Ini a n akku, bukan a n akmu. Tolong jangan ngaku-ngaku ya. Nggak cukup suami saja yang sudah kau rebut!!!
BAB 10
“Mama, ini dari sekolah,” ucapnya ceria. “Guru bilang khusus untuk orang tua.”
“Apa ini, sayang”
“Mama buka aja sendiri.”
“Masya Allah, Rei…” suara Aqeela bergetar. “Mama bangga sekali sama kamu.”
Rei tersipu, lalu memel uk ibunya erat-erat. “Aku belajar sungguh-sungguh karena aku mau Mama bangga. Mama pasti akan datang, kan?”
“Ya, pasti. Mama pasti akan datang untuk menyaksikan a n ak mama berpidato.”
“Hore! Papa juga, kan, ma?”
Di saat itulah, pintu ruang keluarga terbuka. Romeo masuk bersama Cassy, yang baru saja pulang dari kantor. Akhir-akhir ini Cassy sering ikut pulang ke ru mah ini dengan alasan masih ada urusan kantor. Tapi Aqeela tau dengan jelas tujuan mereka. Ya, Cassy pasti sangat kangen dengan yang ia anggap a n ak kandungnya.
Aqeela buru-buru melipat surat itu, tapi Rei dengan polosnya sudah berseru, “Papa! Aku dapat undangan dari sekolah. Aku akan pidato di hari kelulusan nanti!”
“Oh ya?” seru Romeo.
“Iya, Pa. Lihat surat ini.”
Cassy langsung berjalan mendekati Rei. Kali ini benar-benar berharap bisa memel uknya.
“Wah, jagoan Tante keren banget. Boleh Tante peluk ya?”
Namun Rei spontan mundur. Ia menatap Cassy dengan wajah bingung bercampur enggan. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia berlari kecil bersembunyi di balik tu buh Aqeela. Jemari mungilnya mencengkeram gaun ibunya, seakan Cassy adalah sosok asing yang menakutkan.
“Ap … kenapa begini.” gumam Cassy, bibirnya bergetar hebat. Perasaan pedih menghujam hatinya. ‘Itu a n akku. Itu da rah dagingku. Tapi kenapa … kenapa dia menolak aku?’
Aqeela menunduk sedikit, mengusap kepala putranya yang menempel di pinggangnya. Tatapannya terarah ke Cassy, t ajam seperti bilah pi sau. “Berhenti mengatakan ini a n akmu. Jangan pernah menyentuh a n akku tanpa izinku. Rei tidak butuh orang lain. Cukup aku, ibunya.”
Romeo mengambil alih, mendekati Aqeela dengan senyum canggung. “Sayang, jangan buat suasana tegang. Ini kabar baik. Seharusnya kita semua bersyukur. Cassy hanya terharu, itu saja.”
“Ayo, Nak. Kita ke ka mar. Mama ingin mendengar kamu latihan pidato.”
Begitu pintu menutup, Cassy tak mampu menahan tangis. Ia terisak keras, menutup wajah dengan kedua tangannya. “Kenapa? Kenapa bahkan a n akku sendiri tidak mau mendekat padaku? Aku … aku merasa kosong sekali. Kamu bilang d ara h lebih kental daripada air. Tapi kenapa a n akku bahkan tidak mengizinkan aku memel uknya.”
Romeo menghela napas, berusaha menenangkan. Ia meraih bahu Cassy, lalu menariknya ke dalam pelukan. “Sudah, jangan menangis. Kamu harus kuat. Lambat laun, Rei akan mengerti. Percayalah, aku akan selalu ada untukmu. Ingat tujuan kita, sayang.”
“Ya, aku menyayangimu.” Adegan selanjutnya sangat tidak pantas untuk a n ak di bawah umur. Romeo lupa sedang berada dimana sampai dia berani bercum bu dengan kekasihnya di rum ahnya sendiri.
“Ma.” Ternyata Rei malah menyusulnya. Aqeela cepat-cepat meletakkan telunjuknya di bibir, agak Rei tidak berisik.
Rei yang bingung malah semakin mendekat dan memel uk mamanya. Aqeela buru-buru menutup mata Rei dengan tangannya. “Jangan lihat, Sayang,” bisiknya lembut. “Itu bukan pemandangan yang baik.”
Rei menoleh polos, meski pandangannya terhalang. “Kenapa, Ma? Papa pel uk Tante Cassy… apa Papa sayang sama Tante?”
“Itu pe lukan penenang, sayang. Pel ukan antar sahabat.”
“Mama sedih?”
“Tentu tidak. Mama kan istrinya papa. Kalau Tante Cassy cuma teman kerja papa dikantor. Jadi mama nggak perlu cembu ru sama Tante Cassy.”
“Ooo … terus kenapa kita harus sembunyi, Ma?”
“Nggak papa. Mama cuma nggak mau mengganggu mereka. Ayo kita kembali ke kamar.”
“Oke.”
***
Sakit banget nggak sih jadi Aqeela. Dulu karya aku di KBM ya
Judul : MEMB ODOHI GUN DIK SUAMIKU
Penulis : sheilaluktri

