"Cukup! 20 tahun saja aku dimadu. Sekarang sudah saatnya Abi membawa Nadia dan putranya ke lingkungan pesantren ini. Sandiwara kita sudah waktunya berakhir. Umi akan pergi dari sini.”
Part acak
"Amplop apa itu, Umi?" tanya Arfan heran, dahinya berkerut.
"Amplop gugatan cerai."
"Siapa yang akan menggugat cerai?"
"Umi," jawab Aisyah dingin
" Kenapa Umi melakukan ini?" bentak Arfan. Matanya menyalang.
"Cukup, Abi," ucapnya, suaranya bergetar namun tegas. "Cukup dua puluh tahun saja Umi dimadu." Air mata yang sejak semalam ia tahan, akhirnya mengalir deras. "Umi tidak ingin menambah puing-puing dosa lagi di sisa umur Umi."
Tangan Aisyah yang gemetar meraih amplop coklat yang ia letakkan di meja, lalu menyodorkannya pada Arfan.
Arfan menatap amplop itu, lalu menatap Aisyah dengan tidak percaya. "Dosa? Bukan dosa yang Umi dapatkan. Tapi surga, Umi! Surga karena kesabaranmu!" Suaranya meninggi, menolak kenyataan.
"Umi, Abi mohon jangan lakukan ini!" Ia merebut amplop itu dari tangan Aisyah dan membantingnya ke atas meja kayu, menimbulkan suara yang keras.
Aisyah mengangkat kepalanya. Wajahnya yang basah oleh air mata kini menunjukkan ekspresi yang belum pernah Arfan lihat sebelumnya: sebuah kemuakan yang mendalam.
"Selama dua puluh tahun Umi menahan sa kit, Bi!" Aisyah menepuk da danya dengan kuat. "Abi pikir Umi baik-baik saja setiap kali Abi pergi menemui Nadia? Hati Umi terlu ka! Umi cembu ru! Umi merasa tidak berharga!"
Arfan terdiam, terpu kul oleh kejujuran brutal itu. Ia pikir semuanya baik-baik saja. Ia pikir Aisyah sudah ikhlas, sudah menerima.
"Tugas Umi sebagai ibu sudah selesai," lanjut Aisyah, mengusap wajahnya dengan kas ar. "Alifa, Azizah, Azalia, Annisa, dan Alina, semuanya sudah menikah. Mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Mereka tidak lagi membutuhkan ilusi tentang Ayah yang sempurna. Mereka berhak tahu kebenarannya."
"Sekarang sudah saatnya Abi membawa Nadia dan putranya ke lingkungan pesantren ini. Sandiwara kita sudah waktunya berakhir. Umi akan pergi dari sini."
Arfan panik. Ia mendekat, berlutut, menggenggam tangan Aisyah dengan erat. "Tidak, Mi, tidak. Abi sangat mencintai Umi. Umi adalah Ibu yang hebat, istri yang luar biasa. Umi akan tetap tinggal di sini. Abi tidak mau jauh dari Umi." Ia berbicara selembut mungkin, mencoba merayu, mencoba memutar kembali waktu.
Namun, Aisyah menarik tangannya dengan kuat. "Tidak bisa! Tidak bisa!" Ia menggeleng keras. "Umi akan tetap pergi. Hati Umi akan lebih terluka jika harus melihat Nadia dan a naknya ting gal di lingkungan yang sama dengan Umi."
Aisyah berdiri, mengambil kembali berkas perceraian di atas meja. Ia menyodorkannya sekali lagi pada Arfan. "Kalau Abi memang mencintai Umi, buktikan. Tolong tandatangani surat ini, dan izinkan Umi keluar dari pesantren ini dengan terhormat."
Arfan menatap surat di tangan Aisyah, lalu menatap wajah istrinya yang tak tergoyahkan. Ia melepas pecinya, mengacak-acak rambutnya yang sudah memutih dengan kasar. Wajahnya pucat pasi, bahunya yang tak lagi setegap dulu merosot lemah. Tatapannya kosong dan letih. Ia tidak menyangka, di usia senjanya, ia harus berhadapan dengan meja hijau perce raian.
Pikirannya melayang, kacau. Ia membayangkan wajah kelima putrinya, para bidadari yang selalu memujanya. Bagaimana perasaan mereka ketika mereka tahu rahasia yang ia sembunyikan selama ini? Kebohongan yang menjadi pondasi dari citra "ayah sempurna" mereka?
Ending di KBMApp
Judul : Demi a nak-a nak, Umi Rela Dimadu.
Penulis : Yasmine Bening
Dimadu atau disebut juga poligami dalam konteks tertentu, berarti seorang pria memiliki lebih dari satu istri secara bersamaan. Meski dalam beberapa budaya dan hukum tertentu poligami diperbolehkan, kenyataannya banyak pihak mengalami konflik batin yang mendalam seperti yang dialami Umi dalam cerita ini. Dari pengalaman pribadi dan kisah yang saya dengar, hidup dalam situasi dimadu tidak pernah mudah. Perasaan cemburu, tidak dihargai, dan terpinggirkan sering muncul, bahkan ketika satu pihak berusaha sekuat tenaga menahan sakit demi keharmonisan keluarga. Cerita Umi menunjukkan bagaimana keteguhan hati dan keberanian untuk mengambil langkah berat seperti menggugat cerai bisa menjadi jalan keluar terbaik. Ini bukan hanya tentang melepas hubungan, tapi juga melindungi harga diri dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak. Dalam konteks pesantren dan lingkungan sosial yang ketat, keputusan seperti itu tentu penuh tantangan, namun penting untuk keberlangsungan kebahagiaan dan ketenteraman jiwa. Selain itu, penting untuk memahami perasaan semua anggota keluarga dalam situasi seperti ini: baik istri yang dimadu, sang suami, maupun anak-anak. Komunikasi terbuka dan pengertian bersama adalah kunci agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan secara moral maupun emosional. Kisah ini juga mengangkat pentingnya pengakuan akan perasaan dan kebutuhan masing-masing individu dalam keluarga poligami. Tidak cukup hanya sabar dan bertahan, namun harus ada juga keberanian untuk mengubah keadaan jika itu menentukan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Akhir kata, cerita Umi ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam menghadapi realita keluarga yang kompleks, perlunya kejujuran dengan diri sendiri dan keluarga harus menjadi langkah awal untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati. Jika Anda atau orang terdekat mengalami situasi serupa, jangan ragu untuk mencari dukungan dan solusi terbaik agar hidup lebih bermakna dan sehat secara emosional.

