Satu bulan lebih setelah kejadian kulkas, udara di pabrik terasa lebih pengap dari biasanya. Oli, gesekan besi, dan desisan mesin berpadu menjadi simfoni yang memekakkan telinga.
Wulan, berdiri lemas di depan mesin press kayu yang sedang ditanganinya. Kepalanya berdenyut-denyut, dan seluruh persendiannya terasa ngilu. Demam yang ditahannya sejak kemarin mulai menunjukan taringnya.
"Lan, kamu pucat banget. Mending kamu ijin aja, pulang," kata Argo rekan kerjanya, dengan suara berteriak menyaingi bising mesin.
"Aku nggak apa-apa," bantah Wulan lemah, sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya. Pikirannya melayang ke kulkas putih mengilap di ru mahnya, bagai hantu yang mengejek setiap keringat yang dia teteskan.
Sebelum Argo sempat berkata lagi, langkah Wulan terhuyung-huyung. Matanya berkunang-kunang, hingga tanpa sadar tub uhnya bersandar pada mesin di sebelahnya. Insiden kecil itu menarik perhatian sang supervisor yang sedang berpatroli.
"Wulan! Kondisi kamu tidak fit. Pulang saja, istirahat. Daripada nanti menyebabkan kecelakaan kerja," tegur manager itu dengan wajah berkerut.
Wulan hanya bisa mengangguk lemah, malu dan lemas bercampur jadi satu. Tas diambilnya, dan kaki gemetar itu membawanya keluar dari deru pabrik.
Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk bagi Wulan. Panas tu buhnya bercampur dengan terik matahari, membuatnya sempoyongan.
Sesampainya di ru mah, kosong. Perasaan Wulan getir ketika mendengar desing dingin kulkas baru yang menyambutnya. Itu seperti suara yang asing dan tak diundang.
Wulan langsung menuju dapur, berharap bisa menemukan air mineral dingin untuk menurunkan demamnya. Dia membuka pintu kulkas lamanya.
Kosong. Hanya ada sepiring sayur asam sisa semalam dan sebotol sambal.
Dia menatap kulkas barunya yang megah. Itu bukan lagi sekadar benda, tapi simbol kemenangan ibunya atas dirinya. Dengan gemetar, dia mencoba mendorongnya. Berat. Tak tergoyahkan. Seperti beban yang kini harus dipikulnya.
Dia akhirnya menyerah, merebus air untuk membuat teh hangat. Saat duduk di kursi plastik, menikmati tehnya yang sepinya, langkah cepat terdengar dari luar.
"Wulan! Kok, cepat pulang kamu? Gimana mau ba yar ci cilan kalo kerja aja males!" teriak Simar, masuk dengan wajah sinis, jauh dari wajah lelah Wulan.
"Aku sa kit, Mak. Disuruh pulang sama bos."
"Aduuuh, jangan sa kit, Lan! Itu ut ang ua ng untuk kulkas baru harus diba yar! Kalau kamu nggak kerja, gimana mau ba yarnya?" Mata Simar melotot. Dia menatap tak suka pada Wulan.
Wulan tak menggubris ucapan itu. Matanya tertuju pada benda di tangan ibunya. Kipas angin baru.
"Itu dari mana lagi, Mak?"
Simar tertawa sambil mengacungkan benda di tangannya. "Mak beli kipas angin baru. Biar sejuk, nggak panas kayak kemarin."
"Loh, kan kipasnya masih ada. Emang rusak?" tanya Wulan. Dahinya mengernyit.
"Yang itu udah nggak dingin. Tadi Bu RT beli kipas baru. Mak harus beli juga. Orang-orang harus tau kalo Mak juga bisa beli yang baru!"
Wulan hanya bisa menatap ibunya yang mengangkat-angkat kipas angin itu.
"Emak, ua ngnya dari mana?"
"Alah, jangan tanya-tanya! Yang penting Mak sekarang punya kipas angin bagus. Nggak kayak punya Marni sebelah, tu, kipasnya bunyinya kerotok-kerotok!" sahut Simar sambil membuka plastik dan menyambungkan colokan kipas.
Cerita ini ada di KBM app Dengan judul Aku Bukan Perahan napen Afkha23_18
Pernahkah kamu merasakan beratnya beban hidup yang datang dari rumah tangga dan pekerjaan secara bersamaan? Kisah Wulan menggambarkan bagaimana tekanan ekonomi dan hubungan keluarga yang rumit bisa berdampak tidak hanya pada fisik tapi juga kondisi mental seseorang. Dalam cerita ini, kulkas baru bukan sekadar alat rumah tangga, melainkan simbol dari harapan, perjuangan, dan juga rasa sakit. Kulkas baru itu menjadi sumber konflik karena harus dibayar cicilan, sementara Wulan sendiri harus bekerja keras dalam kondisi tubuh yang tidak fit. Ini sangat relevan dengan pengalaman banyak orang yang menghadapi situasi serupa, di mana kebutuhan keluarga dan pekerjaan menuntut pengorbanan besar. Selain itu, konflik batin Wulan sebagai anak kandung yang merasa diperlakukan seperti anak tiri menggambarkan sisi emosional yang sering tersembunyi dalam sebuah keluarga. Kalimat dalam OCR "Aku anak kandung, tapi dibuat seperti anak tiri. Aku santai saja meski sangat tersakiti. Alasannya adalah..." memperkuat nuansa luka batin yang dirasakan, yang kerap kali tidak terlihat oleh orang lain. Dalam lingkungan kerja yang keras dan berisik, seperti pabrik tempat Wulan bekerja, faktor kesehatan sangat penting. Insiden Wulan yang hampir pingsan menunjukkan bagaimana kondisi fisik yang menurun dapat membahayakan keselamatan kerja. Ini memperlihatkan pentingnya perhatian atas kesehatan pekerja dan perlunya lingkungan kerja yang mendukung. Dari sisi sosial, reaksi ibu Wulan yang membeli kipas angin baru agar orang-orang tahu bahwa dia juga bisa membeli barang baru menggambarkan tekanan sosial yang mempengaruhi keputusan keuangan keluarga. Hal ini menunjukkan fenomena bagaimana status sosial dan persepsi orang lain bisa memicu pembelian barang bahkan di saat kondisi keuangan keluarga sedang sulit. Cerita ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kompleksitas hidup orang lain yang sering berjuang diam-diam. Kisah Wulan mengingatkan pentingnya komunikasi dan dukungan dalam keluarga serta perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental, terutama bagi pekerja yang menghadapi tekanan berat. Pada akhirnya, cerita seperti ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua untuk lebih empati dan membantu mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

