Bab 3
“BRUKKK!”
Tumpukan buku tebal jatuh berserakan ke lantai. Bunyi han taman keras itu membuat beberapa mahasiswa mendongak dari buku catatan mereka, bahkan ada yang spontan menutup mulut menahan tawa.
Dan di tengah kepanikan kecil itu, Kanaya terlihat berjongkok dengan wajah merah padam. Tangannya bergerak cepat memunguti buku-buku yang berserakan, tapi jari-jarinya bergetar, sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
“Duh… kenapa sih rak ini licin banget!”
“Lo tuh…” suara Sean terdengar datar. “…emang nggak bisa diem ya? Mau di kelas, di kafe, sekarang di perpus pun tetep bikin keributan.”
Kanaya langsung mendongak, wajahnya berusaha membela diri. “Aku tuh sebenernya orangnya kalem! Cuma… semesta aja yang suka jahil!”
“Semesta?” Sean mengangkat alis. “Atau lo sendiri yang ceroboh?”
“Eh, ceroboh itu kan turunan genetik. Jadi bukan salah aku,” Kanaya cepat menjawab.
Sebuah senyum samar nyaris lolos dari wajah Sean, tapi ia menahannya. “Turunan genetik? Lo kira jatuhin buku kayak gini tuh penya kit keturunan?”
Kanaya mengangguk mantap, meski jelas ngawur. “Iya! Nenek gue dulu juga sering jatuhin kendi beras kok.”
Sean terdiam sebentar, lalu menghela napas dengan ekspresi menahan tawa. “Alien kesambar lampu jalan…”
Mendengar itu, Kanaya langsung mendengus keras. “Please deh jangan mulai lagi pake sebutan itu! Nama gue Kanaya, bukan Alien!”
Sean mendekat sedikit, berbisik setengah mengejek. “Lo sendiri kan yang bilang. Alien tuh suka bikin kekacauan, ja tuhin benda, bikin orang di sekitarnya heboh…” ia berhenti, matanya menatap lebih lama, “…dan anehnya, bikin penasaran.”
Deg.
Kata terakhir itu membuat udara di antara mereka menegang.
Kanaya buru-buru mengibaskan tangan ke udara. “Penasaran apanya? Jangan-jangan lo penasaran gimana caranya gue bisa jatuh berkali-kali tanpa gegar otak?”
“Bisa jadi.” Sean menyilangkan tangan di da da, tetap dengan ekspresi cool yang sulit ditebak.
Keheningan tiba-tiba mengisi ruang. Hanya terdengar jar um jam tua di dinding berdetak, dan suara halaman buku yang dibalik dari sudut ruangan lain. Kanaya masih berdiri dengan satu buku tebal dipeluk di da danya, sementara Sean berdiri tepat di depannya.
Lalu Sean merogoh tasnya.
Dengan tenang, ia mengeluarkan sesuatu.
Kanaya melotot. Itu...
“Itu foto… ASTAGA! SERIUSAN DIBAWA KE SINI?!” serunya setengah berbisik.
Foto itu. Foto konyol dirinya saat tersenyum aneh di pelaminan, yang entah bagaimana bisa jatuh ke tangan Sean.
Sean pura-pura serius. “Biar kalau bosen baca buku, gue punya hiburan tambahan.”
“Hiburan kepala lo!” Kanaya langsung mencoba merebut, tapi Sean dengan santai mengangkat bingkai foto itu tinggi-tinggi.
“Ups. Nggak nyampe ya?” katanya dingin, tapi matanya jelas menahan tawa.
“Turunin, Kak! Ini perpustakaan, bukan lapangan basket!” Kanaya melompat-lompat kecil, berusaha meraih bingkai itu.
Beberapa mahasiswa mulai menoleh, beberapa cekikikan menutupi mulut mereka. Petugas perpustakaan, yang tadi sibuk dengan berkas, kini berdiri dengan wajah kesal.
“Dek, tolong jangan ribut. Ini bukan arena olahraga!”
Kanaya langsung berhenti, tersenyum kaku sambil mengangguk malu. Pipinya makin merah. Sementara Sean berdiri santai seolah dirinya sama sekali tidak bersalah.
Akhirnya, Sean menurunkan tangannya dan menyerahkan bingkai itu pada Kanaya. Namun kalimat berikutnya membuat seluruh tu buh gad is itu membeku.
“Aku suka foto ini.”
Kanaya menatapnya dengan syok. “S-suka? Lo suka liat gue mirip monster kesetrum gini?!”
Sean menatapnya lama, ekspresinya sulit ditebak. “Nggak. Gue suka karena… lo kelihatan jujur. Apa adanya. Nggak dibuat-buat.”
Hening.
Bahkan detak jam terasa terlalu keras.
Suaranya keluar begitu saja, lirih nyaris tak terdengar. “J-jadi maksudnya… Kak Sean suka sama aku?”
Sean terdiam. Pandangannya sempat beralih ke samping, lalu kembali menatap Kanaya. Sebuah senyum tipis muncul, senyum yang jarang sekali terlihat dari wajah dinginnya.
“Mungkin.”
Judul : Istri Dadakan CEO Nyebelin
Penulis : Senja Berada
Dalam novel 'Istri Dadakan CEO Nyebelin', alur cerita tidak hanya menghadirkan romansa biasa, tapi juga bumbu humor yang membuatnya terasa segar. Contohnya saat Kanaya tak sengaja jatuhin buku tebal di perpustakaan, yang memancing perhatian sekitar dan menambah keakraban dengan Sean. Hubungan mereka yang awalnya penuh ejekan dan kesal-kesalan justru berkembang menjadi hubungan yang manis dan penuh makna. Foto konyol Kanaya di pelaminan yang dibawa Sean bukan cuma sebagai hiburan, tapi juga simbol dari kejujuran dan apa adanya Kanaya, sisi yang justru disukai Sean. Jika kamu penasaran dengan bagaimana kisah cinta mereka berkembang, novel ini juga menunjukkan bagaimana karakter Kanaya yang ceroboh dan Sean yang dingin bisa saling melengkapi. Selain itu, latar seperti perpustakaan memberikan nuansa yang unik dan sedikit berbeda dari kisah romansa kebanyakan. Untuk para penggemar cerita dengan tema pernikahan dadakan dan CEO, kisah ini menawarkan kejutan serta adegan yang relatable dan menghibur, cocok untuk menemani waktu santaimu. Jangan lewatkan momen-momen lucu sekaligus menggemaskan antara Kanaya dan Sean yang membuat pembaca betah terus mengikuti ceritanya.

