"Selama ini aku mencintai wanita lain, Nia. Maafkan aku jika ucapanku menya kitimu. Tapi, aku tak bisa lagi menahan diri untuk diam dan bertahan denganmu."
Hania memejamkan mata. Ia merasakan sesak di da danya. Untuk sekadar bernapas saja terasa begitu sulit. Ia kembali membalikkan badan, memunggungi Arman yang berdiri menunggu jawabannya.
Setelah akad nikah, tak ada resepsi karena Arman enggan berlama- lama di pelaminan. Ia bahkan mening galkan Hania sendiri saat malam pertama karena enggan menyentuh wanita yang tak ia cintai.
Sampai kejadian nahas itu terjadi. Arman yang hendak menemui wanita yang dicintai mengalami kecel akaan tunggal.
Dokter menyatakan bahwa Ammar mengalami kelumpuhan. Namun, hanya sementara. Kelumpuhan itu bisa sembuh dengan rutin melakukan terapi dan obat.
Setelah itu, Hania merawatnya dengan telaten. Wanita itu sama sekali tidak jij ik membersihkan tu buhnya setiap kali usai bua ng air besar. Arman sebenarnya ada sesuatu yang terasa hangat di sudut hati. Akan tetapi, ia enggan mengakui.
Baginya, Hania hanya ga dis kampung yang tidak setara dengannya.
"Maafkan aku, Hania. Tapi, meskipun nanti kamu melarang aku untuk menikah lagi, aku akan tetap melakukannya." Arman tak menjawab pertanyaan Hania. Yang ada di pikirannya hanyalah keinginan untuk menikah lagi.
Hania menatap Arman. "Lalu, kenapa harus meminta izin dariku, Mas? Kalau pada akhirnya kamu akan tetap menikah lagi?"
"Ya itu karena Arman masih menghargaimu!" Tiba- tiba dari arah luar, Bu Marni menyela. Ia berdiri di samping Arman, menatap Hania dengan remeh.
"Kalau menghargai, kenapa harus menikah lagi?" balas Hania.
"Kalian sudah menikah selama tiga tahun, dan sampai sekarang, kamu belum juga hamil, Hania."
Hania terkesiap. Bagaimana ia bisa hamil jika Arman sama sekali tak pernah menyentuhnya? Bahkan, lelaki itu sama sekali tak pernah meminta.
Meski lumpuh, tentunya Arman masih masih punya hasrat, kan? Hanya saja, Hania merasa bahwa Arman enggan menyentuhnya karena memang merasa tak nyaman karena sa kit.
"Jadi, karena alasan itu?" Hania rasanya ingin tertawa. Namun, ia memilih diam. Ibu mertuanya itu memang berusaha menyingkirkannya.
"Iya." Bu Marni melipat tangan di depan da da. "Kamu tinggal pilih saja. Mau diceraikan, atau mau dimadu?!"
"Gimana? Kamu gak bisa lepas dari an ak saya, kan? Hidupmu selama ini kan udah tergantung sama Arman," kata Bu Marni seraya tertawa remeh.
"Saya tidak pernah bergantung sama Mas Arman, Bu. Bagaimana bisa saya bergantung sama Mas Arman, jika kenyataannya Mas Arman yang selama ini bergantung sama saya?"
Arman menunduk dalam mendengarnya. Sementara Bu Marni mencebik.
"Jadi, gimana? Kamu mau dipoligami?"
Hania tersenyum. "Saya memilih berce rai, Bu. Saya akan melepas Mas Arman untuk Sandra," jawabnya.
Bu Marni terkesiap. Ia menatap Arman yang menunduk. Bukankah memang itu yang diinginkan? Tapi, kenapa Bu Marni menginginkan jawaban lain?
"Oh, ya sudahlah. Kalau begitu cer aikan saja Hania sekarang dan pulangkan Hania ke ru mah ibunya," kata Bu Marni seraya berlalu keluar. Ia menghampiri Sella yang menunggu di teras.
"Baiklah, Mas. Ce raikan aku sekarang," pinta Hania.
Arman bergeming. Ia menatap Hania dengan perasaan ragu. Benarkah ia harus merelakan Hania?
***
Judul : Dibua ng Suami Dinikahi Bos Tampan
Penulis : Umma Khoir
Tersedia di KBMApp
Cerita Hania yang dengan tulus merawat Arman yang lumpuh selama tiga tahun merupakan wujud nyata dari kesetiaan dan pengorbanan dalam rumah tangga. Tidak banyak yang mampu melakukan hal serupa, apalagi dengan keteguhan hati untuk melayani suami tanpa perasaan jijik saat membersihkan bagian tubuhnya setelah buang air besar. Ini menunjukkan kualitas karakter Hania yang kuat dan penuh kasih sayang. Namun, kisah tersebut juga menyoroti konflik sosial dan budaya di masyarakat kita, terutama mengenai peran dan tekanan dalam pernikahan. Bu Marni, ibu mertua Hania, mewakili pandangan tradisional dan keinginan untuk menjaga garis keturunan dengan menuntut Hania agar memberi keturunan atau menerima poligami. Kondisi ini sering dialami banyak wanita yang berjuang mempertahankan keharmonisan keluarga meski menghadapi tekanan seperti itu. Arman yang sebenarnya masih memiliki hasrat tetapi enggan menyentuh Hania karena rasa sakit dan luka batin, membawa dimensi psikologis yang menggambarkan betapa kompleksnya hubungan suami istri terutama ketika ada masalah kesehatan. Keputusan Arman untuk menikah lagi tanpa henti menjadi dilema yang sulit bagi Hania, di mana rasa cinta dan harga diri beradu. Dalam konteks ini, keberanian Hania untuk memilih opsi berani, yaitu bercerai demi kebahagiaan dan martabatnya, menjadi inspirasi bahwa ketergantungan bukanlah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Kisah ini mengingatkan kita bahwa nilai saling menghargai, komunikasi jujur, dan keberanian mengambil keputusan adalah kunci utama agar rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Bagi pembaca yang mengalami situasi serupa, kisah Hania memberikan penguatan bahwa berani berdiri sendiri dan memilih kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang salah. Terlebih lagi, merawat orang yang kita cintai dalam kondisi sulit menuntut pengorbanan besar, tetapi juga tidak boleh membuat seseorang merasa tersisih atau tidak dihargai. Cerita ini juga menjadi pengingat bagi pasangan suami istri untuk selalu terbuka dan mendukung satu sama lain di masa-masa berat, serta pentingnya komunikasi dalam menghadapi permasalahan agar tidak ada yang merasa terabaikan atau diperlakukan tidak adil. Di akhir, kebahagiaan keluarga ada pada sikap saling mengerti dan menghargai tanpa harus mengorbankan martabat pribadi.

