Aku hendak memberi kejutan kepada keluarga dan pacarku di kampung dengan pulang diam-diam. Eh, ternyata malah aku yang terkejut. Ternyata adik tiriku dan pacarku…
Chapt 2
Masih kuingat mata Bapak yang memerah menatap Ibu dengan ma rah, karena Ibu mengungkap rahasia itu. Membuat Ibu gugup dan gemetaran sambil memandangku dengan tatapan sinis.
Setelah kejadian itu, aku menjadi sangat tahu diri dan berusaha semandiri mungkin agar tidak menyusahkan Bapak dan Ibu.
Akhirnya, aku pun merantau jauh ke Kalimantan, dan mengirim u ang untuk biaya ru mah dan sekolah Davin. Begitupun saat Davin memutuskan ikut Akmil dan berniat jadi perwira militer, aku juga yang membiayai semua keperluannya, termasuk renovasi ru mah, karena ibu ingin ru mah yang lebih besar agar tak malu pada teman-teman Davin di Akmil.
“Jika jadi abdi negara berseragam, memilih wanita itu ibaratnya memilih ikan di pasar, Mas. Aku bebas menentukan pacarku. Mau dokter, bidan, atau perawat…” tukas Davin saat ku tanya niatnya masuk Akmil waktu itu.
“Tidak semua wanita begitu. Sepertinya kamu harus perbaiki niatmu, Vin. Tentara itu bukan profesi main-main yang bisa kamu gunakan untuk bersenang-senang,” tegurku kala itu saat aku pulang.
“Alah! Tahu apa Mas soal wanita? Pacar saja tidak punya! Terus, Mas tahu apa soal perwira militer?” tukas Davin sambil tersenyum mengejekku.
“Padahal Mas termasuk tampan, toh? Tapi tak ada yang melirik. Kenapa coba? Apa Mas tahu kenapa? Karena Mas itu cuma kuli sawit! Wanita sekarang mana ada yang mau sama pekerja serabutan kotor kayak kamu, Mas? Maunya yang tampan-tampan, bersih, dan berseragam,” ejek Davin.
Aku menghela napas, Davin belum tahu profesiku sebenarnya, mungkin dia akan shock berat, jika tahu aku ini bukanlah sekedar kuli sawit seperti pikirannya.
Namun bukan baru ini saja Davin mengejek pekerjaanku dulu, jadi aku sudah terbiasa. Padahal, dari pekerjaan sektor perkebunan sawit itulah aku bisa memenuhi kebutuhan hidup Ibu dan Davin yang tergolong boros.
Dan lagi, ucapan Davin salah. Ada satu wanita yang mencintaiku dengan tulus.
Helen.
Ga dis kota ini juga. Bunga desa kami. Dia sangat cantik dengan rambut panjang bergelombangnya, tub uhnya tinggi semampai, dengan kulit putih bak putri salju.
Banyak yang tergil a-gi la padanya, tetapi dia melabuhkan hatinya padaku. Membuatku bahagia bukan kepalang. Dia cinta pertamaku, dan Helen jugalah alasanku pulang setiap dua kali setahun. Walau Ibu tak senang melihatku pulang dan memperlakukanku dengan buruk di rum ah.
“Mas, Bapakku dapat tanah warisan dari Kakek! Pas dijual dapat hampir dua miliar, Mas! Kebetulan sekali, aku ingin punya kendaraan sendiri, jadi tak perlu berpanas-panas menunggu ojol lagi!” lapor Helen dua bulan yang lalu.
Aku ikut senang mendengar kebahagiaan Helen. Helen hidupnya juga tak lebih baik sebelum ini. Bahkan aku yang membiayai kuliahnya hingga dia selesai mendapatkan gelar kebidanan, dan sekarang dia sedang bekerja di sebuah rum ah sa kit ternama.
Bukan hanya itu, rum ah tempat tinggalnya yang hampir roboh, aku juga merenovasinya agar wanita tercintaku itu tak terkena air jika hujan melanda. Aku juga yang sering membelikannya ponsel, pakaian, dan barang-barang lainnya agar dia tak malu saat kuliah.
Ya… secinta itu aku padanya. Walau aku banyak menyimpan rahasia darinya. Bukan rahasia besar, tetapi aku ingin Helen mengetahuinya saat kami sudah menikah.
“Mas, aku akan sibuk nanti karena ada tim audit di rum ah sa kit. Jadi jangan hubungi aku sebelum aku menghubungimu, ya Mas!” ucap Helen.
Itu satu bulan yang lalu, tapi sampai detik ini Helen tak juga menghubungiku, dan aku yakin ini semua karena kesibukannya.
Jadi, aku akan pulang kali ini, diam-diam, untuk memberi kejutan serta melamar Helen. Dan pastinya menghadiri pernikahan Davin.
“Kapten Candra… Jenderal ingin bertemu,” ucap Andre, ajudanku, mengagetkanku dari lamunan.
Selengkapnya di aplikasi KBM
Judul: Dikira Kuli Padahal Kapten
By: Aquarisve
















