Lalu, di tengah ketegangan itu, Anton justru tersenyum lebar.
“Eh, berarti selama ini, kita salah urutan dong!” katanya santai.
Ramli mendengus. “Apa maksudmu?”
“Ya, si Ramli ini bukan an ak pertama,” ujar Anton sambil menunjuk kakaknya. “an ak pertama itu yang di Tasik! Jadi, Bang Ramli ini nomor dua. Hahaha!”
Beberapa saudara menatapnya dengan wajah datar. Tapi Anton malah tertawa keras.
“Bayangkan, Bang! Selama ini abang paling senior, paling galak, eh ternyata bukan an ak sulung! Hahaha!”
Ramli menatap adiknya dengan tajam. “Ton, tolong sedikit serius.”
“Tapi kenyataan tetap kenyataan,” sahut Anton cepat, dengan senyum isengnya yang khas.
Musa hanya menghela napas, memijat pelipis. “Aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi aku rasa… kita nggak perlu bahas ini lebih jauh. Masa lalu mamak itu urusan mamak. Kita cukup bersyukur beliau bahagia di sini.”
“Bahagia?” suara itu datang dari arah pintu.
Semua kepala menoleh.
Di sana berdiri Ratna Baharuddin. Perempuan 76 tahun itu tampak anggun dalam kebaya coklat muda. Rambut putihnya disanggul rapi, kulitnya bersih, wajahnya masih cantik dengan caranya sendiri.
Ia berdiri tenang, tapi matanya basah.
Beberapa detik mereka semua terpaku. Ratna memandang satu per satu an aknya. Lalu langkah kakinya terdengar pelan, masuk ke rua ng itu.
“Apa tadi kau bilang, Musa?” suaranya lembut tapi tegas. “Mamak bahagia di sini?”
Musa tercekat. “M-mamak… kami tidak bermaksud...”
Ratna mengangkat tangan, menenangkan. “Tidak apa-apa, Nak. Mamak dengar semuanya.”
Rua ngan hening lagi.
Hanya napas berat dan detak jam yang terdengar.
Anton datang perlahan, tak bersuara. Ia duduk di samping ibunya. Hening beberapa saat sebelum akhirnya ia berkata, lembut, “Mak…”
Ratna tak menoleh. Air matanya masih menetes pelan.
“Mak maafkan kami,” kata Anton lirih. “Kami… nggak memahami isi hati mamak.”
Ratna hanya menunduk, menangis tanpa suara.
Anton menghela napas, lalu menatap ibunya dalam. “Mamak tenang aja. Anton akan carikan keluarga mamak. Akan Anton temukan an ak yang mamak tinggalkan.”
Ratna menatapnya pelan, air mata masih di pipinya. “Kau akan pergi, Nak?”
Anton mengangguk. “Iya. Beri tahu Anton alamatnya, Mak. Biar Anton yang berangkat, meski yang lain nggak setuju.”
Ratna memeluk Anton erat. Pelukan itu hangat, lama, seolah menyalurkan semua rindu yang tertahan puluhan tahun.
“Kau memang an ak Rasyid Baharuddin,” bisiknya. “Bukan cuma wajahmu yang mirip, tapi juga hatimu.”
Anton tersenyum kecil di pelukan ibunya. “Berarti si Ramli yang sukses itu bukan an ak mamak dong, ya?” katanya menggoda.
Ratna tersentak kecil, lalu tertawa di sela tangis. “Hus! Kamu ini…” Ia mencubit lembut hidung Anton, lalu mengelus rambut an aknya yang mulai memutih. “Dari dulu pun, kau selalu tahu cara bikin mamak tersenyum.”
Anton menatap wajah ibunya, penuh sayang. “Gimana, Mak? Dimana alamatnya? Biar aku siapin tiket untuk ke sana.”
Ratna terdiam lama. Lalu suaranya keluar pelan, nyaris seperti bisikan.
“Akan sulit menemukan alamat keluarga Tasik, Nak. Dulu masa penjajahan. Banyak yang berubah… pasti sekarang sudah sangat berbeda.”
Anton mengangguk. “Kalau begitu, bagaimana mamak mau aku cari?”
Ratna menatap langit, lalu kembali menatap an aknya.
“Jangan naik kendaraan,” katanya pelan. “Berjalan kakilah dari Padang sampai ke sana. Kau akan sampai di tempat yang dituju.”
Anton terdiam.
“Mamak yakin?”
Ratna mengangguk. “Yakin. Mamak selalu percaya… Dia yang menjagamu setiap malam juga akan menuntunmu. Pergilah, nak. Dan sampaikan pada Tasik… Nyi Ratna tak pernah lupa, dia masih hidup.”
Anton menunduk lama, menatap tanah basah di kakinya.
Lalu dengan suara pelan tapi mantap ia berkata,
“Kalau begitu, Mak… Anton akan berangkat.”
Ratna menatapnya lembut. “Kapan?”
Anton tersenyum. “Setelah bebekku sarapan, Mak.”
Ratna tertawa kecil di sela air matanya. “Kau ini… dari muda sampai tua, yang dipikir cuma bebek."
"Pikir saja perjalananmu nanti Ton."
Judul : cinta di bawah bayonet Jepang
Penulis : Senja Berada
Cerita 'Cinta di Bawah Bayonet Jepang' tidak hanya mengangkat kisah cinta dan konflik masa perang, tetapi juga menyoroti pentingnya keluarga dan penemuan jati diri. Dari pengalaman saya, memahami sejarah keluarga terkadang membuka luka lama, tapi juga memberikan kesempatan untuk memperbaiki dan membangun hubungan yang lebih kuat. Ratna sebagai sosok ibu yang tegar dan penuh kasih mengajarkan bahwa bahagia itu bukan hanya soal masa kini, tetapi juga menerima masa lalu. Perjalanan Anton yang harus berjalan kaki dari Padang untuk mencari alamat keluarga Tasik menambah makna mendalam tentang arti perjuangan dan harapan. Menurut saya, penggunaan unsur budaya seperti kebaya coklat dan foto tua memperkaya cerita ini dan menghidupkan suasana zaman Jepang. Bagi pembaca yang ingin memahami dampak penjajahan Jepang pada kehidupan keluarga Indonesia, kisah ini memberikan gambaran emosional yang realistis dan menyentuh. Saya merasa kisah seperti ini penting untuk diceritakan karena mengajak kita semua menghargai keteguhan hati dan rasa cinta tanpa syarat antar anggota keluarga, walaupun terpisah oleh keadaan dan waktu.

