"Sayang," katanya pada Selin, melangkah mendekat dan mencoba melembut. "Nanti Mas pikirkan gimana caranya, ya. Mas pasti bereskan." Dia menunjuk ke pintu ru mah ibunya yang terbuka. "Sekarang kamu masuk dulu, ganti baju. Istirahat di ka mar Ibu di dalam."

"Apaa?!" pe ki knya, suaranya melengking. "Istirahat di ka mar sempit Ibu kamu? Nggak level! Aku mau pulang ke apartemenku!"

Wajah Bu Ramlah yang pucat pasi seketika me m e r ah pa dam.

"Selin! Jaga mulutmu!" hardik Bu Ramlah, kaget dan ma rah. Tenaga tuanya seakan kembali. "Ini ru mah saya! Kamu sudah numpang nikah gratis di halaman saya, sekarang kamu malah meng hi na?!"

"Menantu tidak tahu diuntung!" timpal Mbak Jeni, ikut memanasi.

"Sudah!" te riak Juna, menengahi. Dia tidak butuh drama baru. Dia tidak tahan lagi.

Dia menarik Selin menjauh dari jangkauan ibunya. "Oke! Oke! Mas antar kamu ke apartemen!" bisiknya cepat. Lalu dia menoleh ke ibunya, ta ta pa n nya din gin. "Bu, Ibu masuk dulu sama Mbak Jeni. Masalah u a n g pelunasan, jangan terlalu dipikirkan. Aku pastikan semua akan beres. Sekarang aku dan Selin pamit ke apartemen dulu."

Juna menyeret Selin ke mobilnya. Dia menancap gas.

-----

"LILA! BU KA! BU KA PINTUNYA, LILA!"

Pintu terbuka.

"Kamu g i l a?! Kamu pikir ini lucu, hah?! Bikin malu aku di depan Pak Devan! Di depan semua orang! Di depan keluargaku!" Juna mendekat, wajahnya penuh ama rah. "Kenapa kamu gugat c e ra i aku mendadak seperti ini?! Hah?! Bukannya kamu ridho aku menikah lagi?! Kamu sendiri yang izinin aku, kan?!"

"Oke! Oke! Daripada aku dig u gat cerai oleh perempuan sialan kayak kamu!" Juna men un juk wajah Lila, ma tanya m e n y a l a dalam kegelapan. "Dengar ya! Malam ini juga, Saat ini juga, Aku ta l ak tiga kamu!"

Dia menunggu. Menunggu Lila menangis, memohon, atau han cur.

Tapi Lila hanya diam. Men a tapnya dengan din gin. Keheningan Lila membuatnya semakin murka.

"Kenapa?! Kaget?!" ter iak Juna lagi, suaranya menggema di jalanan yang sepi.

"Kamu pikir ini selesai sampai di sini?!" semburnya. Dia menepuk da danya dengan som bong.

"Asal kamu tahu, aku pegang semua surat menyurat! Kamu nggak akan dapat apapun! Kamu dengar?! Sepersen pun enggak!"

"Rumah ini!" Juna menunjuk ke pintu. "Perusahaan! Semuanya milikku! Aku jamin setelah ini kamu akan jadi ge m bel! Kamu akan ang kat kaki dari ru mah ini!"

"Dan Zuney," Juna tersenyum licik, merasa telah menemukan senjata pamungkas. "Hak asuh an ak pasti jatuh ke tanganku. Aku punya u a n g, aku punya kuasa. Kamu? Kamu cuma istri pembangkang yang nggak punya apa-apa! Pengadilan pasti akan kasih Zuney ke aku!"

Lila masih diam, tapi matanya menatap Juna dengan tatapan muak.

"Sudah selesai, Mas?" tanya Lila, suaranya dingin.

Juna tertegun.

"Kalau sudah selesai men y u m p ah," lanjut Lila. "Sekarang, pergi dari ru mah saya."

'Kamu yang akan jadi ge m bel Mas, bukan aku!'

---------

Baca selengkapnya di aplikasi KBM

Judul : Melepasmu dengan Elegan

Penulis : shasya rahman

#ShasyaRahman

#MelepasmudenganElegan

#KBM

#FYP

2025/12/25 Diedit ke

... Baca selengkapnyaBanyak dari kita mungkin pernah mendengar tentang perdebatan dalam keluarga terkait hubungan dan pernikahan, terutama ketika konflik uang dan perselingkuhan muncul. Dalam cerita ini, kita dihadapkan pada realita pahit hidup yang jarang diceritakan secara terbuka. Saya sendiri merasa sangat tersentuh ketika mengetahui bahwa di balik kemewahan pesta atau penampilan bahagia, tersimpan luka yang besar, seperti yang terlihat dari permintaan uang 800 juta dan surat cerai yang dilemparkan bukti pengkhianatan. Kisah seperti ini mengingatkan saya pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga dan pasangan. Hal-hal yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang merusak semua yang telah dibangun. Apalagi ketika urusan harta, rumah, dan hak asuh anak ikut menjadi perebutan, perselisihan bisa semakin rumit. Selain itu, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana sikap keras dan egoisme bisa menambah ketegangan. Saya percaya, kejujuran dan saling memahami menjadi kunci utama untuk menyelesaikan konflik serupa. Meski begitu, dalam kondisi seperti ini, mencari bantuan profesional seperti konseling pernikahan juga sangat dianjurkan. Saya berharap cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai perasaan pasangan dan keluarga, serta mengingatkan pentingnya kesetiaan dan tanggung jawab dalam sebuah hubungan.