Aku yatim piatu, dan dia adalah seluruh duniaku—sampai hari itu.....
BAB 1
"Selesaikan masa Iddah kamu di sini," kata Faaz dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Mas, kita tidak mungkin satu atap lagi, status kita sudah bukan siapa-siapa lagi, artinya kamu sudah haram melihat auratku, begitu sebaliknya dan semoga kamu gak lupa dengan kondisi kontrakan ini, dapur kecil, ka mar hanya satu dan ka mar mandi juga hanya satu, bagaimana cara kita berbagi ruangan tanpa saling menganggu," ucapku panjang lebar.
"Saya yang akan keluar, kamu tetaplah di sini sampai masa Iddah kamu selesai," kata Faaz.
"Haruskah seperti itu Mas, saya ikhlas kok menjalani masa Iddah di tempat lain, lagian saya takut...," ucapku menggantung.
"Jangan membantah, ini permintaan terakhirku Maryam, izinkan saya tetap melihat kamu, mengawasi dan memperhatikan kamu selama masa Iddah ini," kata Faaz memohon.
Seperti terhipnotis dengan tatapan sendunya, akhirnya aku mengangguk pasrah, menerima permintaan terakhir itu.
"Makasih ya Mas, maafkan saya jika selama menjadi istri kamu pernah dengan sengaja menya kiti, atau dengan tidak sengaja," kataku lirih.
"Mas, boleh izin beli keperluan saya sebentar, persiapan selama menjalani masa Iddah," kataku sangat lirih.
Aku terpaksa meminta izin, padahal niat hati sengaja meminta Faaz menyiapkan itu semua, karena jujur aku tidak memiliki ua ng sebanyak itu. ATM yang ada di dompetku atas nama Faaz, tidak mungkin tetap memilikinya saat kami bukan lagi suami istri dan saat itu, statusku adalah mantan istri walau belum menit.
"Boleh, sangat boleh, tapi saya antar ya," sahutnya.
Aku diam, bingung mau bilang apa, padahal aku yakin sisa u ang di dompetku tidak banyak, sementara Faaz tidak peka dengan ucapanku barusan.
"Mas!"
Aku tercekat, bingung kalimat apa yang sekiranya bisa kukatakan padanya.
"Saya berangkat sendiri aja," kataku.
Aku mengusap, akhirnya bisa mengeluarkan kalimat singkat itu.
"Minimarketnya lumayan jauh Ay."
Aku hanya wanita malang, yatim piatu yang diangkat derajatnya oleh Faaz, pria itu pernah memberiku kehidupan yang layak, walau itu belum seberapa menurut beberapa orang, karena kami memutuskan ting gal di ru mah kontrakan yang sederhana.
Aku pernah melayang, saat Faaz membawaku keluar dari mewah kedua orang tuanya, rasanya bahagia sekali memiliki suami yang pengertian, dia tidak pernah memintaku memahami ibunya yang tidak menyukaiku, tapi dia malah menjauhkan kami agar tidak saling menya kiti.
Meski hari itu, aku harus menelan ludahku, bahkan hingga dua tahun terikat tali pernikahan dengan anaknya, ibu Shanum tidak pernah suka padaku.
"Sejak kapan nyari istri di panti asuhan, Ibu malu punya menantu dari panti asuhan," kata ibu Shanum kala itu.
Judul : IZINKAN AKU PERGI (Setelah Kau Talak) -
By Hasmi Asmaya Putry
Only KBM Apk
Sebagai seseorang yang pernah membaca novel dengan tema serupa, saya mampu merasakan betapa beratnya masa Iddah bagi seorang wanita yang baru saja bercerai. Tidak hanya soal menjaga kehormatan, masa ini juga sarat dengan pergulatan emosional dan ketidakpastian masa depan. Penggambaran tokoh Maryam sebagai sosok yatim piatu yang mengandalkan Faaz sebagai dunia satu-satunya memunculkan rasa empati mendalam. Kisah mereka di kontrakan sederhana dengan dapur kecil dan kamar mandi tunggal memperlihatkan betapa keterbatasan fisik turut membayangi masa sulit ini. Dalam kehidupan nyata, masa Iddah sering menjadi momen refleksi bagi pasangan yang berpisah untuk menata ulang diri dan menerima kenyataan baru. Saya pernah mendengar dari seorang teman betapa pentingnya dukungan emosional, meskipun secara aturan agama ada batasan interaksi seperti yang ditampilkan Faaz yang masih ingin mengawasi Maryam namun tetap menghormati batas aurat. Cerita ini juga menyoroti bagaimana perjuangan sosial Maryam yang mendapat penolakan dari mertua, yang menjadikan latar belakang keluarga dan status sebagai yatim piatu sebagai tantangan berat dalam kehidupan rumah tangga. Perlakuan tidak adil seperti ucapan ibu Shanum tentang menantu dari panti asuhan menimbulkan luka yang mendalam dan menguji ketabahan hati seorang istri. Hal yang menarik adalah kejujuran Maryam ketika harus mengakui keterbatasan finansialnya, menunjukkan bahwa dalam realitas banyak perempuan menghadapi masalah ekonomi pasca perpisahan. Ini menambah kedalaman cerita sehingga pembaca dapat mengaitkan dengan pengalaman mereka atau orang terdekat. Secara keseluruhan, kisah "Izinkan Aku Pergi" memberikan wawasan tidak hanya tentang proses menjalani masa Iddah secara agama, tetapi juga tentang dinamika sosial, psikologis, dan ekonomi yang dihadapi perempuan pasca talak. Membaca kisah ini mengajak kita untuk lebih memahami dan empati terhadap para perempuan dalam situasi serupa di dunia nyata.

