Bab Dua
******
"Udah gede jajanannya kok kayak bocil sih, Ra?" ledek Rizal.
"Emang ada larangan orang dewasa nggak boleh makan jajan?" bukannya menjawab, Namira justru balik bertanya.
Rizal hanya tersenyum kecut, sementara Mang Parjo tertawa melihat mereka.
"Sama jajannya jadi lima belas ribu, Neng," kata Mang Parjo.
Namira langsung memberikan ua ng yang tadi diberikan ibunya. Setelah pembayaran selesai, ia buru-buru berpamitan.
"Makasih, Mang."
"Sama-sama, Neng."
Tanpa menegur Rizal sama sekali, Namira langsung pergi.
"Cantik-cantik judes," ucap Rizal terkekeh.
***
"Kembaliannya mana?"
"Itu di dalam kantong plastik, Bu."
Bu Irma mencari ua ng kembalian. Namun, keningnya berkerut. "Kok cuma lima ribu, Ra?"
"Ini, jajan," jawab Namira, sambil menunjukkan snack-nya.
"Ck! Kamu kayak an ak SD! Setiap disuruh pasti jajan. Korupsi ua ng Ibu terus, padahal udah kerja!" cerocos Bu Irma.
"Goceng doang, Bu. Perhitungan banget!"
"Goceng juga duit! Bisa beli cabai merah satu ons!"
Namira mendengus, tapi tetap mengunyah makanannya. Ia memilih diam daripada harus mendengar ibunya ngomel panjang lebar.
Sambil mengunyah, matanya memperhatikan Bu Irma yang sedang mengulek bawang putih, bawang merah, kemiri, dan beberapa rempah berbentuk bulat. Kalau ditanya, jelas saja Namira tidak tahu apa namanya.
Tiba-tiba, ia teringat nama pria yang diidamkan warga kampung. Karena kepo, ia akhirnya bertanya pada ibunya.
"Bu."
"Apa?"
"Raihan itu siapa sih?" tanyanya.
Gerakan tangan Bu Irma yang sedang mengulek langsung terhenti.
"Kok tanya Nak Raihan? Kenapa? Kamu ketemu dia?"
"Ditanya malah tanya balik," gumam Namira.
"Lagian kamu aneh! Masa nggak kenal sama Nak Raihan? Kelamaan merantau sih! Jadi sama tetangga sendiri aja nggak kenal. Kan lucu!" ujar Bu Irma.
"Emang nggak kenal. an ak angkatnya Bu Hanum, ya?"
"Mulutmu! Kalau Bu Hanum dengar, bisa sak it hati! an ak gantengnya dikatain an ak angkat!"
"Loh... kan Bu Hanum memang nggak punya an ak cowok. Iya, kan?" Namira lupa-lupa ingat.
"Ya, adalah! Ya Nak Raihan ini! Cuma dia jarang di kampung. Dari SMP sekolahnya di kampung neneknya. Tapi karena neneknya mening gal, dia balik ke sini. Kebetulan, keterima PNS juga di sini," jelas Bu Irma.
"Ooh," Namira hanya ber-"ooh" ria saja.
"Mending kamu bantu cuci udang rebon itu. Mau Ibu buat peyek. Ayah kalau puasa suka makan peyek buat lauk," perintah Bu Irma.
Daripada kena omelan, Namira pun patuh.
---
"Tiiin! Tiiin!"
Suara klakson motor mengejutkannya.
Namira menoleh. Matanya langsung bertemu dengan seorang pria yang dibonceng di belakang. Ia membawa sebuah speaker besar.
"Mbak Mira, jangan di tengah jalan," ujar Saddam, an ak tetangganya, yang mengendarai motor.
Namira tidak menggubris, tapi matanya masih terpaku pada pria yang duduk di belakang Saddam.
"Dia siapa?" batinnya. Pandangannya terus mengikuti pria itu hingga motor tersebut menghilang di kejauhan.
"Ra! Ayo! Ngapain bengong di situ?" teriak Bu Irma.
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App
Judul : Jodoh Di Ujung Cuti
Penulis : Tiwie Pratiwie
Cuti seminggu memang waktu yang tepat untuk kembali ke kampung halaman dan melepas rindu. Saat saya pulang, suasana kampung yang tenang dan penuh keakraban membuat hati terasa nyaman. Selain berkumpul dengan keluarga, momen ini juga jadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh tetangga dan cerita kampung. Pengalaman saya selama cuti seminggu sangat berkesan karena saya bertemu dengan seorang pria yang menarik perhatian saya. Pertemuan yang tidak saya duga ini membuat saya mulai membuka hati, apalagi ditambah suasana santai di kampung yang membuat semua terasa alami dan menyenangkan. Selain cerita jodoh, cuti seminggu juga memberikan kesempatan untuk membantu ibu dengan kegiatan rumah, seperti memasak dan menyiapkan lauk pauk khas kampung. Membantu ibu walau terlihat sederhana ternyata memberi banyak pelajaran tentang kebersamaan dan menghargai setiap detik waktu bersama keluarga. Jadi, cuti seminggu tak hanya soal istirahat, tapi juga tentang menjalin hubungan keluarga dan membuka peluang untuk pengalaman baru, termasuk mungkin bertemu jodoh di waktu yang tak terduga.

