"Kau tahu rasanya menginjakkan kaki di tempat kau pernah diusir layaknya sam pah? Harum lemon ini, marmer dingin ini... semuanya masih sama. Hanya satu yang beda: Kali ini, aku datang bukan untuk memohon, tapi untuk menghan curkan."
"Lihat, Sayang," suara Adrian berat, penuh kepu asan yang memu akkan. Ia menggenggam tanganku erat. "Akhirnya, kau resmi menjadi bagian dari semua ini."
Aku melangkah masuk. Suara sepatu hak tinggiku berdetak di atas marmer, menciptakan irama yang penuh percaya diri. Di depanku, keme wahan ini membentang luas.
"Indah sekali, Adrian. Bahkan lebih dari yang kubayangkan," ucapku halus. Di dalam kepalaku, aku melanjutkannya: Lebih indah untuk diba kar menjadi abu.
"Aku harap kau suka ting gal di sini," bi sik Adrian.
Aku menatap karpet persis di depan meja kaca itu. Di sanalah, bertahun-tahun lalu, aku tersung kur. Mera tap saat putriku, Kinan, direng gut paksa dari pel ukanku. Kini, aku berdiri di titik yang sama dengan senyum paling lugu yang bisa kupalsukan.
"Aku merasa sangat... akrab dengan ru mah ini, Adrian. Seperti sudah lama sekali aku tingg al di sini." Aku menatapnya manis, menyun tikkan ra cun di setiap kata.
Adrian mendekat, berbisik penuh rahasia, "Kamu akan selamanya menjadi ratu di sini."
Aku tertawa kecil. Adrian pikir aku tersanjung? Bo doh. Dia berbisik karena dia takut. Takut pada bayangan Selena—istri pertamanya—yang kini muncul dari balik ruang makan dengan gaun mahal yang kusut dan mata membara.
"Sudah pulang?" Suara Selena datar, menu suk.
"Selena," Adrian menyela, masih memegang tanganku. "Karin sudah di rum ah. Aku harap kalian bisa... beradaptasi."
Selena mendekat. "Oh, kami pasti akan sangat akrab. Sebagai istri kedua, kau harus belajar banyak cara mengurus rum ah ini, Karin."
Aku tidak mundur selangkah pun. "Tentu, Selena. Terima kasih bimbingannya. Lagipula," aku berbisik tepat di telinganya, cukup untuk membuat Adrian tak mendengar, "kita berdua tahu siapa yang benar-benar memahami isi hati Adrian, bukan? Ka mar mana yang akan dia kunjungi malam ini?"
Wajah Selena memucat. Ia mende sis, namun Adrian malah tersenyum lega karena mengira kami sedang beramah-tamah.
"Bagus! Aku tahu kalian bisa rukun," ujar Adrian, da danya membusur bangga. Dia merasa telah berhasil menji nakkan dua singa di satu kandang.
Tiba-tiba, jantungku berhenti berdetak. Di balik pagar tangga, sepasang mata besar mengintip.
Kinan.
Aku mengubah raut wajahku dalam sekejap. "Si kecil sedang memperhatikan kita," ujarku riang.
"Arsya! Sini, Nak. Temui... Ibu Karin," panggil Adrian.
A nak itu diam. Aku melangkah ke bawah tangga, berjongkok agar mataku sejajar dengannya. "Halo, Sayang. Aku sangat senang akhirnya bertemu denganmu."
Tatapan a nak itu kosong. Hatiku koyak. Ini bukan tatapan a nak kecil; ini tatapan seseorang yang sudah terlalu sering dikhia nati oleh dunia.
"Kamu... tingg al di sini?" suaranya pe cah, dingin.
"Iya. Aku akan menempati ka mar di sebelah ka marmu."
"Dengar itu, Adrian? Dia langsung mengklaim wilayah!" cemo oh Selena dari belakang.
Aku mengabaikannya. Fokusku hanya pada nyawa kecil di depanku. "Aku dengar kau suka dongeng. Aku membawa banyak buku baru untukmu."
Ada cahaya kecil di matanya yang sempat menyala sebelum padam kembali. Ia mengangguk kecil lalu menghilang ke lorong ka mar.
**
Baca selengkapnya di KBM app.
Judul : Istri kedua bukan pe lakor
Penulis : Denaira
Denaira
Pengalaman saya dalam membaca berbagai cerita keluarga kompleks seperti kisah Karin ini, selalu membuat saya merenungkan betapa rumitnya posisi seorang istri kedua dalam keluarga yang sudah ada istri pertama. Dalam cerita, Karin datang bukan untuk memohon, melainkan untuk mengambil alih tempat yang dulu ditinggalkannya dengan penuh luka dan dendam. Saya bisa merasakan bagaimana suasana rumah yang dulu penuh kenangan pahit kini menjadi medan strategi dan pertempuran batin. Penggambaran harum lemon dan marmer dingin sebagai latar tempat menghadirkan suasana yang sangat hidup dan simbolis—harum lemon yang segar tapi juga tajam, serta marmer yang dingin dan keras, seperti karakter para tokohnya. Begitu pula dialog tersembunyi dan intrik antara Karin, Adrian, dan Selena yang membuat saya terus ingin tahu bagaimana perasaan seorang anak kecil yang terjebak di antara dua wanita yang saling berebut kasih sayang ayahnya. Dari sudut pandang pribadi, saya merasa cerita ini membuka mata bahwa menjadi istri kedua bukan berarti selalu sebagai pelaku perusak rumah tangga atau pelakor. Sebaliknya, kisah ini mengajak pembaca untuk melihat sisi kemanusiaan dan perjuangan Karin yang ingin diterima dan membangun ikatan, terutama dengan putrinya, Kinan yang trauma dan kehilangan rasa aman karena perpisahan paksa. Momen ketika Karin mencoba menyapa Kinan dan menawarkan buku dongeng adalah gambaran kecil namun penting tentang bagaimana kasih sayang dan perhatian perlahan bisa membuka hati yang tertutup luka. Saya percaya bagi siapa pun yang mengalami posisi sulit dalam hubungan keluarga, sifat sabar, pengertian, dan ketulusan adalah kunci membangun kembali kepercayaan dan keharmonisan. Cerita ini juga mengingatkan saya akan pentingnya komunikasi antara pasangan dan keluarga sebagai fondasi yang harus dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik berkepanjangan. Jadi, bagi pembaca yang sedang menghadapi dinamika keluarga dengan isu serupa, novel seperti ini bisa menjadi penghibur sekaligus pengingat untuk tetap berjuang dalam kasih dan memahami perasaan semua pihak.

