"Siapa?"
Seketika tub uhku lemas mendengar suara lembut seorang perempuan dari dalam sana.
Pintu terbuka, seorang perempuan berambut panjang dengan tubuh mungil dan wajah cantik berdiri di depanku. Dia menatapku dengan tatapan bingung.
"Cari siapa, Mbak?" tanyanya.
Aku terdiam, dia kemudian bertanya lagi.
"Siapa Sayang?" tanya suara yang tak asing lagi.
Mas Agam menatapku dengan wajah terkejut, dia bahkan berjalan mundur dan mena brak lemari yang ada di sebelahnya.
"Di...Diandra?"
Aku tersenyum, "Kenapa Mas, kaget?”
Perempuan yang tadi menatapku menundukkan kepalanya.
" Ma...Mas bisa jelasin, Sayang," ujar Mas Agam.
"Sayang yang mana? Aku atau dia?" tunjukku pada perempuan yang kini mundur menuju Mas Agam. "Kan sama-sama dipanggil Sayang juga,"
"Mas bisa jelaskan Diandra," ulang Mas Agam lagi.
"Nah gitu dong, kan enak, jadi tahu ngomongnya sama siapa," aku menyungging senyuman sinis menatap dua manusia yang bahkan aku enggan menyebutnya manusia.
"Silahkan jelaskan!"
Mas Agam terdiam, tangannya menggenggam tangan perempuan itu membuat dar ahku mendidih seketika.
"Kamu mungut dari tempat sampah mana perempuan seperti ini? Ooh, atau memang ini pekerjaannya? Iya Mbak? Kamu memang p*lacur ya?" Aku menatap perempuan itu dari atas hingga ke bawah.
"Diandra!" bentak Mas Agam.
"Kenapa Mas, ma rah? Dia bukan p*lacur ya? Atau tempat sampah lelaki busuk seperti kamu,"
"Jaga ucapan kamu Diandra! Rajani bukan perempuan seperti itu." tekan Mas Agam.
"Siapa namanya, Mas? Rajani? Jadi dia teman kamu yang namanya Raja kemarin? Berarti kemarin kamu ke Kalimantan ngurus proyeknya sama dia?" Aku tertawa. Ternyata Mas Agam memang mengelabuiku waktu itu. "Dan satu lagi, tidak pantas bicara sopan dengan perempuan murah seperti dia," balas ku.
"Heh perempuan, berapa harga kamu? Seribu? Dua ribu? Atau gratis?" tanyaku mengejek.
"Kurang ajar!" ujar perempuan itu hendak menam parku namun dengan cepat aku menangkis tangannya.
"Jangan harap bisa menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" Aku melepas tangannya dengan ka sar.
"Enak tidur sama suami orang? Sudah berapa lelaki yang kamu embat?"
"Cukup Diandra!"
"Diam kau, Agam!" Ku tunjuk wajah Mas Agam dengan emo si. "Masih berani kamu bicara setelah apa yang kamu lakukan. Dasar b*jingan!" Aku benar-benar muak dengan dua orang ini.
"Gimana Mbak sudah merusak ru mah tangga orang? Enakkan?" Aku tersenyum menyeringai. "Oh ya Mbak? Liburannya gimana? Seru? Ya seru lah kan bayarannya cuma jadi tempat buangan," Aku terkekeh. Ingin sekali rasanya tangan ini memberikan pelajaran untuk mereka.
Perempuan itu seperti tak tahu malu, ia memeluk erat tangan Mas Agam tanpa peduli padaku.
"Tidak ada lelaki lain kah sampai harus goda suami orang? Hah?" teriakku yang mulai tak tahan lagi.
"Sejak kapan kalian begini, Mas? Sejak kapan?" Kali ini aku berteriak pada Mas Agam.
"Di, tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik," Mas Agam menarik tanganku.
"Jangan sentuh aku! Aku ji jik!" Ku hentakan tangan Mas Agam.
"Hei perempuan, kamu tahu kan kalau dia ini suami orang? Kamu tahu kan? Apa kamu tidak diajarkan sama orang tuamu supaya jangan merebut hak orang?"
Perempuan yang ada di depanku menangis, entah karena takut atau mencari belas kasihan dari Mas Agam.
"Kamu tahu kan dia sudah punya istri? Jawab?"
Perempuan itu mengangguk sambil terus menangis. "Mas, tolong aku," bisik perempuan itu dengan manja, semakin membuat da rahku mendidih.
"Di, Diandra, sudah, malu di dengar orang," Mas Agam berusaha menahanku yang semakin dekat dengan perempuan simpanannya.
"Malu kamu bilang, Mas? Apa perbuatan kalian tidak lebih memalukan!" Pekikku. "Dan kamu perempuan, kalau sudah tahu dia itu beristri, kenapa masih dilanjutkan? Atau sudah ada an ak haram dalam perut kotormu itu,"
"Bia*ab!"
***
Judul : Pilih Saja Gun dikmu, Mas!
Napen : Rike_Kalama










