"Di mana kamu simpan surat tanah itu? Ayolah, kita butuh modal buka usaha. Aku janji, jika kamu jual tanah itu dan membuka usaha, aku akan rajin kerja," rayu Romi, lelaki berusia 28 tahun itu.
"Aku sudah bilang, tidak akan menjual tanah peninggalan orang tuaku, untuk apa kamu memaksaku? Seandainya aku jual pun, belum tentu kamu berubah!" jawab Mia tegas.
"Mia, aku janji akan berubah. Kita buka usaha konter hp dan kamu kalau mau jualan ikan, ya jualan saja, jadi nanti kita akan sama-sama punya pendapatan." Romi tampak meyakinkan istrinya.
"Tidak perlu kuulangi lagi. Kalau mau kerja, ikut aja aku ke pasar jualan, nggak perlu buka konter hp segala." Mia bergegas ke ka mar mandi untuk ambil air wudhu karena waktu Isya’ telah tiba.
Deringan ponsel terdengar nyaring di meja kamar, Mia mendekatinya. Dia tahu ponsel itu milik Romi yang lupa tidak dibawa pergi. Tertera nama Reni di sana. Ada rasa pedih dalam hati wanita muda itu melihat nama yang tertera. Namun, dia membiarkan ponsel itu berdering lalu ma ti sendiri. Tak lama chat masuk dari kontak yang sama.
'Sayang, katanya mau ke sini? Mana? Kok lama sih? Jangan lupa beliin martabak, ya. An akmu ngidam mau makan martabak,' pesan dari kontak bernama Reni.
Bagaikan ditu suk belati, tetapi tidak b e r d a r a h, hati Mia mendidih. Namun, tetap diam membiarkan suaminya bertingkah. Toh, dia tidak akan mendapat apa-apa. Mia meletakkan ponsel itu lagi ke meja lalu mengunci pintu, berharap Romi tidak pulang lagi malam itu.
"Mia, dapat banyak hari ini?" tanya salah satu pedagang ikan lain yang lapaknya berdampingan.
"Alhamdulillah, iya, Bu. Syukur kalau laku semua," jawab Mia ramah kepada sesama penjual di pasar ikan tersebut.
"Semoga laris manis. Kamu wanita yang sangat sabar, Allah pasti akan kasih hadiah, semangat," ujar Bu Nindy, tetangga sesama penjual ikan.
"Aamiin, semoga Bu Nindy juga," jawab Mia mengambil ikan dari drum biru itu dengan serok ikan lalu memilah ikan-ikan sesuai jenis dan besar kecilnya.
Tanpa pikir panjang Mia menerima pinangan Romi, padahal dia sudah tahu Romi tidak memiliki rum ah, kerja di toko, g a j i nggak seberapa, tetapi entah kenapa dia bisa menerima begitu saja.
"Kalau mikir nggak pake logika ya begini, jadi salah pilih suami. Udah pemalas, ka sar, main tangan, jadi b e n a l u, pemalak, dan suka seling kuh. S i a l sekali nasibku," gumamnya dalam penyesalan.
Dengan melakukan aktivitas kesehariannya sebagai penjual ikan, Mia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Karena tahu suaminya malas, bahkan sejak m e n i k a h malah keluar dari toko dan tidak mau bekerja. Kerjanya hanya main, kluyuran, hingga diketahui Romi main perempuan dengan j a n d a tetangga desa hingga hamil.
Di tengah hiruk pikuk pasar ikan, mata Bu Nindy melotot sempurna tatkala melihat dari kejauhan, Romi datang dengan wajah penuh a m a r a h. Dengan sigap, Bu Nindy menarik tas cokelat milik Mia serta u a n g merah yang ada di keranjang u a n g dekat talenan lalu memasukan u a n g - u a n g merah itu dalam tas dan menyembunyikan di bawah kotak tempat duduknya sambil menjawil lengan Mia dan mendongakkan dagu ke arah lelaki tersebut. Wanita setengah baya itu juga m e n d o r o n g box styrofoam melewati batas seolah-olah box tersebut milik Mia yang masih berisi penuh ikan.
"Mana u a n g hasil jualan!" teriak Romi.
Bersambung.
Judul
Dimadu Suami B e n a l u, Diratukan An ak Sultan
Penulis : Zhandriecka


















































