Bab 1
“Apa ini punyamu?”
Suara ka sar itu memecah riuh langkah kaki dan teriakan penjual. Sebuah ponsel jatuh ke tanah, layarnya retak, bunyi ‘krak’ disambut tatapan orang-orang yang berhenti bernafas.
Perempuan itu mematung. Tangannya masih memegang timbangan sayur, mata gemetar seperti menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari beban di pundaknya.
“Itu bukan punyaku,” ujarnya pelan.
“Tapi ponsel ini jatuh dari kantongmu.”
Nada menuduh itu meluncur tanpa jeda, disambut tatapan yang ta jam, seperti pis au tanpa sarung. Orang-orang mulai berbisik. Ada yang menahan tawa, ada yang menutup mulut pura-pura prihatin.
Perempuan itu menggenggam ujung kerudungnya. “Sungguh aku tidak mencurinya.”
“Mana ada pencuri yang mengaku!”
Tangan lelaki itu terangkat tinggi, menunjuk wajahnya di depan kerumunan. “Kau pikir aku buta?”
Orang-orang mendekat. Satu dua wajah muncul dari balik kios, membawa rasa ingin tahu lebih besar daripada empati. Bau sayur busuk bercampur keringat dan gosip.
Sebuah suara lain menyelip di antara kerumunan.
“Udah, ngaku aja. Lagian, siapa juga yang mau nuduh kalau ngga ada bukti.”
Perempuan itu tersenyum getir, tapi air matanya tidak keluar. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada tangisan — semacam rasa malu yang membatu.
“Maaf, Nak. Aku cuma jual sayur. Dan tidak tahu ponsel itu dari mana,” katanya, berusaha merapikan dagangan yang terinjak orang.
Lelaki itu tertawa pendek. “Oh, jadi kau jual sayur dan nyolong juga? Gaya baru, ya.”
Beberapa orang ikut tertawa.
Lalu, sesuatu terjadi.
Gerakan cepat dan seketika.
Lelaki itu meludah tepat ke wajah perempuan itu.
Cairan hangat itu menetes di pipi, bercampur dengan sisa debu dan keringat. Tak ada yang bersuara. Bahkan napas pun seperti berhenti.
Perempuan itu menunduk, tangan gemetar menyeka wajahnya. Namun ludah itu tidak hilang; ia menempel seperti noda yang menolak pergi, seperti penghinaan yang tidak bisa dicuci oleh air.
Seseorang di belakang membuka mulutnya.
“Kasihan ya, tapi itu resiko seorang pencuri, makanya jangan nyuri dong.”
Tawa kecil kembali pe cah.
Lelaki itu melipat tangan di da da, merasa menang. “Lain kali jangan pura-pura suci kalau tanganmu kotor.”
Di ujung kerumunan, seseorang berdiri kaku. Tatapannya tak bisa berpaling dari pemandangan itu.
Suara di sekitarnya mendadak jauh, hanya detak di da danya yang ia dengar.
Tangannya mengepal. Kuku-kuku menancap di kulit telapak tangannya, menahan sesuatu yang ingin meledak. Tapi tub uhnya tetap diam — seperti batu yang menunggu longsor.
“Bu .…”
Perempuan itu berjongkok, memunguti cabai yang berjatuhan dari tikar. Tangannya bergetar setiap kali menyentuh satu buah. Tak ada air mata, hanya diam yang panjang dan menyesakkan.
Dari sudut matanya, lelaki itu masih berdiri.
Ia menatap dengan tatapan puas, seperti hakim yang baru menjatuhkan hukuman pada orang tak bersalah.
“Sudah, Bu,” suara itu terdengar pelan, nyaris menahan amarah. “Kita pulang.”
Perempuan itu menatap an aknya, bibirnya bergetar, tapi suaranya tak keluar. Ia tahu sesuatu yang lebih buruk akan datang — sesuatu yang bahkan doa pun tak mampu cegah.
“Aku nggak apa-apa,” katanya pelan.
Namun jemarinya mencengkeram erat keranjang sayur, seolah takut an aknya akan benar-benar mendengarkan kata itu.
Langkah-langkah pelan mulai menjauh.
Tapi bayangan an ak itu tak pergi jauh; ia berhenti di ujung gang, menatap ke belakang. Wajah lelaki itu masih jelas dalam ingatannya — terutama tatapan merendahkan itu.
Beberapa an ak kecil berlari melewatinya, membawa tawa ringan yang terasa asing di antara udara yang pekat.
Telinganya masih mendengar suara ludah itu.
Tangan yang melayang.
Dan ibu yang tak mampu melawan.
Lalu, perlahan, bibirnya bergerak.
“Bu,” suaranya serak, menahan napas yang tersendat. “Aku nggak akan biarkan mereka injak surgaku.”
Judul: Ibuku gi la karena Aku
Penulis: Rahima_imha










































