"Aku terima," kata Aisyah suatu malam, suaranya datar. "Tapi dengan syarat."

Fadli yang sedang duduk di seberang meja makan mengangkat wajahnya, ada campuran lega dan surprise di matanya. "Syarat apa?"

"Pertama, kamu harus tetap berlaku adil. Giliran menginap harus sama rata, tidak boleh lebih sering di ru mah dia."

"Tentu saja."

"Kedua, kamu tidak boleh membandingkan aku dengan dia di depanku atau siapapun."

"Oke."

"Ketiga, kalau suatu hari aku tidak tahan lagi, aku berhak minta cer ai tanpa kamu persulit."

Fadli terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Baik. Aku setuju."

"Dan satu lagi," Aisyah menatap ta jam mata suaminya.

"Aku tidak akan datang ke pernikahanmu dengan dia. Jangan harap."

"Syah ...."

"Itu syarat terakhirku. Tapi terserah kamu."

Fadli menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu."

***

Pernikahan Fadli dan Nur digelar dua minggu kemudian. Acara sederhana di ru mah orang tua Nur di desa, hanya dihadiri keluarga dekat dan tetangga sekitar. Mama Hapsah dan Pak Budi hadir dengan wajah sumringah, seakan baru saja memenangkan pertempuran besar.

Tiga hari berlalu seperti tiga tahun. Aisyah tidak tidur nyenyak semalampun. Setiap malam dia membayangkan Fadli di rum ah Nur. Membayangkan mereka tertawa bersama, makan bersama, tidur bersama.

Jam sembilan malam, pintu pagar terbuka. Mobil Fadli masuk. Aisyah tidak bergerak dari tempatnya duduk.

Fadli masuk ke ru mah, mencari Aisyah. Dia menemukannya di teras belakang.

"Syah," sapanya lembut. "Kamu di sini."

"Bagaimana?" tanya Aisyah tiba-tiba, suaranya datar.

"Bagaimana apa?"

"Istrimu yang baru. Bagaimana dia? Lebih baik dariku?"

"Syah, jangan begini?"

"Jawab saja!" Aisyah menoleh, matanya merah tapi tatapannya ta jam.

"Aku berhak tahu. Dia lebih baik dariku, kan? Makanya kamu rela menikahinya meski harus menya kitiku."

Fadli terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Dia manis," lanjut Aisyah, suaranya bergetar.

"Sederhana, taat, bisa memasak masakan desa yang enak. Tidak cerewet seperti aku. Tidak menuntut seperti aku. Dan yang paling penting dia bisa memberikanmu anak yang tidak bisa aku berikan."

"Aisyah, stop!"

"Selamat, Fadli," Aisyah berdiri, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sudah dapat istri yang lebih baik. Semoga kamu bahagia."

Aisyah berjalan masuk ke ru mah, ke kam ar, mengunci diri. Fadli berdiri di teras, mengepalkan tangannya. Ada penyesalan di wajahnya, tapi sudah terlambat. Keputusan sudah diambil. Tidak ada jalan kembali.

***

Hari-hari berikutnya adalah neraka bagi Aisyah. Tiga hari Fadli di ru mahnya, tiga hari di ru mah Nur. Ketika Fadli di rum ah, Aisyah berusaha bersikap normal. Tapi suasana di antara mereka canggung, dingin, penuh ketegangan yang tidak terucap.

Fadli mencoba memperlakukan Aisyah seperti dulu membawakan bunga, mengajak makan malam romantis, membeli hadiah. Tapi semuanya terasa hambar. Karena Aisyah tahu, tiga hari lagi Fadli akan pergi dan melakukan hal yang sama dengan wanita lain.

Suatu malam, ketika Fadli sudah tertidur pulas, Aisyah bangun. Dia menatap wajah suaminya yang terlelap damai. Wajah yang dulu sangat dicintainya.

Aisyah turun dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Menatap langit malam yang gelap. Di suatu tempat, di ru mah yang tidak jauh dari sini, ada wanita lain yang juga punya hak atas suaminya.

Wanita yang mungkin sekarang sedang tersenyum dalam tidur, bermimpi tentang anak yang akan segera dia miliki dengan Fadli.

Sementara Aisyah? Dia hanya bisa berdiri sendirian di kegelapan, merasakan sa kit yang tidak akan pernah hilang.

Ini baru permulaan. Dan jika sudah sesa kit ini di awal, bagaimana dia akan bertahan untuk seterusnya?

Bersambung....

Judul : Aku Disusui Maduku

Penulis: Sitti Istiqomah

#SittiIstiqomah

#AkuDisusuiMaduku

#KBM

1/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman Aisyah dalam menghadapi pernikahan suaminya dengan wanita lain memberikan gambaran mendalam tentang perjuangan batin seseorang yang harus menerima kenyataan pahit dalam hubungan. Sering kali, dalam hubungan yang rumit, kita dihadapkan pada pilihan sulit dan perasaan yang bertentangan antara cinta dan sakit hati. Berbicara tentang rasa terima kasih kepada orang baik, cerita Aisyah mengajarkan kita arti menghargai kejujuran dan batasan dalam sebuah ikatan. Meskipun hatinya terluka, Aisyah tetap tegar dan menetapkan syarat demi harga dirinya, sebuah tindakan yang patut diapresiasi dari sudut pandang psikologis. Dalam hidup, hubungan yang berakhir dengan luka sering hadir bersama pelajaran berharga: tentang kesabaran, kejujuran, dan kemampuan melepaskan ketika cinta tak lagi sejalan. Sebagai pembaca, pengalaman ini bisa menginspirasi kita untuk lebih menghargai pasangan dan menerapkan sikap adil dan terbuka dalam hubungan. Jangan lupa bahwa setiap individu berhak menetapkan batasan untuk menjaga kesejahteraan emosionalnya. Menghadapi kekecewaan adalah ujian yang berat, tapi juga menjadi peluang untuk tumbuh dan memahami arti cinta yang sesungguhnya. Aku sendiri pernah mengalami situasi di mana maksud baik dan perasaan cinta diuji oleh kenyataan yang tidak diharapkan. Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa komunikasi terbuka dan saling menghormati adalah kunci agar hubungan tetap sehat meskipun menghadapi konflik.