“Kamu nggak lihat apa, ikanku masih segini banyak!” bentak Mia balik tanpa ada rasa takut sedikit pun.

“Jangan bohong! Kamu mau jadi istri d u r h a k a!” bentak Romi menggebrak tutup drum atom tempat Mia menyimpan ikan besarnya.

“Kamu lihat sendiri, ada pembeli kemari nggak?! Lihat! Mereka semua takut gara-gara kamu!” bantah Mia berapi-api.

“Berikan u a n g nya! Cepat!” Romi menarik jilbab instan istrinya hingga hampir copot.

Karena ada keker asan, Pak Anwar, pemilik lapak depan Mia, melempar kepala ikan yang masih b e r d a r a h - d a r a h tepat mengenai kepala Romi hingga bau anyir itu menyeruak di seluruh tu buh lelaki tersebut.

“Kur ang aj ar! Siapa yang melempar?” teriak Romi m a r a h tatkala melihat rambut dan bajunya kotor oleh d a r a h ikan segar yang berbau tersebut.

Pak Anwar menunjukkan p i s a u besar dan t a j a m sambil mendongak dari lapaknya. Lalu menancapkan p i s a u ke talenan kayu sambil menatap Romi.

“Pasar ini milik kami, bukan milik Mia! Jadi kalau kau bikin keributan di sini, maka aku tidak akan segan-segan m e m o t o n g kamu seperti ikan-ikan itu!” ancam Pak Anwar yang berbadan kekar dan berwajah galak tetapi sebenarnya sangat ramah.

“Urusan kita belum selesai!” ancam Romi menunjuk Mia.

Mia masih gemetar melihat keributan yang disebabkan oleh suaminya. Para pembeli yang awalnya ketakutan juga ngeri, kini kembali normal lagi.

“Kau nggak apa-apa?” tanya Pak Anwar pada Mia.

“Tidak, Pak. Terima kasih sudah bantu mengusirnya,” jawab Mia terdengar sedikit ketakutan.

Melihat pintu dapur rusak karena d i d o b r a k Romi, Mia kembali menghela napas. Kesal, sa kit hati, tetapi dia tidak mau menangis. Baginya, air mata itu terlalu mahal jika hanya digunakan untuk menangisi lelaki seperti Romi. Dia hanya memanggil tetangganya yang berprofesi sebagai tukang untuk dimintai tolong membenarkan pintu dapur.

“Pakde, ini dibenerin masih bisa? Terus bagaimana caranya agar lebih kuat kuncinya biar Romi nggak bisa meru saknya lagi?” tanya Mia kepada tetangganya yang bernama Pak Mudi, tetangga samping ru mah yang juga sudah dianggap keluarga sendiri.

“Gampang, ini dibenerin dulu, nanti tambahin palang kayu, pake balok, biar nggak bisa d i d o b r a k sama Romi. Kenapa kamu nggak gugat saja si Romi, sudah jadi suami b e n a l u, perusak, p e m a l a k, lama-lama ajur kamu kalau bertahan sama dia,” gerutu Pak Mudi juga kesal dengan ulah Romi.

“Masih cari bukti, Pakde, buat gugat dia. Nanti kalau sudah cukup bukti, baru aku berangkat. Aku juga nggak mau lama-lama jadi istrinya Romi, kesal lahir batin,” jawab Mia.

Baru saja dia mengunci pintu, terdengar suara motor milik suaminya datang. Segera Mia menyembunyikan u a n g di bawah r a n j a n g tidurnya dan meletakkan tasnya di atas meja.

“Mia! Mia! Buka pintu!” teriak Romi menggedor pintu utama.

Mia segera membuka pintu dan melihat wajah Romi yang sudah memerah menahan a m a r a h m e n c e n g k e r a m leher istrinya dengan kuat.

“Kamu berani minta perlindungan orang-orang pasar? Sekarang, di ru mah siapa yang akan melindungimu!” bentak Romi m e n c e k i k leher Mia, hingga wanita muda itu terbatuk-batuk dan sesak napas dengan mata melotot berurai air mata.

Bersambung.

#2

Judul

Dimadu Suami B e n a l u, Diratukan An ak Sultan

Penulis : Zhandriecka

#Zhandriecka

#Novel . #KBM

2/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan nyata, banyak perempuan seperti Mia yang menghadapi tekanan dan kekerasan dari pasangan dengan latar belakang serupa. Saya pernah mendengar kisah seorang teman yang juga berjuang mempertahankan usahanya di pasar tradisional sambil menghadapi masalah rumah tangga berat. Sama seperti Mia, dia harus berani dan mencari dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk tetangga dan teman-teman yang peduli. Mia menunjukkan sikap kuat dengan tidak menyerah meski sering diintimidasi oleh Romi. Penyelesaian masalah di lingkungan pasar juga menjadi contoh bagaimana solidaritas antarpenjual ikan dapat membantu mengatasi masalah bersama, termasuk mengusir ancaman dan melindungi satu sama lain. Selain itu, penting bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau pemalakan seperti ini untuk mengumpulkan bukti dan mencari jalur hukum, agar bisa mendapatkan perlindungan yang lebih pasti dan menghentikan siklus kekerasan. Banyak organisasi perlindungan perempuan dan layanan hukum yang siap membantu korban kekerasan rumah tangga dan pelecehan. Cerita ini juga mengingatkan kita supaya tidak menyepelekan konflik rumah tangga yang berdampak pada kehidupan sehari-hari, termasuk aspek ekonomi dan keamanan pribadi. Dengan solidaritas dan keberanian, serta langkah hukum yang tepat, perempuan seperti Mia dapat melindungi diri dan keluar dari situasi berbahaya. Kisah Mia tidak hanya sekadar drama, tapi juga refleksi keadaan sosial di mana perempuan sering dipaksa bertahan dalam situasi sulit demi anak dan kehidupan. Dukungan dari tetangga seperti Pak Anwar dan Pak Mudi menjadi kunci penting membantu Mia merasa tidak sendiri dan bisa menghadapi Romi. Ini juga jadi contoh bahwa lingkungan sekitar harus peka dan berani mengambil sikap untuk menghentikan kekerasan.