(8)

"Dinda! Jangan!"

Suara Satria meleng king. Ia melihat Dinda berlari ke arah aspal panas.

Tiiiit!

Suara klakson panjang mengoyak udara. Bus itu mengerem mendadak, menciptakan bunyi decit ban yang memi lukan.

Dinda tidak tertabrak. Bus itu berhenti hanya beberapa senti dari tubuhnya. Dinda jatuh terduduk di tengah jalan, bukan karena han taman logam, melainkan karena jiwanya yang sudah menyerah lebih dulu.

"Kamu gi la! Kamu benar-benar gi la, Dinda!" bisik Satria. Suaranya pecah menjadi tangisan yang tak lagi bisa ia bendung. "Kenapa... kenapa harus begini?"

Dinda tidak membalas pelu kan itu. Tangannya jatuh lunglai di samping tubuh.

"Karena aku ingin bebas, Mas. Dan hanya kema tian yang kalian sisakan untukku."

"Nggak, Dinda. Nggak..." Satria menggeleng kuat-kuat. Ia mengangkat Dinda, menggendongnya menjauh dari jalan raya.

Ibu Lastri mencoba mendekat, wajahnya masih pucat karena rekaman suara tadi. "Satria, bawa dia masuk ke mobil Ayahnya! Urusan rekaman itu bisa kita bicarakan di ru mah secara kekeluargaan!"

Satria berhenti melangkah. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat asing. "Kekeluargaan? Ibu masih berani bicara soal keluarga setelah Ibu mera cuninya dengan pil itu selama tiga tahun?"

"Itu demi kebaikanmu, Satria! Kamu butuh fokus pada perusahaan!" bela Ibu Lastri.

"Ibu tidak butuh a nak. Ibu hanya butuh ahli waris yang bisa dikontrol!"

Satria berteriak, suaranya menggelegar di tengah taman yang kini mendadak sepi.

"Pergi, Bu. Pergi sebelum aku benar-benar lupa kalau Ibu adalah orang yang melahirkanku."

"Satria! Kamu berani mengusir Ibu?"

"Pergi!"

Ibu Lastri terperangah. Dengan wajah merah padam, ia berbalik dan masuk ke mobilnya, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan sendiri.

Satria membawa Dinda menuju mobilnya sendiri. Sesampainya di ru mah, ia langsung mengunci pintu depan, lalu membawa Dinda ke ka mar ma ndi.

"Le pas ba jumu yang basah. Aku akan ambilkan han duk," ujar Satria.

"Kenapa sekarang kamu jadi sangat perhatian, Mas? Apa kontraknya ada bonus kalau aku selamat dari percobaan bu nuh diri?"

"Hentikan, Dinda. Tolong. Aku tidak tahu soal pil itu. Demi Tuhan, aku tidak pernah tahu Ibu sejahat itu."

"Tapi kamu tahu soal perjanjian dengan Ayah. Kamu setuju menjadikanku aset perusahaan," sahut Dinda datar.

"Awalnya, iya. Ayahmu datang padaku, dia bilang kamu punya masalah men tal dan butuh seseorang yang stabil untuk menjagamu. Dia menawarkan saham itu. Saat itu, perusahaanku sedang di ambang bang krut. Aku... aku pengecut, Dinda. Aku mengambil tawaran itu."

Dinda tersenyum miring. "Setidaknya kamu jujur sekarang."

"Tapi seiring berjalannya waktu, aku takut," lanjut Satria. "Aku takut jika aku menunjukkan perasaanku, aku akan melanggar profesionalisme kontrak itu. Aku takut kalau aku mencintaimu, aku akan kehilangan kendali atas diriku sendiri.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku pria kaku yang dibesarkan oleh wanita seperti Ibu, Dinda. Aku tidak tahu cara mencintai seseorang yang begitu... berisik dan penuh warna seperti kamu."

"Berisik. Kamu masih menyebutku berisik."

