Tiktok 3
"Kak, saksi pernikahan Kakak nanti siapa?" tanyaku pada Kak Ayudhia.
"Temen Mas Danu. Bos aku juga, sih."
"Hoooo. Bos Mas Danu juga, dong!"
Kak Ayudhia mengangguk. "Sahabatnya Mas Danu dari kuliah. Tapi, aku nggak tahu. Baru kenal sekarang. Katanya, sih, dulu double degree di Australi juga. Terus, punya perusahaan. Nah, dia nawarin kerjaan ke Mas Danu. Mas Danu terima dengan syarat bisa bantu cari kita sekeluarga."
"Wah, dia perantara kalian, dong. Kalian mesti berterima kasih sama dia, Kak."
"Hahahaha."
"Teman yang baik susah dicari. Mas Danu beruntung punya sohib kayak bos Kak Ayu itu."
"Iya, bener. Meskipun tingkahnya konyol kadang-kadang, dia memang bos dan teman yang baik."
Aku menyesal telah memuji teman baik kakak iparku sekaligus atasan kakak perempuanku itu. Kalau tahu dia orangnya, tidak ada satupun kalimat pujian keluar dari mulutku. Sudah pasti. Yang ada, aku tambah kesal.
Dengan entengnya, si teh chamomile itu menyapaku. Lagi-lagi dia sok akrab.
"Hey, kamu!"
"Berhenti menolak takdir kita, Ayusha. Kita ketemu lagi, kan?"
Mataku mendelik ke atas. Jengah sekali mendengar dia bicara.
"Siapa, ya, Masnya? Oh, temennya Mas Danu, ya? Salam kenal, Mas. Permisi, saya ke sono dulu, acaranya mau mulai."
Dia tertawa terbahak-bahak. Astaghfirullah. Ketawanya kayak orang kesurupan! Ini di dalam mesjid, kan. Kok, bisa-bisanya dia tertawa lebar dengan santai? Sebelum ketularan gi laanya, aku buru-buru menjauh.
Akad nikah berlangsung khidmat. Terlihat jelas kalau Mas Danu sangat mencintai Kak Ayudhia. Sejak dulu, aku sudah tahu dari caranya memandang kakakku itu.
"Mas Danu, selamat, ya. Titip Kak Ayudhia. Bahagiain dia. Kak Ayu udah terlalu banyak berkorban untuk aku dan Ibuk. Aku mau Kak Ayudhia happy sekarang. Makasih, ya, udah berusaha cari kami sekeluarga. Bantu kami juga." kataku sambil berkaca-kaca.
Pemandangan aku yang sedang terharu dan berkaca-kaca rupanya disaksikan oleh si teh chamomile. Dia menghampiriku lagi saat kami sedang menyantap hidangan setelah akad.
"Dunia ini sempit, ya. Siapa yang menyangka kalau ternyata kamu orang yang saya cari."
Aku mengernyit. Ini dia lagi menggombal atau gimana, sih konsepnya?
"Ops, salah. Jangan kegeeran. Maksud saya, kamu adik orang yang saya dan Danu cari selama ini."
"Ish, siapa yang kegeeran."
"Tadi, kayaknya emosional banget ngomong empat mata sama Danu?! Bukan ipar adalah mauut, kan?"
Lambemu. Minta kuro bek kali, ya.
"Emang apa urusannya sama situ? Dia sudah seperti kakak saya sendiri, tetangga saya juga, dan sekarang suami kakak saya. Kalau saya emosional emangnya kenapa?"
"Duh, judes banget, sih, Non."
"Lagian, Masnya, nih ngasal banget kalau ngomong. Segala ipar adalah mauut dibawa-bawa."
"Maaf, deh, maaf. Eh, masnya masnya mulu kalau manggil. Masih inget nama saya nggak?"
Aku melengos pergi. Dia mengekori.
"Apa perlu saya kasih kartu nama saya?"
Aku menggeleng.
"Kamu masih inget, kan nama saya?"
"Teh chamomile.." sungutku. Akhirnya, kujawab juga daripada dia terus bertanya.
Kali ini, dia tertawa lagi. "Nggak apa-apa, deh dipanggil teh chamomile daripada dipanggil, hm... perusak hubungan."
"Hahaha... " tawa garingku menyindirnya. "Lucu banget, Masnya."
"Kamu harus kenal saya, saya emang lucu orangnya."
"Makasih, Mas." kataku sambil berjalan tergesa-gesa.
"Buka blokir whatsapp saya, please."
Aku berbalik. "Maaf, Mas. Saya udah nggak ada hubungan lagi sama Masnya. Urusan bibir Mas yang luka, kan, udah selesai. Jadi, kita nggak perlu bertukar nomor hp lagi."
"Terus saya harus pakai alasan apalagi? Hm, saya ngomong ke ibu kamu, deh sekarang kalau saya mau melamar anaaknya juga. Sekalian, nih mumpung petugas KUA-nya belum pulang."
GE LO!!!
*GE LO: gi laa (dalam bahasa Sunda)
Judul: Diting galkan Calon Suami, Dinikahi CEO Kaya
Penulis: gigha1989
KBM App
Pengalaman dalam novel ini mengingatkan saya pada pentingnya arti sebuah takdir dan bagaimana seseorang bisa menemukan kebahagiaannya dari jalan yang tidak terduga. Seorang tokoh yang awalnya kecewa karena ditinggalkan calon suaminya, justru memiliki kesempatan untuk bertemu dan menikah dengan CEO yang bukan hanya kaya, tapi juga penuh perhatian. Ini menggambarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana kita, namun ada hikmah besar yang tersembunyi bila kita mau membuka hati. Selain itu, kisah ini menonjolkan nilai pentingnya persahabatan dan dukungan keluarga. Teman-teman yang membantu menghubungkan keluarga dan menjadi perantara dalam situasi sulit menunjukkan bahwa bantuan dari orang terdekat sangat berharga. Dalam kehidupan nyata, saya pun pernah merasakan terkadang bantuan sekecil apapun dari orang yang tepat dapat membuka pintu solusi masalah besar. Interaksi antara tokoh 'teh chamomile' yang unik dan sedikit konyol dengan protagonis menambah warna dalam cerita, sekaligus menunjukkan bagaimana kehadiran seseorang yang berbeda dapat memberikan efek positif, meskipun awalnya terasa mengganggu. Penggunaan humor dan candaan dalam suasana serius membuat cerita lebih hidup dan relatable. Cerita ini juga menekankan pentingnya kasih sayang dan pengorbanan dalam keluarga. Ketulusan seorang kakak yang ingin melihat adiknya bahagia dan berjanji menjaga keluarganya menunjukkan kekuatan ikatan darah dan cinta sesama anggota keluarga yang menjadi pondasi ketahanan menghadapi masalah hidup. Secara keseluruhan, novel ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tapi juga pelajaran berharga tentang kehidupan, cinta, dan arti persahabatan. Bagi pembaca yang sedang mencari inspirasi serta cerita cinta yang tidak monoton, kisah ini sangat direkomendasikan karena memberikan kedalaman emosi sekaligus hiburan menarik.

