Ibu kandungku sendiri tega menyiksaku dan adikku. Ini kisahku, runtutan kejadian sebelum adikku menjadi pembu nuh. Kalian harus jadi saksi dari kisah ini.

Bab 5

Dua hari sebelum kejadian naas itu

“Selamat pagi, Ibu. Bagaimana kondisi adik pagi ini?”

“Kami mau pulang sekarang,” balas ibu sedikit kas ar.

Wajah perawat itu langsung berubah.

“Ibu, sebaiknya tunggu dokter dulu. An ak ibu masih perlu—”

“Saya ibunya. Saya tahu kondisi an ak saya,” po tong mama.

“Kita pulang.”

Dan lagi-lagi aku hanya bisa patuh mengikuti perintah mama. Aku mendorong kursi roda Dini sampai ke depan, sementara mama mengambil mobil di parkiran.

Lalu, tiba-tiba sebuah mobil yang baru masuk ke halaman parkir ru mah sa kit mengalihkan perhatian kami semua. Itu mobil papa. Aku tau.

“Dini!” serunya.

Dini menoleh. Matanya langsung berbinar, senyum lebar terbit di wajahnya.

Papa!” Dini merentangkan tangannya, berharap sambutan hangat dari papa. Tapi mama lebih cepat. Mama turun dengan wajah marah. Lalu tangannya langsung mencengkeram lengan Dini, menariknya kas ar.

“Masuk mobil!”

“Tapi, Ma… ”

“Masuk sekarang!” Mama sudah tidak bisa didebat lagi. Dia mendorong Dini masuk ke jok belakang. Aku ikut masuk, pintu tertutup keras. Detik berikutnya, mesin mobil menyala dan mama langsung tancap gas.

Mobil berhenti di depan ru mah. Mama keluar duluan, membanting pintu dan dia masuk ke ru mah tanpa memperdulikan kami. Aku membantu Dini turun. Dini meneteskan air mata sepanjang jalan, tanpa suara. Aku mengerti Dini pasti sangat merindukan papa.

Baru saja aku meletakkan tub uh Dini duduk di sofa, suara mobil lain terdengar terparkir di depan rumah kami.

“Raisa! Jangan seperti ini. Aku hanya ingin melihat anakku!” Suara papa menggelegar memanggil mama. Seperti biasa, tidak ada yang peduli. Tidak ada yang datang untuk membantu kami.

“Kamu selalu menyalahkan aku!” teriak mama. “Padahal semua kegagalan hidupku itu karena kamu!”

“Kegagalan hidupmu? Ya, kau memang sudah gagal. Tapi jangan bawa-bawa an ak-ana k ke dalam kegagalanmu!”

Aku menutup, tapi suaranya tetap menembus. Tidak hanya teriakan yang terdengar, suara barang-barang yang dibanting. Entah gelas, maupun figura, yang pasti semua pe cah. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.

Tu buhku terasa lelah. Bukan lelah fisik. Tapi lelah yang menggerogoti tulang, membuat napas terasa berat.

Aku melirik Dini. Dia duduk di ran jang, punggung bersandar ke dinding, ponsel di tangannya. Jarinya bergerak cepat di layar, wajahnya datar. Tidak ada lagi ekspresi takut ataupun sedih. Seolah semua ini hanyalah kebisingan latar. Dini tampaknya sudah membiasakan dirinya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku pelan.

Dini mengangkat bahu tanpa menoleh. “Biasa.”

Biasa? Perteng karan orang tua yang sudah biasa dianggap oleh anak sekecil Dini. Mungkin batinnya sudah terlalu lelah merasakan sa kit ini. Atau ini salah satu cara Dini membentuk benteng pertahanannya.

Aku duduk di lantai, bersandar ke pintu. Setiap benturan barang membuat punggungku ikut bergetar. Aku memejamkan mata, berharap ketika kubuka nanti, semuanya sudah selesai. Atau lebih baik lagi, tidak pernah terjadi.

Tapi suara itu tidak berhenti. Mama dan papa sama-sama merasa paling benar. Sama-sama merasa paling terlu ka. Tidak ada yang mau mengalah. Semua saling berteriak, tidak ada yang mau mendengar. Aku ingin menangis, tapi air mata terasa sia-sia. Tidak ada yang akan berubah karenanya.

Apakah boleh kalau aku menyebut diri ini sebagai korban?

***

Gimana kelanjutannya ya? Terus membaca di KBM App. Dijamin seru…

Judul: Kenapa Merenggut Nyawa Mama, Dek (Harusnya Papa Saja)

Penulis : sheilaluktri

#Sheilaluktri

#KBM

1/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya, istilah 'ndusel' sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menjadi korban, teraniaya, atau mendapat perlakuan tidak adil, terutama dalam lingkungan keluarga atau sosial. Kisah yang disampaikan ini mengangkat bagaimana rasa sakit dan penderitaan dalam keluarga bisa sangat mendalam dan memengaruhi mental anak-anak yang terlibat. Melalui cerita ini, saya merasa penting untuk memberi wawasan lebih bahwa kasus-kasus seperti ini tidak hanya sebatas kekerasan fisik, tetapi juga perlakuan kasar secara emosional yang berdampak jangka panjang. Sering kali, anak-anak yang menjadi korban seperti Dini di dalam cerita menggambarkan ketabahan yang luar biasa. Mereka mencoba membentuk benteng pertahanan batin agar bisa bertahan dari realitas yang keras dan penuh ketakutan. Namun, di balik ekspresi datar yang tampak, ada luka emosional yang sulit sembuh. Pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa dukungan psikologis dan lingkungan yang aman sangatlah penting agar korban bisa pulih dan melangkah maju. Selain itu, penting untuk memahami kata 'ndusel' yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun membawa arti yang dalam dalam konteks sosial budaya Indonesia. Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan kondisi orang yang dianggap lemah atau menjadi sasaran penindasan. Mengingat arti tersebut, cerita ini menjadi relevan sebagai pengingat untuk lebih peka terhadap perasaan dan situasi mereka yang berada dalam posisi seperti Dini. Pendekatan keluarga atau lingkungan sekitar sangat berperan dalam mengurangi dampak kekerasan dan menyelamatkan anak-anak dari trauma yang berkepanjangan. Saya menyarankan untuk selalu membuka komunikasi dan mencari bantuan profesional ketika menghadapi situasi serupa, agar tidak berlarut-larut dan korban mendapatkan perlindungan yang layak.