BAB 1

“Papa mana, Nak?” tanyaku sambil mengecu p keningnya.

Ara menunjuk keluar kam ar dengan bibir mungil yang manyun. “Tuh, papa tadi sih masih di mobil. Aku lihat papa lagi pegang p a h a Tante Liska. Kata papa, p a h a tante Liska cakit.”

Deg.

Aku hampir menjat uhkan Ara karena kaget. “Tante… Riska?” suaraku bergetar.

“Iya mah, Tante Liska. ,” jawab Ara polos dengan logat cadel khas anak kecil yang selalu membuatku ingin tersenyum. Tapi kali ini, senyumku tercekat.

Riska. Nama itu membuat da daku sesak. Ia memang sepupuku, sudah setahun ini ting gal bersama kami sejak ia diterima kuliah di salah satu universitas dekat ru mah.

“Mas… mas…” Aku segera berjalan cepat ke arah pintu depan, berusaha memastikan kata-kata Ara barusan.

“Iya sayang… aku di sini,” suara Mas Arga terdengar. Ia baru saja keluar dari ka mar mandi tengah, rambutnya dan wajahnya masih sedikit basah seperti baru saja mencuci muka.

Aku menatapnya lekat-lekat. “Kamu ketemu Riska di mana, Mas? Ara cerita dijemput kamu sama Riska.”

“Oh itu…” Arga menghela napas, lalu duduk santai di sofa ruang tengah. Ia membuka kancing atas kemeja putihnya. “Tadi Riska telepon, minta dijemput. Katanya motornya rusak.” Nada suaranya ringan, seolah tak ada yang perlu dipermasalahkan.

“Trus, Mas tadi kenapa pegang-pegang p a h a Riska, Ara lihat loh.”

“Ara pasti salah lihat, sayang…”bantah Mas Arga, suaranya kembali melunak dengan wajah serba salah.

Ara yang masih di gendonganku langsung menatapku dengan mata bening. “Ara nggak salah lihat, Ma. Papa tadi pegang p a h a nya Tante Liska, Aya lihat sendili.”

“Mas Arga,” Ibu menatap menantunya dengan sorot penuh selidik, “apa betul ucapan Ara?”

“Bu… jangan percaya omongan an ak kecil,” jawab Arga tergesa.

Kata-katanya memenuhi d a d a ku.

“Riska! Kamu jangan b o h o ng!” b e n t ak Ibu, wajahnya memerah.

Ara memel uk leherku erat, merasa tegang dengan suasana. “Mama, Aya takut…” bisiknya pelan.

Aku mengelus rambutnya. “Nggak apa-apa, sayang. Mama ada di sini.”

Arga menatap semua orang di ruangan itu, wajahnya tampak terpojok. “Cukup! Aku nggak mau ada keributan. Riska, mulai besok jangan pulang bareng aku lagi.”

“Baik Mas…” Jawab Riska dengan mata berkaca-kaca.

Aku memandangnya getir. Entah kenapa, aku justru tak percaya sepenuhnya pada ucapannya barusan.

Riska menunduk. “Bude, Riska janji akan jaga sikap, dan gak akan dekat mas Arga lagi. Walaupun selama ini Riska hanya anggap Mas Arga kakak lelakiku.”

“Pegang janjimu!” jawab Ibu tegas.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatiku bingung, bercampur antara ke c e w a pada suamiku, tak percaya pada Riska, dan syukur karena Ibu selalu ada untuk aku.

Saat setahun yang lalu, adik ibuku datang membawa Riska untuk meminta izin ting gal bersama kami di ru mah ini. Karena Ayahnya yang beberapa tahun lalu mening gal dunia, dan kehidupan Bulik Utari biasa aku menyebutnya serba kekurangan.

Akhirnya dengan tangan terbuka aku dan ibuku menerima kedatangan Riska.

Dengan dalih membantu saudara yang hidup serba kekurangan.

Malam itu, setelah semua hening, aku duduk di kamar sambil menatap Ara yang tertidur. Pikiranku penuh pertanyaan. Apakah benar Arga tak bersalah? Atau ia hanya pandai menutupinya? Dan Riska… apakah ia sungguh hanya bercanda, atau memang ada sesuatu yang lebih dalam?

Baca selengkapnya di KBM app

Judul : Saat Doa Istri Sah Menyentuh langit.

Penulis : Win'z

#Winz

#KBM

#Novel

2/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan rumah tangga, masalah seperti kecurigaan dan konflik dapat muncul kapan saja, dan seringkali membawa beban emosional yang berat bagi semua anggota keluarga. Dari kisah ini, kita belajar bagaimana pentingnya komunikasi terbuka dan kepercayaan antara suami, istri, dan anggota keluarga lainnya, terutama ketika ada pihak lain yang tinggal bersama dan ikut terlibat. Salah satu hal yang juga terasa kuat dalam cerita ini adalah peran seorang ibu yang tetap tegar dan menjadi pendukung utama bagi anak dan menantunya. Keberadaannya memberikan rasa aman dan penguat dalam masa-masa sulit yang dihadapi. Ini menunjukkan bagaimana dukungan keluarga besar bisa menjadi pondasi utama dalam menghadapi masalah rumah tangga. Selain itu, dari sudut pandang anak kecil seperti Ara, kita mendapatkan perspektif polos dan jujur yang kadang sulit diabaikan. Anak-anak sering melihat dan mengungkap kebenaran tanpa filter emosional yang rumit, sehingga apapun yang mereka saksikan patut diperhatikan dengan seksama. Tacitly, kisah ini juga mengingatkan pembaca akan pentingnya menjaga integritas dan kejujuran, terutama ketika menghadapi godaan dan situasi yang berpotensi merusak kepercayaan keluarga. Sebagaimana yang tergambar dalam kata-kata kuat pada bagian OCR, ada semangat balas dendam spiritual yang menandai betapa terluka dan besarnya harapan untuk keadilan dan perubahan melalui doa. Saya sendiri pernah mengalami situasi serupa, di mana saya harus berjuang mempertahankan keutuhan keluarga ketika masalah dan fitnah mulai beredar. Apa yang paling saya pelajari adalah, doa dan komunikasi yang tulus adalah senjata paling berharga untuk melewati masa-masa sulit, karena keduanya mampu menenangkan hati dan membuka jalan menuju pemahaman. Untuk pembaca yang menghadapi masalah keluarga, saya sarankan agar jangan takut untuk berbagi dan mencari solusi bersama, serta selalu sediakan waktu untuk mendengar anak-anak dan mereka yang terlibat agar keputusan yang diambil bisa didasarkan pada kebenaran dan kasih sayang. Kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap keretakan, ada kesempatan untuk memperbaiki dan belajar menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.