"Apa maumu?" tanyaku to the point.

"Mas Bian memang pengertian, deh, selalu tahu apa yang aku pikirkan. Mauku? Gampang," kata Mila sambil mengitari tubuhku.

Perempuan yang usianya beda sepuluh tahun denganku itu tampak tersenyum licik.

"Aku mau om Theo, Mas Bian. Bisakah Mas Bian memberikan Theo padaku?"

Kata sin ting sepertinya cocok untuk Mila. Theo itu sekretarisku di kantor. Umurnya sudah kepala empat. Sudah beristri dan juga beran ak. Apa lagi an ak yang paling besar seusia dengan Mila.

"Jangan gi la kamu, Mila! Aku enggak setuju. Theo itu sudah tua! Lagipula dia enggak punya apa-apa, Mila," tolakku mentah-mentah.

"Oh, ya? Tapi sayangnya aku suka yang tua-tua dan hot. Mas Bian juga menikah dengan Mbak Cahya yang enggak punya apa-apa," jawab Mila yang membuatku melotot.

Memang agak lain si Mila ini. Dia itu cantik, muda, dan body bak gitar spanyol. Masa mau sama Theo yang sudah bangkotan?

"Enggak, Mila."

"Mas Bian mau aku bocorkan sesuatu pada oma?"

Aku mendelik kesal. Dia benar-benar membuatku emosi.

"Tahu apa kamu soal kehidupanku?"

"Tahu, dong. Mas Bian punya hubungan gelap sama Yessi. Aku ketemu Yessi kemarin."

"Itu cuma salah paham," kilahku.

"Oh, ya? Salah paham masuk ke apartemen mantan, begitu maksudnya? 200. Itu nomor pintunya, 'kan? Tahu, kok. Sudah lama juga 'kan kalian melakukan 'itu'?" ucap Mila yang membuatku tersentak kaget.

Benar dugaanku bahwa Mila tahu sesuatu.

"Oke, fine. Aku setuju kamu mendekati Theo, tapi kalau suatu saat kamu menyesal, tanggung resikonya sendiri," putusku.

"Oke. Thanks, Mas Bian."

Setelah bernegosiasi singkat itu, aku dan Mila memutuskan untuk kembali ke depan sebelum orang-orang mencurigai kita. Ku hampiri Cahya yang sedang berjongkok di arah jalan menuju belakang ru mah. Aku curiga bahwa dia mendengar obrolanku dengan Mila tadi.

"Cahya," panggilku.

"Eh, Mas," sahutnya sambil menengok ke arahku.

"Kamu lagi ngapain?" tanyaku gugup.

Cahya memegang seekor kucing peliharaan oma.

"Aku tadi ngejar Moli. Eh, dia malah lari ke sini," jawab Cahya.

Syukurlah, aku bisa bernapas lega sekarang.

"Ayo, pulang!" ajakku.

"Loh, kok, pulang? 'Kan acaranya belum selesai."

"Aku capek, Sayang," kataku beralasan. Padahal, aku harus pergi menemui Yessi malam ini. Aku sudah janji padanya tadi.

"Ya sudah. Ayo!" katanya.

Kami pun berpamitan pada semua yang ada di sini. Sesampainya di ru mah, aku langsung mengambil jaket karena malam ini cukup dingin. Segala gerak-gerikku tidak luput dari pandangan Cahya. Pasti wanita itu curiga.

"Kamu mau ke mana, Mas? Kok, pakai jaket?" tanya Cahya.

"Aku mau pergi dulu. Ada acara meeting di luar sama klien," jawabku ngasal.

Wslaupun selama ini alasanku selalu ngasal, Cahya pasti tetap percaya. Dia itu gampang sekali dibod ohi.

"Malam-malam begini ada meeting, Mas?" tanyanya mulai curiga.

"Iya, kamu enggak percaya? Ayo, ikut! Tapi aku pulangnya agak malem karena bahas projek penting."

"Enggak, Mas, aku di ru mah aja. Kamu hati-hati, ya."

"Oke."

Tuh 'kan, gampang sekali membohongi Cahya. Dia itu kelewat bol ot. Heran aku kenapa Oma dan orang tuaku dulu ngebet banget mau nikahin aku sama dia. Sudah enggak pintar dandan, bo doh, kucel, pokoknya enggak banget. Miskin pula.

"Tapi, Mas, kamu harus makan dulu! Dari pulang kantor tadi kamu belum makan."

"Aku makan di luar aja," jawabku.

Makan Yessi maksudnya, batinku.

Judul: Surat Maaf Untuk Istriku

Napen: Queen Zi

#QueenZi

#SuratMaafUntukIstriku

#KBM

#FYP

2025/10/31 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita tentang pengkhianatan dan dinamika cinta dalam rumah tangga memang selalu menyentuh hati dan penuh dengan drama. Dalam kisah ini, Mas Bian tampak terjebak dalam dilema antara istrinya, Cahya, dan beberapa wanita lain yang memiliki hubungan rumit dengannya. Konflik ini menunjukkan bagaimana kejujuran dan komunikasi menjadi hal penting yang sering terlupakan dalam pernikahan. Perselingkuhan adalah masalah yang kerap kali menghancurkan kepercayaan antara pasangan. Dalam kehidupan nyata, banyak pasangan menghadapi tantangan seperti ini yang menyebabkan rasa sakit dan kebingungan mendalam. Cerita ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti komitmen dan pentingnya menjaga kesetiaan. Selain itu, perbedaan usia dan status sosial turut menjadi latar belakang cerita yang menarik. Mila yang muda dan cantik, namun menginginkan lelaki yang lebih tua dan berpengalaman seperti Theo, sekretaris kantor yang juga sudah berkeluarga. Ini membuka diskusi tentang batasan moral dan etika dalam berhubungan. Sementara itu, Mas Bian membohongi istrinya Cahya dengan alasan pekerjaan, padahal ada motif lain yang menimbulkan ketegangan. Hal ini menggambarkan bagaimana kebohongan kecil bisa menjadi awal kehancuran hubungan jika tidak segera diperbaiki. Cerita "Kembali ke Pelukan Masa Lalu! Setelah Dua Tahun Menikah, Suami Tega Hancurkan Segalanya Demi Cinta Pertamanya" yang diangkat dari dialog dan situasi nyata menambah kedalaman kisah ini. Ini mengingatkan kita bahwa masa lalu yang belum selesai dapat mengusik kehidupan sekarang jika tidak diselesaikan dengan bijak. Dalam menghadapi situasi serupa, penting bagi setiap pasangan untuk terbuka satu sama lain dan tidak menutupi masalah. Pengampunan dan pemahaman juga menjadi kunci untuk memperbaiki hubungan yang retak. Melalui cerita ini, pembaca dapat belajar bahwa kesetiaan dan komunikasi adalah pondasi utama dalam menjaga rumah tangga agar tetap harmonis dan langgeng.