"Berisik yang aku rindukan!" Satria menegaskan. "Ru mah ini jadi kuburan saat kamu diam. Aku sengaja pulang larut karena aku tidak sanggup melihat wajah bahagiamu yang palsu, karena aku tahu, aku tidak pantas mendapatkan tawa itu."

Dinda terdiam. Ia melihat Satria yang hancur di depannya. Pangeran bisunya akhirnya bicara, tapi kata-katanya datang saat istana sudah rata dengan tanah.

"Aku butuh waktu, Mas. Sendiri."

"Dinda, tapi—"

"Tolong. Keluar," pinta Dinda.

Satria bangkit dengan berat hati, namun tetap menjaga Dinda dari luar. Ia takut istrinya akan melakukan hal nekat lagi.

Dinda menatap pantulan dirinya di cermin . Ia tidak lagi terlihat seperti badut, hanya seorang wanita biasa yang sangat lelah.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari balkon ka mar mereka. Jantungnya berdegup kencang.

.

Bersambung

.

Judul: Menjadi Badut di Depan Mertua, Menangis di Belakang Panggung Sandiwara

Penulis: Etica

#Etica

#KBM

#Novel

1/28 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKisah yang disajikan dalam cerita ini menggambarkan konflik batin yang mendalam antara kehidupan pribadi dan tuntutan profesional, terutama dalam latar keluarga yang penuh tekanan. Dari pengalaman pribadi saya, menghadapi situasi serupa di mana harapan orang tua dan kepentingan bisnis keluarga harus berjalan beriringan, sangatlah berat untuk menjaga keseimbangan hati dan pikiran. Dalam cerita ini, Dinda yang merasa terkekang oleh kesepakatan yang dibuat atas namanya, mencerminkan banyak orang yang merasa kehilangan kebebasan akibat tekanan ekspektasi keluarga atau pekerjaan. Situasi seperti ini sering menimbulkan rasa putus asa, bahkan bisa sampai pada tahap yang sama seperti Dinda—keinginan untuk mencari kebebasan dengan cara terputus dari tekanan tersebut. Sementara itu, Satria yang berusaha keras menjaga kehormatan keluarga dan bisnis, sekaligus menyayangi Dinda, menjadi gambaran sulitnya menjalani peran ganda sebagai penerus perusahaan dan sebagai pasangan yang memperjuangkan kebahagiaan bersama. Ketika seorang pria dibesarkan dengan nilai-nilai kaku, perubahan sikap untuk menerima dan menunjukkan kasih sayang bisa menjadi tantangan tersendiri yang akan memperpanjang ketegangan emosional. Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga terutama ketika menyangkut masalah mental dan kesehatan emosional. Kesalahan sering terjadi ketika anggota keluarga menyembunyikan atau mengabaikan kebutuhan emosional satu sama lain demi menjaga citra profesional atau keluarga. Namun, pada akhirnya, kebahagiaan dan kesehatan mental lebih penting daripada apa pun. Cerita ini mengajak pembaca merenungkan arti cinta sejati yang tidak hanya tentang hadir secara fisik tetapi juga hadir secara emosional, serta bagaimana pentingnya membangun ikatan keluarga yang didasari oleh saling pengertian dan dukungan. Meski kisah ini penuh drama dan konflik, ada harapan bahwa kekuatan cinta dan empati bisa menjadi penyembuh luka batin yang dalam. Saya berharap cerita ini menginspirasi pembaca untuk lebih memahami bahwa tiap orang memiliki pertarungan pribadi yang tidak tampak di luar, dan dukungan dari orang-orang terdekat sangatlah penting untuk mereka yang sedang berjuang dalam kesulitan mental dan emosional. Jangan pernah menganggap remeh kata-kata atau tindakan kecil yang dilontarkan seseorang, karena bisa jadi itu adalah cara mereka mengungkapkan rasa sakit yang tersembunyi.

Cari ·
cara membuat keripik pari