat mengelola warung walau sebenarnya dia yang ditunjuk Ibu.
Sekitar satu jam kemudian, saat aku tengah membersihkan meja dapur setelah selesai memasak, suara mesin kendaraan besar menarik perhatianku. Aku keluar dari dapur, lalu berdiri di ambang pintu warung.
Sebuah mobil box besar berwarna putih dengan logo “Broiler Fresh Supply” terparkir di depan warung. Di bagian belakangnya, terlihat box pendingin seperti tempat penyimpanan ayam beku dan daging beku dari pabrik besar. Aku terpaku. Kendaraan itu bukan jenis mobil yang biasa lewat di jalan kecil seperti ini.
Tak lama kemudian, pintu mobil bagian depan terbuka. Seorang pria turun dengan santai sambil merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Jantungku berdegup pelan saat mengenalinya. Itu suami Mbak Rani.
Bersambung….
Cerita selengkapnya baca di KBM app
Judul : WARUNG WARISAN MERTUA
PENULIS : ANRA



















