(1)
"Bu, Bapak sudah mening gal. Bagaimana kalau kita bagi warisan sekarang?"
Rifai menatap lurus ke depan.
"Karena aku an ak laki-laki satu-satunya, ru mah ini jadi hakku. Kamu, Lia yang belum jelas masa depanmu mending garap kebun belakang.
Ibu boleh ting gal di ru mah gubuk belakang sama Lia.
Atau, kalau Ibu masih mau tinggal di sini, harus bayar sewa rum ah."
Seisi ruangan langsung sunyi.
"Astaghfirullah ..."
Beberapa orang pelayat yang mendengar hanya bisa mengelus da da.
"Sadar, Nak ... sadar. Istighfar ..." bisik seorang tetua dengan lirih.
Tapi Ibu ... hanya tersenyum. Tak ada mar ah, tak ada air mata.
Dengan suara lembut, Ibu bertanya,
"Ibu ... harus bayar berapa, Nak?"
"15 juta setahun, Bu," jawab Tiara, istri Rifai.
Datar. Tanpa ragu. Tanpa malu.
"Baiklah, Nak. Ibu akan bayar," ucap Ibu, masih dengan suara yang sama lembutnya.
"Besok, Ibu harus menyediakan ua ngnya," timpal Rifai menegaskan.
"Bu, Ibu sabar ya ..." bisiknya pelan, mencoba menahan gemuruh di da danya sendiri.
Bu Yati hanya mengangguk. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya… tak bisa dibaca siapa pun.
Sesaat sebelum membuka pintu mobil, Rifai menoleh dan berkata,
"Tiara, jangan lupa. Besok kamu ambil ua ng itu. Ingat, lima belas juta. Jangan sampai kurang."
Tiara mengangguk ringan.
"Siap," sahutnya.
Dan pintu mobil pun tertutup.
"Mas, aku mau beli emas ...."
Tiara merengek manja sambil memeluk lengan Rifai.
Rifai meliriknya sekilas. "Besok, setelah dapat yang dari Ibu, sekalian aja beli emas," jawabnya enteng, tanpa beban.
Tiara langsung tersenyum lebar.
"Baik banget suamiku. Makasih banyak, Mas!"
Ia memeluk Rifai, suaminya.
---
“Lia, bantu Ibu, Nak. Kita harus bersiap. Jenazah Bapak kita kebumikan dulu,” ucap Bu Yati sambil menggandeng tangan putrinya. Suaranya bergetar, namun ia berusaha tetap tegar.
Lia mengangguk, meski matanya sembab.
Pak Modin telah datang bersama beberapa warga. “Bismillah, mari kita siapkan jenaz ah almarhum. Semoga husnul khatimah,” ucapnya dengan khidmat.
“Bismillahi Allahu Akbar,” seru para pengusung keranda serentak.
Dibalik keranda yang perlahan diusung keluar ru mah, langkah Lia terseok. Pandangannya menyapu kerumunan pelayat, mencari sosok yang tak kunjung tampak—Rifai, juga Tiara.
"Kurang apa mas. Bapak kerja siang malam demi kamu. Pulang malam, masuk pagi. Nggak pernah mengeluh. Buat apa? Buat bayar kuliahmu. Buat masa depanmu yang lebih baik," gumamnya lirih, namun tajam menu suk udara.
"Bahkan buat ngantar Bapak ke peristirahatan terakhirnya, kamu lebih milih pulang sama istrimu. Apa setega itu hatimu sampai melupakan jasa Bapak?!"
"Bu ...," panggil Rifai dengan suara nyaris tak terdengar. Ia duduk bersimpuh di hadapan ibunya. "Bu ... ua ngnya ... sudah ada?"
Doa Bu Yati terhenti. Matanya terpejam erat. Suasana mendadak hening. Lalu perlahan, ia membuka mata, menatap Rifai dalam-dalam.
"Nak ..." suaranya parau, tapi tajam, "...ijinkan ibu mendoakan bapakmu malam ini dengan tenang."
“Halah, bilang aja ibu belum ada? Jangan mengulur waktu, Bu!”
Bu Yati masih duduk bersimpuh,
“Duduklah, Nak. Bacakan doa buat bapakmu.”
Rifai menggeleng cepat, rahangnya mengeras.
“Sekarang atau nanti nggak ada bedanya, Bu. Aku capek nunggu. Buruan, ibu ambilkan!”
Bu Yati menoleh perlahan. Tatapannya ta jam, tapi tidak membentak.
“Capekmu karena menunggu, capek ibu karena diting gal, dikhianati, dan tetap harus bertahan. Jangan bandingkan, Nak.”
Rifai mendengus. “Jadi ibu belum ada, kan?”
“Ibu belum tahu, Nak. Tapi Allah selalu punya jalan,” sahut Bu Yati.
Rifai tertawa sinis. “Selalu Allah ... selalu doa. Tapi aku hidup dari apa?!”
“Kamu tunggu di situ.”
“Inilah u ang yang kamu inginkan.”
Bu Yati melemparkan amplop itu ke meja. Suaranya berat, seperti menahan tangis yang tertahan.
Rifai menunduk, tidak menyentuh amplop itu.
“Mulai hari ini, habis sudah kesabaranku. Kamu, Rifai ... bukan lagi anakku.”
Judul : Rekening Rahasia Ibu
Karya : Vina Ivantina
Sudah selesai di KBM App



























